Ilmuwan menemukan cara baru melacak puing antariksa saat memasuki atmosfer dengan memanfaatkan jaringan sensor gempa di Bumi.
Ringkasan
- Sensor gempa dapat melacak jatuhnya sampah antariksa lewat gelombang kejut.
- Metode ini lebih akurat saat radar dan teleskop gagal bekerja.
- Teknologi ini penting untuk mengurangi risiko lingkungan dan keselamatan manusia.
FENOMENA "hujan" sampah antariksa bukan lagi sekadar bumbu film fiksi ilmiah. Setiap harinya, satelit tua dan bagian roket yang sudah tidak terpakai ditarik oleh gravitasi dan masuk kembali ke atmosfer Bumi.
Masalahnya, memprediksi di mana potongan logam raksasa ini akan mendarat adalah urusan yang sangat rumit dan penuh risiko.
Nah, sebuah terobosan menarik muncul dari penelitian yang dipimpin oleh Benjamin Fernando, pakar dari Department of Earth and Planetary Sciences di Johns Hopkins University.
Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Science awal Januari 2026, tim peneliti menemukan, alat pendeteksi gempa (seismometer) ternyata sangat jago dalam melacak "tamu tak diundang" dari langit tersebut.
Selama ini, kita mengandalkan radar dan teleskop. Sayangnya, saat puing antariksa menembus atmosfer dengan kecepatan tinggi, muncul lapisan plasma panas yang memblokir sinyal radar.
Selain itu, faktor kegelapan malam juga membatasi jarak pandang teleskop.
Jika terjadi kesalahan prediksi, lokasi jatuhnya puing bisa meleset hingga lintas benua. Hal ini sangat berbahaya, terutama jika puing tersebut membawa bahan bakar beracun atau material radioaktif.
"Kita butuh alat yang tetap bekerja saat benda tersebut hancur di atmosfer, bukan hanya sebelum ia masuk," ujar Fernando.
Bagaimana bisa alat pengukur getaran tanah melacak benda di udara?
Rahasianya ada pada suara. Saat puing bergerak dengan kecepatan supersonik, ia menghasilkan dentuman sonik (sonic boom) yang mengirimkan gelombang kejut ke permukaan Bumi.
Ketika gelombang ini menghantam tanah, stasiun seismik akan mencatat sinyal yang unik.
Dengan membandingkan waktu kedatangan sinyal di berbagai stasiun, ilmuwan bisa menyusun ulang jalur, kecepatan, ketinggian, hingga pola hancurnya benda tersebut dengan akurasi tinggi.
Metode ini diuji coba menggunakan kasus jatuhnya modul orbital Shenzhou 15 milik China pada 2 April 2024. Benda seberat 1,5 metrik ton ini awalnya terlihat sebagai bola api terang di atas California Selatan.
Lebih dari 120 stasiun seismik di California dan Nevada berhasil merekam getaran dari sonic boom benda tersebut.
Data menunjukkan bahwa puing itu melesat pada kecepatan Mach 25 hingga Mach 30 (sekitar sepuluh kali lebih cepat dari jet tempur modern) dengan sudut jatuh yang sangat landai.
Mengapa pelacakan cepat ini begitu penting? Melansir dari Scientific American, sampah antariksa yang terbakar melepaskan partikel logam kecil ke udara yang bisa terbawa angin dan mencemari ekosistem.
Benjamin Fernando mengingatkan peristiwa jatuhnya pesawat ruang angkasa Mars 96 milik Rusia tahun 1996. Kala itu, sumber daya radioaktifnya diduga jatuh utuh ke laut, namun lokasinya tak pernah terkonfirmasi.
Belakangan, ilmuwan menemukan jejak plutonium buatan di gletser Chile yang diduga berasal dari puing tersebut.
Dengan sensor gempa, tim penyelamat bisa mengetahui lokasi jatuhnya puing dalam hitungan detik, bukan hari atau minggu.
"Jika puing mengandung bahan radioaktif, mengetahui lokasi jatuhnya dalam 100 detik sangatlah berarti dibandingkan menunggu 100 hari," tegas Fernando.
Di tengah meningkatnya peluncuran satelit secara global, teknologi seismik ini diharapkan menjadi benteng pertahanan baru bagi keselamatan penduduk Bumi dari ancaman sampah ruang angkasa.
Disadur dari Earth.com - Scientists can now track space debris as it falls back to Earth.

Posting Komentar