Rahasia Emosi Orang Cerdas, Tak Selalu Super Empatik

Ulasan ilmiah terbaru menantang anggapan bahwa orang ber-IQ tinggi otomatis sangat empatik secara emosional terhadap orang lain.


Ulasan ilmiah terbaru menantang anggapan bahwa orang ber-IQ tinggi otomatis sangat empatik secara emosional terhadap orang lain.
Ilustrasi: benzoix/Freepik


Ringkasan 

  • Orang dengan kecerdasan tinggi tidak otomatis memiliki empati emosional yang lebih kuat.
  • Mereka cenderung unggul dalam empati kognitif dan regulasi emosi.
  • Empati mereka sering digerakkan oleh prinsip keadilan, bukan reaksi emosional spontan.


SELAMA ini, orang dengan kecerdasan tinggi kerap diasosiasikan dengan kepekaan emosi yang luar biasa. 


Dalam budaya populer, bahkan sebagian literatur psikologi lama, mereka sering digambarkan sebagai sosok “hiper-empatik”, mudah tersentuh, dan sangat peka terhadap perasaan orang lain. 


Namun sebuah tinjauan ilmiah baru justru menyuguhkan gambaran yang lebih rumit, sekaligus membongkar stereotip lama tersebut.


Ulasan yang dipublikasikan di jurnal Intelligence ini ditulis oleh Nathalie Lavenne-Collot, Pascale Planche, serta Laurence Vaivre-Douret dari Université Paris Cité dan INSERM, Prancis. 


Kesimpulannya, orang dengan potensi intelektual tinggi tidak selalu memiliki empati emosional yang lebih kuat, tetapi cenderung mengandalkan bentuk empati lain yang lebih kognitif dan terkontrol.


Tim peneliti memulai kajian ini dari sebuah asumsi yang sudah lama beredar di masyarakat,. kecerdasan tinggi identik dengan sensitivitas emosi tinggi.


Asumsi ini berakar dari teori psikologi klasik tentang emotional overexcitability pada individu berbakat. Namun, menurut para penulis, banyak teori tersebut belum sepenuhnya diuji dengan pendekatan neuropsikologi modern.


Alih-alih mencari jawaban hitam-putih, para peneliti melakukan tinjauan sistematis terhadap berbagai studi yang membahas hubungan antara kecerdasan tinggi dan empati. 


Mereka memecah empati menjadi beberapa komponen, yaitu empati emosional, empati kognitif, regulasi emosi, serta motivasi prososial.


Hasilnya menunjukkan perbedaan penting antara dua jenis empati yang sering disamakan.


Empati Emosional vs Empati Kognitif


Empati emosional adalah reaksi otomatis dan visceral, misalnya ikut merasa sedih saat melihat orang menangis. 


Tinjauan ini menemukan, individu dengan potensi intelektual tinggi tidak menunjukkan tingkat empati emosional yang lebih tinggi dibanding populasi umum. Respons emosional spontan mereka cenderung berada pada tingkat rata-rata.


Sebaliknya, empati kognitif, kemampuan memahami apa yang dipikirkan atau dirasakan orang lain, justru menjadi kekuatan utama kelompok ini. 


Mereka unggul dalam theory of mind, mampu membaca konteks sosial, ekspresi wajah, nada suara, dan bahasa tubuh dengan presisi tinggi. 


Kemampuan verbal dan penalaran yang kuat membuat mereka piawai “menganalisis” emosi orang lain, meski tidak selalu ikut merasakannya secara emosional.


Menurut peneliti, inilah yang sering disalahartikan sebagai empati berlebihan. Orangnya paham, responsnya tepat, tetapi secara afektif tampak datar.


Ketika Otak Mengendalikan Perasaan


Salah satu temuan penting dalam ulasan ini adalah peran regulasi emosi. Individu dengan kecerdasan tinggi umumnya memiliki fungsi eksekutif yang kuat, termasuk kemampuan menghambat respons impulsif. 


Dalam situasi emosional intens, mereka cenderung “menekan” reaksi emosi demi menjaga kejernihan berpikir.


Strategi ini disebut sebagai intelektualisasi emosi memahami emosi secara rasional untuk tetap tenang. 


Dalam konteks tertentu, ini sangat adaptif, misalnya di lingkungan kerja bertekanan tinggi atau saat harus mengambil keputusan penting. Namun, efek sampingnya adalah kesan dingin atau berjarak dalam relasi sosial.


Penelitian lain juga menunjukkan bahwa pola ini berbeda dengan gangguan spektrum autisme


Jika pada autisme terdapat kesulitan membaca isyarat sosial, pada individu berpotensi intelektual tinggi justru sebaliknya, mereka membaca isyarat dengan baik, tetapi mengatur respons emosinya secara ketat.


Menariknya, motivasi empati pada kelompok ini sering tidak bersumber dari dorongan emosional personal, melainkan dari 'sensitivitas terhadap keadilan dan prinsip moral'. 


Mereka lebih tergerak oleh pelanggaran etika atau ketidakadilan sistemik ketimbang penderitaan individu semata. 


Temuan ini sejalan dengan riset sebelumnya yang menunjukkan hubungan antara kecerdasan tinggi dan moral reasoning berbasis prinsip.


Para penulis menegaskan bahwa empati bukan sifat tunggal dan statis. Ia sangat dipengaruhi konteks, motivasi, dan perkembangan individu. 


Salah menafsirkan profil empati orang cerdas sebagai “kurang peduli” bisa berujung pada kesalahan pendidikan maupun klinis.


Alih-alih melatih mereka agar “lebih berempati”, pendekatan yang lebih tepat adalah membantu mereka mengintegrasikan pemahaman kognitif dengan ekspresi emosi yang sehat, tanpa merasa kewalahan.


Disadur dari PsyPost.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama