Bukti Tertua, Manusia Sudah 'Membuat Api' 400 Ribu Tahun Lalu

Bukti arkeologis terbaru menunjukkan manusia sudah 'membuat api' secara sengaja sekitar 400.000 tahun lalu di Barnham, Inggris


Bukti arkeologis terbaru menunjukkan manusia sudah 'membuat api' secara sengaja sekitar 400.000 tahun lalu di Barnham, Inggris.Ilustrasi: muhammad.abdullah/Freepik


Ringkasan

  • Bukti sekarang menunjukkan manusia sudah membuat api secara sengaja 400.000 tahun lalu di Barnham, Inggris.
  • Temuan mencakup sedimen panas, alat batu retak oleh api, dan pyrite yang sengaja dibawa ke situs.
  • Penemuan ini mengubah pemahaman kita tentang evolusi manusia dan kemampuan kognitif hominin kuno. 


TIM arkeolog lintas negara mengumumkan temuan yang benar-benar mengubah buku sejarah evolusi manusia.


Mereka menemukan bukti bahwa manusia prasejarah sudah 'menghasilkan' api secara sengaja sekitar 400.000 tahun yang lalu atau 350.000 tahun lebih awal dibanding bukti sebelumnya. 


Temuan ini berasal dari situs Barnham di Suffolk, Inggris, dan dipublikasikan dalam jurnal Nature.


Di tengah lapisan tanah kuno yang terkubur, para peneliti menemukan sedimen yang dipanaskan, alat batu berupa handaxe yang retak karena panas, serta dua fragmen mineral pyrite. 


Pyrite tidak umum di daerah itu, tetapi dikenal mampu menghasilkan percikan bila dipukul dengan batu seperti flint, teknik yang dipakai manusia prasejarah untuk menyalakan api. 


Apa yang membuat penemuan ini luar biasa bukan sekadar adanya api, melainkan indikasi bahwa api itu sengaja dibuat oleh manusia, bukan hanya dipelihara dari kebakaran alami. 


Paduan bukti sedimen panas, alat yang rusak oleh api, dan pyrite yang dibawa sengaja menunjukkan perilaku kompleks jauh lebih awal dalam sejarah manusia. 


Penguasaan api merupakan salah satu tonggak paling penting dalam evolusi hominin (kelompok yang meliputi manusia dan kerabat dekatnya). Dengan api, manusia dapat:


  • Memasak makanan, sehingga memperluas ragam makanan yang bisa dicerna dan meningkatkan energi bagi otak yang sedang berkembang. 
  • Bertahan di iklim yang lebih dingin, menjaga kehangatan tubuh ketika berburu atau bermukim di wilayah utara seperti Inggris kuno. 
  • Melindungi diri dari predator, serta menciptakan pusat interaksi sosial yang mungkin berkontribusi pada perkembangan bahasa dan budaya. 


Temuan serupa sebelumnya sudah pernah dilaporkan di situs lain, seperti di Prancis sekitar 50.000 tahun lalu, tetapi bukti itu bersifat tidak sekuat temuan di Barnham. 


Kini, dengan fragmen pyrite yang sengaja dibawa ke situs ini, para peneliti menyimpulkan manusia kuno di sana bukan hanya menggunakan api yang sudah ada, tetapi 'menciptakan api mereka sendiri. 


Meskipun hampir tidak ditemukan sisa kerangka di Barnham, para ahli menduga para pembuat api ini adalah Neanderthal awal atau kerabat dekatnya. 


Hal ini didukung oleh bentuk alat batu dan usia lapisan yang sejajar dengan situs lain di Eropa yang menyimpan DNA Neanderthal primitif. 


Profesor Chris Stringer dari Natural History Museum, London, menyatakan bahwa temuan ini menunjukkan kelompok hominin kuno memiliki pengetahuan cukup mendalam tentang sifat bahan.


Misalnya, flint, pyrite, dan material penunjang lainnya untuk menyalakan dan menjaga api, di masa ketika manusia modern (Homo sapiens) sendiri belum keluar dari Afrika


Penemuan ini menunjukkan bahwa kemampuan membuat api bukan hanya alat, tetapi bagian dari strategi bertahan hidup dan evolusi. 


Api memungkinkan manusia kuno memperluas kawasan jelajah mereka, memasak makanan baru, serta mengatur ritme sosial dan budaya yang kompleks jauh lebih awal daripada yang pernah diperkirakan. 


Dengan demikian, penemuan di Barnham tidak hanya menggambarkan artefak kuno yang menarik, ini adalah puzzle penting dalam memahami bagaimana manusia mengembangkan kemampuan yang kemudian menjadi ciri khas peradaban. 


Disadur dari Sci.News.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama