Bukan lagi Krisis Biasa, Dunia Masuk Era Bangkrut Air

PBB memperingatkan bahwa dunia kini memasuki era "Kebangkrutan Air Global" akibat konsumsi air yang jauh melampaui batas kemampuan alam.


PBB memperingatkan bahwa dunia kini memasuki era "Kebangkrutan Air Global" akibat konsumsi air yang jauh melampaui batas kemampuan alam.Ilustrasi: jcomp/Freepik


Ringkasan 

  • Istilah "Kebangkrutan Air" digunakan karena konsumsi air manusia sudah jauh melampaui ketersediaan alami yang bisa diperbarui.
  • Sekitar 75% penduduk dunia kini tinggal di negara dengan status ketahanan air yang rentan hingga kritis.
  • Diperlukan reformasi pertanian besar-besaran dan kemauan politik untuk berhenti menggunakan air secara berlebihan sebelum kerusakan menjadi permanen.


BAYANGKAN saldo tabunganmu di bank terus dikuras tanpa pernah diisi kembali. Kamu pasti tahu apa yang terjadi. Seperti itulah kondisi air kita saat ini. 


Laporan terbaru dari United Nations University (UNU) yang dirilis pada 20 Januari lalu mengungkapkan fakta pahit.


Menurut laporan itu, kita tidak lagi hanya menghadapi "krisis air" yang bersifat sementara, melainkan sebuah "kebangkrutan" sistemik yang mengancam keberlangsungan hidup manusia.


Kaveh Madani, Direktur Institut Air, Lingkungan, dan Kesehatan PBB sekaligus penulis utama laporan ini, menjelaskan bahwa banyak wilayah di dunia kini hidup "di luar kemampuan hidrologis mereka." 


Ibarat sebuah perusahaan, dunia sedang menghabiskan "pendapatan" tahunan dari sungai dan lelehan salju, sekaligus menguras habis "dana simpanan" berupa air tanah dan cadangan bawah tanah.


Berbeda dengan istilah "krisis air" yang sering digunakan untuk menggambarkan peristiwa mendadak seperti kekeringan singkat, "kebangkrutan air" adalah kondisi kronis. 


Ini terjadi ketika kita telah 'berutang' pada alam begitu lama sehingga tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan tanpa menyebabkan kerusakan permanen, seperti amblesnya tanah atau hilangnya gletser selamanya.


Data PBB menunjukkan angka yang mencengangkan. Empat miliar orang menghadapi kelangkaan air parah setidaknya satu bulan dalam setahun. 


Bahkan, hampir 75 persen populasi global kini menetap di negara-negara yang masuk kategori tidak aman secara air.


Laporan ini menyoroti beberapa titik merah. Di Timur Tengah, Teheran hampir kehabisan air sama sekali. 


Di Asia Selatan, terutama India dan Pakistan, penyusutan air tanah akibat pertanian besar-besaran mengancam ekspor beras dunia. 


Jika petani kehilangan air, dampaknya akan terasa hingga ke piring makan kita di belahan dunia lain.


Tak hanya di negara berkembang, Amerika Serikat pun tak luput dari ancaman ini. Aliran Sungai Colorado dilaporkan menyusut hingga 20 persen di abad ke-21 dibanding rata-rata abad sebelumnya. 


Ini memicu konflik antarnegara bagian di Amerika Barat dalam memperebutkan sisa-sisa air yang kian menipis.


Para ahli berpendapat bahwa cara-cara lama seperti sekadar memperbaiki pipa bocor atau kampanye hemat air saat mandi sudah tidak lagi cukup. 


Pemerintah di seluruh dunia harus berani mengubah sistem pertanian melalui pergeseran jenis tanaman dan reformasi irigasi.


"Mengelola kebangkrutan air butuh kejujuran, keberanian, dan kemauan politik," tegas Madani. 


Kita mungkin tidak bisa membangkitkan kembali gletser yang sudah mencair, namun kita masih punya kesempatan untuk mendesain ulang institusi agar bisa hidup dalam batas-batas hidrologis yang baru. 


Ini bukan lagi soal memadamkan api kebakaran, tapi soal membangun kembali sistem keuangan air dunia yang sudah hampir ambruk.


Disadur dari Smithsonian Magazine - United Nations Declares That the World Has Entered an Era of ‘Global Water Bankruptcy.




Post a Comment

Lebih baru Lebih lama