Riset menunjukkan bahwa tinggal di luar negeri bisa mengubah cara otak bekerja dan membuat seseorang lebih kreatif.
Ringkasan
- Penelitian menunjukkan imigran dan orang yang lama tinggal di luar negeri cenderung lebih kreatif dan inovatif.
- Hubungan lintas budaya yang mendalam, bukan sekadar kontak singkat, memperkuat fleksibilitas berpikir.
- Kreativitas muncul dari kemampuan mengaitkan pengalaman berbeda dan melihat dunia dari sudut pandang baru.
HIDUP lintas budaya ternyata bukan hanya memperluas pandangan, tapi juga memicu koneksi otak yang tak biasa, sumber dari ide-ide orisinal dan inovasi besar.
Mengapa banyak pemikir hebat justru datang dari mereka yang hidup jauh dari tanah kelahiran?
Dari Albert Einstein hingga Marie Curie, sejarah sains dan seni penuh dengan nama-nama imigran yang menghasilkan terobosan besar.
Data pun mendukung hal ini. Menurut laporan The Wall Street Journal, warga asing hanya mencakup 13 persen populasi AS, tapi mereka menyumbang hampir sepertiga paten dan seperempat Nobel yang diterima Amerika.
Psikologi kreativitas punya penjelasan menarik: ide-ide besar lahir dari kemampuan menghubungkan hal-hal yang jauh berbeda.
Semakin beragam pengalaman seseorang, terutama lintas budaya, semakin besar peluangnya untuk menemukan kombinasi baru yang brilian.
Hidup di negeri orang memaksa otak beradaptasi, membangun ulang “peta mental”, dan belajar melihat sesuatu dari perspektif baru.
Adam Galinsky, pakar psikologi sosial dari Columbia Business School, telah mempelajari hal ini selama dua dekade.
Dalam studinya bersama Will Maddux, mereka menemukan bahwa perjalanan wisata tidak membuat orang lebih kreatif, tapi hidup di luar negeri, iya.
Semakin lama seseorang tinggal di negara lain, semakin tinggi pula skor kreativitasnya.
Contohnya, para direktur mode papan atas di Milan, Paris, dan New York yang pernah hidup lama di luar negeri cenderung menghasilkan karya lebih orisinal.
Hal yang sama berlaku untuk hubungan pribadi. Menjalin hubungan dekat dengan orang dari budaya berbeda, baik dalam pertemanan atau cinta, meningkatkan fleksibilitas berpikir dan kemampuan mencipta.
Namun, manfaat ini hanya muncul dari keterlibatan mendalam, bukan sekadar interaksi permukaan.
Galinsky menyebutnya sebagai deep cultural engagement, melihat dunia lewat kacamata orang lain hingga benar-benar memahami perbedaan cara berpikir.
Penelitian lain memperluas temuannya: peserta program visa J-1 (yang tinggal di AS selama 6 bulan hingga 5 tahun) terbukti lebih kreatif ketika pulang ke negara asal.
Mereka yang lebih lama tinggal di luar negeri menunjukkan lonjakan jiwa kewirausahaan dan kemampuan berpikir inovatif.
Sayangnya, kebijakan imigrasi yang membatasi masa tinggal mahasiswa atau pekerja asing bisa menghambat proses ini. Kreativitas lintas budaya butuh waktu dan kedekatan. Tanpa itu, potensi inovasi global terancam stagnan.
Disadur dari ZME Science.

Posting Komentar