Platform media sosial seperti TikTok dan Instagram memicu obsesi yang tidak realistis dan tidak sehat terhadap tubuh ramping dan berotot di kalangan banyak pria muda.
ngarahNyaho - Pria yang lebih mementingkan menerima suka dan komentar positif pada postingan mereka sangat berisiko mengalami gejala yang disebut muscle dysmorphia (MD) atau dismorfia otot .
Pria dengan MD percaya bahwa tubuh mereka kecil dan lemah, meskipun banyak dari mereka memiliki penyakit ini justru memiliki fisik yang bagus.
Dalam survei online terhadap hampir 100 pria, berusia antara 18-34 tahun, semuanya mengaku melihat konten selebriti, fesyen, dan kebugaran di situs media sosial.
Hanya saja, MD hanya signifikan jika dikaitkan dengan masukan interaktif yang diterima pria mengenai konten tersebut di platform media sosial.
Lulusan University of South Australia, Luigi Donnarumma, memimpin penelitian yang hasilnya dipublikasikan di New Media & Society tersebut.
Dia mengatakan bahwa temuan ini menghubungkan umpan balik berbasis penampilan di media sosial dengan kekhawatiran mengenai citra tubuh di kalangan pria.
“Penelitian sebelumnya sebagian besar berfokus pada perempuan, namun kini kami melihat bahwa laki-laki juga rentan terhadap tekanan dari gambaran tubuh ideal di dunia maya,” kata Donnarumma.
“Dismorfia otot adalah masalah yang sedang berkembang," lanjut dia seperti dikutip dari EurekAlert.
"Penelitian kami menunjukkan bahwa media sosial bukan hanya sebuah platform untuk berbagi konten: media sosial adalah sumber validasi sosial yang dapat secara signifikan memengaruhi cara pria muda memandang tubuh mereka.”
Penelitian ini menemukan bahwa 19 persen peserta survei mendapat nilai di atas ambang batas MD. Itu menunjukkan, para pria muda ini mempunyai risiko besar memiliki idealisme yang tidak realistis tentang tubuh mereka.
Rekan penulis, dosen UniSA, Dr John Mingoia mengatakan penelitian ini menyoroti perlunya lebih banyak kesadaran akan risiko psikologis yang terkait dengan penggunaan media sosial.
“Pria sering kali dihadapkan pada idealisme yang berlebihan secara online, terutama melalui konten kebugaran dan selebriti,” kata Mingoia.
“Ketika postingan ini menarik banyak suka dan komentar positif, hal tersebut memperkuat pesan bahwa ini adalah standar tubuh yang harus diperjuangkan oleh pria.
"Seiring waktu, hal ini dapat menyebabkan perilaku berbahaya seperti olahraga berlebihan, pembatasan makan, dan bahkan penggunaan steroid,” Mingoia menjelaskan.
Para peneliti berpendapat, mengurangi perhatian terhadap postingan media sosial mungkin menjadi salah satu cara untuk memerangi dismorfia otot, selain inisiatif kesehatan mental untuk mengatasi masalah ini. |
Sumber: EurekAlert

إرسال تعليق