Lapak Baru Nyamuk: Perubahan Iklim Ubah Peta Malaria di Afrika

Perubahan iklim mulai menggeser risiko malaria di Afrika. Sebagian wilayah makin cocok bagi nyamuk, sementara wilayah lain justru terlalu panas.


Perubahan iklim mulai menggeser risiko malaria di Afrika. Sebagian wilayah makin cocok bagi nyamuk, sementara wilayah lain justru terlalu panas.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Pemanasan sejak 1901 sedikit meningkatkan prevalensi malaria di Afrika Timur dan selatan, tetapi menurunkannya di Afrika Barat.
  • Secara keseluruhan, perubahan iklim menyebabkan sekitar 1 kasus tambahan per 1.000 anak sejak 1901.
  • Hingga 2100, pemanasan dapat semakin menggeser persebaran malaria, sehingga pencegahan perlu disesuaikan dengan perubahan kondisi tiap wilayah.


MALARIA tidak sekadar soal ada atau tidak ada nyamuk. Suhu juga menentukan apakah parasit penyebab malaria dan nyamuk penularnya bisa menjalankan siklus hidup dengan efektif.


Secara umum, penularan malaria berlangsung pada kisaran suhu sekitar 16–34°C. Karena itu, ketika suhu berubah, peta wilayah yang cocok untuk malaria ikut berubah. 


Di daerah yang sebelumnya terlalu dingin, sedikit pemanasan dapat membuat kondisi lebih ramah bagi nyamuk dan parasit. 


Sebaliknya, di daerah yang sudah panas, tambahan panas justru bisa membuat lingkungan terlalu ekstrem untuk penularan.


Temuan terbaru dalam jurnal Nature memperjelas hubungan tersebut. 


Peneliti menganalisis 50.425 survei malaria yang mencakup lebih dari satu abad, dari 1900 hingga 2016, kemudian menghubungkannya dengan data iklim. 


Mereka secara khusus melihat prevalensi Plasmodium falciparum pada anak usia 2–10 tahun. 


Hasilnya menunjukkan pola yang tidak seragam. 


Perubahan iklim akibat aktivitas manusia kemungkinan meningkatkan prevalensi malaria di Afrika Timur dan Afrika bagian selatan, termasuk wilayah yang sebelumnya suhunya belum optimal bagi penularan.


Sebaliknya, sebagian Afrika Barat dan Afrika Tengah justru menjadi terlalu panas. Akibatnya, kondisi yang dibutuhkan nyamuk dan parasit untuk menularkan malaria menjadi kurang ideal.


Secara keseluruhan, efek historisnya memang kecil: sekitar 1 kasus tambahan per 1.000 anak sejak 1901. 


Peneliti memperkirakan perubahan itu hanya menyumbang sebagian sangat kecil dibandingkan penurunan malaria yang terjadi berkat program pengendalian penyakit.


Termasuk juga, peningkatan ekonomi, pengobatan, kelambu antinyamuk, dan berbagai upaya pemberantasan lainnya. 


Dengan kata lain, perubahan iklim bukan satu-satunya, apalagi faktor terbesar, yang menentukan nasib malaria. Tetapi ia sedang menggeser medan permainannya.


Peneliti kemudian membuat proyeksi hingga 2100. Di Afrika Barat, pemanasan diperkirakan terus menekan prevalensi malaria. 


Di beberapa wilayah Afrika Timur dan selatan, sebaliknya, risiko dapat tetap meningkat atau bertahan lebih tinggi dibandingkan saat ini. 


Dalam skenario emisi tinggi, penurunan prevalensi di Afrika Barat dan Tengah bahkan bisa cukup besar. 


Namun, ada jebakan dalam kabar yang sekilas terdengar menyenangkan ini.


Jika suatu wilayah menjadi terlalu panas bagi malaria, itu bukan berarti manusia otomatis menjadi lebih sehat. Suhu ekstrem sendiri membawa berbagai risiko kesehatan. 


Jadi, agak ironis jika kita berharap pemanasan global membantu memberantas malaria, karena “obatnya” adalah panas yang juga dapat membuat manusia semakin kesulitan hidup.


Karena itu, para peneliti menekankan pentingnya melihat perubahan ini sebagai pergeseran beban penyakit, bukan sekadar penurunan jumlah kasus secara keseluruhan. 


Wilayah yang selama ini relatif aman bisa membutuhkan sistem pengawasan malaria yang lebih serius.


Kabar baiknya, perubahan iklim bukan berarti malaria pasti menang. 


Studi tersebut menunjukkan bahwa pengendalian vektor, pengawasan penyakit, layanan kesehatan, pembangunan ekonomi, dan program pemberantasan dapat mengimbangi bahkan melampaui dampak iklim di banyak wilayah. 


Dengan strategi pengendalian yang konsisten, para peneliti menilai malaria masih mungkin dieliminasi dari sebagian besar Afrika pada sekitar 2050.


Disadur dari laman Eos - Climate Change Will Reshape Malaria Prevalence Across Africa yang diakses pada Agustus 2026.




Post a Comment

Lebih baru Lebih lama