Alasan Kita Mau Bantu Orang Asing Menurut Hasil Riset Ilmuwan

Riset menunjukkan bahwa orang cenderung lebih rela menolong orang asing yang tampak ramah serta bertanggung jawab karena menganggap mereka menyenangkan.


Riset menunjukkan bahwa orang cenderung lebih rela menolong orang asing yang tampak ramah serta bertanggung jawab karena menganggap mereka menyenangkan.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan 

  • Sifat ramah dan terlihat bertanggungjawab menjadi tolok ukur utama saat seseorang menentukan apakah orang asing layak dibantu atau tidak.
  • Keinginan untuk menolong muncul terutama karena sifat-sifat positif tersebut membuat si asing terlihat lebih disukai dan dapat diandalkan, bukan sekadar karena ada kemiripan sifat.
  • Orang yang dasarnya ramah atau teliti jauh lebih peka dan makin terdorong untuk membantu orang asing yang punya sifat positif serupa.


MENOLONG orang asing di jalan sering kali dianggap sebagai bentuk kebaikan murni tanpa pamrih. Namun, jujur saja, otak kita secara intuitif tetap melakukan kalkulasi singka.


Kita via: apakah orang asing ini layak dibantu, atau justru malah merepotkan kehidupan kita yang sudah cukup rumit ini?


Studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Evolutionary Psychological Science mengungkap bagaimana kita memilih siapa yang berhak menerima uluran tangan. 


Penelitian yang dipimpin oleh Ryo Oda ini menunjukkan bahwa manusia lebih berpeluang membantu orang asing yang memancarkan aura ramah (agreeable) dan bertanggung jawab (conscientiousness).


Dalam kehidupan sosial, kita tidak bisa langsung menebak tabiat asli orang yang baru ditemui. Menurut peneliti, di sinilah petunjuk kepribadian berperan sebagai "sinyal sosial".


Sifat agreeableness, yang identik dengan empati dan kepedulian, memberi sinyal bahwa orang tersebut hangat dan aman diajak berinteraksi. 


Sementara itu, conscientiousness mencerminkan keteraturan, kontrol diri, dan keandalan. Singkatnya, kita cenderung enggan menolong orang yang terlihat seperti bakal bikin masalah baru di kemudian hari.


Dalam eksperimennya, Oda menguji 120 partisipan dewasa di Jepang. Mereka diminta menilai kesediaan menolong 40 profil kepribadian rekaan dalam empat skenario: 

  • masalah keuangan, 
  • bahaya di lintasan kereta api, 
  • membawa barang bawaan berat, 
  • hingga sekadar menjadi pendengar curhat.


Hasilnya cukup jelas: profil yang digambarkan teliti dan ramah mendapatkan skor kesediaan dibantu yang jauh lebih tinggi. 


Menariknya, sifat ekstraversi (mudah bergaul) atau keterbukaan (openness) ternyata tidak terlalu memengaruhi keputusan orang untuk memberikan bantuan.


Analisis lebih lanjut mengungkap bahwa motivasi utama di balik bantuan ini adalah rasa suka. 


Sifat ramah dan bertanggung jawab membuat seseorang terlihat lebih menyenangkan dan dapat diandalkan, yang pada akhirnya memicu simpati untuk menolong. 


Selain itu, orang yang dasarnya memang ramah atau bertanggung jawab terbukti paling sensitif dan makin murah hati ketika melihat sifat-sifat baik tersebut pada diri orang lain.


Meski begitu, penelitian ini memiliki batasan karena baru mengukur niat hipotetis dalam skenario buatan, bukan perilaku nyata di lapangan saat ada risiko atau biaya riil yang harus ditanggung.


Namun setidaknya, riset ini memberi pelajaran sederhana: jika suatu hari Anda tersesat atau butuh bantuan di tempat umum, pastikan Anda tidak tampak seperti orang jahat yang menyebalkan.


Disadur dari PsyPost – People are more willing to help strangers they perceive as agreeable or conscientious yang diakses pada Agustus 2026.



Post a Comment

Lebih baru Lebih lama