Studi genetik raksasa terhadap jutaan orang membuktikan bahwa kepribadian manusia jauh lebih kuat dibentuk oleh lingkungan dibanding garis keturunan.
Ringkasan
- Genetik hanya menyumbang sekitar 7,4 hingga 10,6 persen perbedaan kepribadian antarindividu.
- Peneliti menemukan 1.260 varian genetik, tetapi pengaruh tiap-tiap gen ternyata amat sangat kecil.
- Faktor lingkungan, budaya, dan pengalaman hidup memegang peranan terbesar dalam membentuk karakter seseorang.
BANYAK dari kita terbiasa menyalahkan genetik saat memiliki sifat gampang cemas, pemalu, atau pemarah. Namun, riset mengenai Big Five personality traits di jurnal Nature mematahkan asumsi tersebut.
Riset ini dipimpin oleh psikolog Ted Schwaba (Michigan State University) bersama Michel Nivard (University of Bristol) dan Elliot Tucker-Drob (University of Texas at Austin).
Mereka menganalisis data genetik serta kepribadian milik sekitar 1,14 juta orang dari 46 kohort.
Penelitian ini berfokus pada lima dimensi kepribadian utama: ekstraversi, keramahan (agreeableness), kehati-hatian (conscientiousness), neurotisisme, dan keterbukaan terhadap pengalaman (openness).
Melalui analisis pemetaan genom (genome-wide association study/GWAS), para ilmuwan berhasil mengidentifikasi 1.260 varian genetik utama yang berkaitan dengan sifat-sifat tersebut.
Sebanyak 824 di antara varian tersebut merupakan temuan baru.
Meskipun angkanya terdengar fantastis, tidak ada yang namanya "gen tunggal pembenci sosial" atau "gen introvert". Efek tiap varian genetik sangatlah tipis.
Secara akumulatif, variasi genetik hanya menjelaskan sekitar 7,4 hingga 10,6 persen perbedaan kepribadian antarindividu.
Bahkan ketika dipakai untuk memprediksi sifat seseorang di kelompok lain, tingkat akurasinya kurang dari 4 persen.
Untuk memastikan hasil ini bukan sekadar akibat pola asuh keluarga, peneliti membandingkan saudara kandung dan kembar fraternal.
Hasilnya konsisten, gen memang memiliki pengaruh, tetapi lingkungan sosial, pengasuhan, budaya, hingga pola makan tetap menjadi "dalang utama".
Uniknya, riset ini juga menemukan korelasi antara sifat dan dinamika kehidupan.
Orang yang sangat ekstraver, misalnya, terdeteksi memiliki risiko infeksi COVID-19 lebih tinggi pada masa awal pandemi, kemungkinan karena kebutuhan interaksi sosial mereka yang lebih tinggi memicu keterpaparan lebih sering.
Jadi, kalau hari ini kamu merasa menjadi seorang penyendiri yang sinis dan pesimis, jangan buru-buru menyalahkan DNA orang tuamu.
Genetik mungkin sekadar memberi cetakan dasar yang samar, tetapi pengalaman hidup dan lingkinganlah yang rajin menaburkan drama serta trauma hingga membentuk kepribadianmu saat ini.
Jika benar-benar ingin memahami kepribadian diri sendiri, melakukan tes psikologi daring gratis jauh lebih berguna ketimbang membaca sekuens DNA-mu.
Disadur dari ScienceAlert - Everyone Assumes DNA Shapes Your Personality. It Turns Out Something Else Is Doing Most of The Work yang diakses September 2026.

Posting Komentar