Bukan Pria, "Dukun" Zaman Perunggu yang Terkenal Itu Ternyata Seorang Perempuan

Arkeolog menemukan bahwa kerangka berusia 4.000 tahun dari Upton Lovell, yang lama dikira dukun pria, ternyata seorang perempuan pengrajin emas.


Arkeolog menemukan bahwa kerangka berusia 4.000 tahun dari Upton Lovell, yang lama dikira dukun pria, ternyata seorang perempuan pengrajin emas.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Analisis DNA terbaru menunjukkan kerangka memiliki kromosom XX, sehingga secara genetik merupakan perempuan.
  • Artefak makam yang dulu dianggap perlengkapan dukun kini diduga merupakan seperangkat alat pengolahan emas.
  • Temuan ini mengubah pandangan tentang peran perempuan dalam masyarakat Zaman Perunggu sekaligus mengoreksi asumsi lama arkeologi.


SELAMA lebih dari 200 tahun, dunia arkeologi mengenal sosok yang dijuluki "Upton Lovell Shaman" sebagai seorang dukun laki-laki dari Zaman Perunggu.


Julukan itu muncul setelah arkeolog Inggris William Cunnington menggali makam tersebut pada 1803 di Upton Lovell, sekitar 16 kilometer di sebelah barat Stonehenge, Inggris.


Saat itu, Cunnington menyimpulkan bahwa kerangka tersebut milik pria bertubuh kekar.


Kesimpulan tersebut didasarkan pada bentuk tulang yang terlihat kokoh serta barang-barang mewah yang dikuburkan bersamanya, seperti senjata, perkakas berhias emas, dan jubah dekoratif.


Namun, perkembangan teknologi berhasil membalik anggapan yang telah bertahan selama dua abad itu.


Tim peneliti menggunakan teknik analisis DNA modern terhadap sampel dari tengkorak, gigi, dan tulang jari kaki. Hasilnya menunjukkan adanya kromosom XX, yang merupakan ciri genetik perempuan.


Selain itu, penelitian juga mengungkap, perempuan tersebut hidup sekitar 4.000 tahun lalu, kemungkinan berusia sekitar 45 tahun saat meninggal, menderita radang sendi (arthritis), dan bekerja sebagai pengrajin logam.


Pengumuman mengenai hasil penelitian ini disampaikan oleh Wiltshire Museum, museum di Inggris yang kini menyimpan kerangka tersebut. Rincian ilmiahnya dijadwalkan diterbitkan dalam jurnal ilmiah.


Bukan hanya identitas jenis kelaminnya yang berubah. Julukan "shaman" atau dukun spiritual pun kini mulai dipertanyakan.


Keraguan itu muncul setelah penelitian pada 2022 meninjau kembali berbagai benda yang ditemukan di dalam makam.


Analisis terhadap artefak batu dan paduan tembaga yang mengandung sisa emas menunjukkan bahwa benda-benda tersebut lebih cocok diinterpretasikan sebagai peralatan pengerjaan emas, bukan perlengkapan ritual keagamaan.


Dengan kata lain, penghuni makam kemungkinan adalah seorang pandai emas atau pengrajin logam berstatus tinggi, bukan pemimpin spiritual.


Direktur Wiltshire Museum, David Dawson, mengatakan kepada The Guardian bahwa keahlian mengolah logam pada masa itu bisa disamakan dengan teknologi mutakhir saat ini.


Menurutnya, masyarakat mungkin menguburkan perempuan tersebut bersama seperangkat alat kerjanya sebagai bentuk penghormatan sekaligus bekal menuju alam setelah kematian.


Perubahan identitas ini memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar memperbaiki label sebuah kerangka.


Peneliti Tom Booth dari Francis Crick Institute menjelaskan kepada CNN bahwa selama ini banyak makam perempuan lain yang ditemukan di sekitar lokasi diasumsikan sebagai istri dari laki-laki penting.


Asumsi tersebut muncul karena kerangka Upton Lovell dianggap milik seorang pria terpandang.


Kini, dasar pemikiran itu ikut runtuh. Menurut Dawson, temuan baru ini benar-benar "mengacak ulang" pemahaman lama mengenai struktur sosial masyarakat Zaman Perunggu.


Booth juga menambahkan bahwa perempuan tersebut memiliki tubuh lebih tinggi daripada rata-rata perempuan pada zamannya. Selain itu, jika perkiraan usianya benar, ia kemungkinan telah memasuki masa menopause.


Perubahan hormonal setelah menopause dapat membuat struktur tulang perempuan menjadi lebih menyerupai laki-laki, sehingga meningkatkan kemungkinan salah identifikasi apabila hanya mengandalkan bentuk kerangka.


Kasus Upton Lovell menunjukkan bagaimana kemajuan ilmu pengetahuan mampu memperbaiki interpretasi sejarah.


Pada awal abad ke-19, para arkeolog belum memiliki teknologi analisis DNA sehingga identifikasi jenis kelamin hanya mengandalkan bentuk tulang dan barang-barang yang dikuburkan bersama jenazah.


Pendekatan itu ternyata rentan dipengaruhi stereotip modern, misalnya menganggap pemilik senjata pasti laki-laki, sedangkan pemilik perhiasan pasti perempuan.


Ahli klasik Mary Beard, yang terlibat dalam kurasi pameran, mengatakan kepada The Guardian bahwa arkeologi selama ini kerap menafsirkan jenis kelamin berdasarkan asumsi tentang peran sosial laki-laki dan perempuan.


Analisis DNA kini membantu para ilmuwan menguji kembali asumsi tersebut dan membangun gambaran yang lebih akurat mengenai kehidupan manusia pada masa lampau.


Temuan ini menjadi pengingat bahwa sejarah bukan kumpulan fakta yang sepenuhnya tetap.


Seiring berkembangnya teknologi dan metode penelitian, pemahaman kita tentang masa lalu juga dapat berubah, bahkan terhadap tokoh yang telah dikenal selama lebih dari dua abad.


Disadur dari laman Gizmodo - Archaeologists Thought This Famous Bronze Age Shaman Was a Guy. Well, She Wasn’t yang diakses pada Juli 2026.




Post a Comment

Lebih baru Lebih lama