Ya, Rasa Percaya Diri Ternyata Bisa Menular

Bergaul dengan orang yang sangat percaya diri ternyata dapat membuat kita ikut lebih yakin, bahkan saat mengambil keputusan sendirian.


Bergaul dengan orang yang sangat percaya diri ternyata dapat membuat kita ikut lebih yakin, bahkan saat mengambil keputusan sendirian.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Kepercayaan diri dapat “menular” melalui interaksi sosial.
  • Efeknya bisa bertahan setelah kita tidak lagi bersama orang tersebut.
  • Namun, penelitian ini belum membuktikan bahwa rasa percaya diri secara umum akan bertahan dalam jangka panjang.


DI antara kita mungkin pernah mengalaminya, entah bagaimana, berada di dekat teman yang penuh keyakinan membuat kita ikut merasa lebih mantap. 


Sekarang, intuisi semacam itu mendapat dukungan dari sebuah eksperimen psikologi yang cukup unik. 


Peneliti dari Birkbeck, University of London menemukan bahwa tingkat kepercayaan diri seseorang dapat bergeser mengikuti orang lain yang berinteraksi dengannya. 


Dalam penelitian yang diterbitkan di Current Biology, para peneliti melibatkan 204 peserta dalam dua eksperimen. 


Mereka diminta melihat sekumpulan titik yang bergerak di layar komputer, kemudian menentukan arah pergerakannya dan menilai seberapa yakin mereka terhadap jawaban tersebut. 


Setelah mengerjakan tugas sendirian, peserta mengulanginya bersama seorang “partner”. 


Partner tersebut sebenarnya bukan manusia, melainkan algoritma komputer yang diprogram untuk terlihat percaya diri atau justru ragu-ragu. Peserta tidak mengetahuinya.


Hasilnya cukup mencolok. Mereka yang berinteraksi dengan partner yang percaya diri cenderung meningkatkan keyakinan terhadap keputusan mereka sendiri. 


Sebaliknya, peserta yang dipasangkan dengan partner yang kurang yakin justru ikut menurunkan tingkat kepercayaan dirinya. 


Yang lebih menarik, efek itu tidak langsung menghilang ketika partner “menghilang”. 


Ketika peserta kembali mengerjakan tugas seorang diri, mereka yang sebelumnya berinteraksi dengan partner percaya diri masih menunjukkan tingkat keyakinan yang lebih tinggi dibandingkan kelompok yang berinteraksi dengan partner ragu-ragu. 


Artinya, peserta bukan sekadar berpura-pura lebih percaya diri demi terlihat keren di depan orang lain. 


Interaksi sosial tampaknya benar-benar dapat mengubah penilaian internal tentang seberapa yakin seseorang seharusnya merasa terhadap keputusan yang dibuatnya.


Para peneliti menduga otak terus belajar dari sinyal yang berasal dari diri sendiri sekaligus orang lain. 


Dengan kata lain, ketika melihat seseorang begitu yakin, kita mungkin secara tidak sadar memperbarui “patokan” tentang tingkat keyakinan yang dianggap wajar. Percaya diri, rupanya, bukan sepenuhnya urusan pribadi. 


Temuan ini juga dapat membantu menjelaskan mengapa kelompok tertentu bisa memiliki budaya kepercayaan diri yang sangat kuat. 


Peneliti mencontohkan lingkungan seperti kelompok pedagang finansial, yang dikenal memiliki tingkat keyakinan tinggi. 


Jika orang-orang percaya diri berkumpul dan saling memperkuat, rasa yakin itu berpotensi menjadi semacam efek bola salju


Tentu saja, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa cukup nongkrong dengan orang paling percaya diri di kantor lalu kita otomatis berubah menjadi CEO. 


Penelitian ini menguji kepercayaan diri dalam tugas persepsi tertentu, bukan rasa percaya diri secara umum dalam kehidupan. 


Selain itu, penelitian belum mengukur apakah efek tersebut bertahan berbulan-bulan atau bertahun-tahun. 


Jadi, mungkin memang ada alasan ilmiah untuk memilih lingkungan pergaulan dengan lebih hati-hati. 


Sebab selain tertular kebiasaan, gaya bicara, atau selera humor, kita mungkin juga ikut “terinfeksi” oleh tingkat keyakinan orang-orang di sekitar kita.


Disadur dari BBC Science Focus - A seriously weird study just proved confidence is contagious yang diakses pada Agustus 2026.




Post a Comment

Lebih baru Lebih lama