Jamur Lanmaoa asiatica ternyata dapat memicu halusinasi sangat nyata berupa puluhan hingga ratusan manusia mini, meski zat penyebabnya masih misterius.
Ringkasan
- Halusinasi biasanya muncul setelah jamur dimakan kurang matang.
- Sosok yang terlihat umumnya hanya beberapa sentimeter hingga sekitar 30 sentimeter dan tampak berinteraksi dengan lingkungan.
- Analisis genom tidak menemukan gen penghasil psilosibin atau asam ibotenat, sehingga kemungkinan ada senyawa psikoaktif baru.
SIAPA sangka dongeng kuno tentang peri, kurcaci, atau manusia kerdil yang tersebar di berbagai belakangan belahan dunia ternyata bukan sekadar fantasi pengantar tidur.
Para ilmuwan baru saja memecahkan teka-teki ilmiah yang menghubungkan legenda rakyat tersebut dengan sebuah spesies jamur psikoaktif.
Bayangkan sedang makan sup jamur, lalu tiba-tiba puluhan manusia kecil berwarna-warni berlarian di atas meja.
Mereka tidak sekadar melayang seperti bayangan; sosok-sosok itu seolah benar-benar mengikuti hukum fisika, berjalan mengitari benda, jatuh dari tepi meja, bahkan melompat dari sendok ke dalam mangkuk.
Pengalaman aneh semacam ini dikaitkan dengan Lanmaoa asiatica, jamur yang tumbuh di China bagian barat daya dan juga ditemukan di wilayah terpencil Filipina.
Di Provinsi Yunnan, China, jamur ini dikenal sebagai jian shou qing dan justru merupakan bahan pangan yang cukup populer.
Masalahnya, jika dimakan kurang matang, makan malam bisa berubah menjadi semacam pertunjukan sirkus mini di ruang makan.
Menurut Colin Domnauer, peneliti mikologi dari University of Utah, orang yang mengalami efek tersebut biasanya melihat puluhan, bahkan ratusan, sosok berukuran sekitar 3 hingga 30 sentimeter.
Sekitar 90 persen laporan menggambarkan mereka sebagai peri, elf, badut, atau figur mungil lain dengan pakaian warna-warni.
Yang membuat fenomenanya semakin menarik adalah konsistensi pengalaman tersebut pada orang dan budaya yang berbeda.
Fenomena melihat manusia atau makhluk mungil ini dikenal sebagai halusinasi Lilliputian, istilah yang diperkenalkan oleh seorang psikiater Prancis pada 1909.
Nama tersebut merujuk pada negeri Lilliput dalam Gulliver’s Travels, tempat manusia berukuran sangat kecil hidup.
Untuk mencari tahu penyebabnya, Domnauer dan ahli biologi Bryn Dentinger menganalisis genom 53 spesimen dari genus Lanmaoa.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Mycologia itu mengidentifikasi total 17 spesies dalam genus tersebut, termasuk empat spesies yang sebelumnya belum dikenali.
Namun, ada kejutan. L. asiatica tidak memiliki gen yang biasanya berkaitan dengan produksi psilosibin maupun asam ibotenat, dua senyawa yang dikenal dapat memengaruhi persepsi dan kesadaran.
Artinya, jamur ini tampaknya tidak menggunakan “resep” yang sama dengan jamur psikedelik yang sudah lebih dikenal.
Para peneliti menduga ada senyawa psikoaktif baru yang belum berhasil diidentifikasi.
Dengan kata lain, setelah membongkar cetak biru genetiknya, ilmuwan justru menemukan bahwa bagian paling menarik masih belum punya nama.
Halusinasi Lilliputian ternyata tidak hanya berkaitan dengan jamur. Fenomena serupa pernah dilaporkan pada kondisi seperti putus alkohol, demensia, degenerasi makula, dan sejumlah gangguan neurologis.
Karena itu, para peneliti menduga fenomena tersebut mungkin berkaitan dengan mekanisme dasar cara otak membangun persepsi visual.
Menariknya, laporan mengenai figur manusia kecil juga muncul dalam tradisi budaya yang berjauhan, termasuk Papua Nugini dan wilayah lain.
Temuan L. asiatica memberi petunjuk bahwa setidaknya sebagian cerita tersebut mungkin memiliki dasar biologis, bukan semata-mata hasil imajinasi kolektif.
Tetapi satu hal penting belum terjawab: senyawa apa yang sebenarnya membuat otak menciptakan dunia berisi manusia mini?
Disadur dari Gizmodo - Scientists Identify Mushroom That Makes You Hallucinate ‘Tiny People’ yang diakses pada Agustus 2026.

Posting Komentar