Riset DNA pada mumi di Cile membuktikan penjajah Eropa membawa virus cacar mematikan yang memusnahkan mayoritas populasi lokal Amerika.
Ringkasan
- DNA virus cacar ditemukan pada dua mumi dari awal masa kolonial Spanyol di Chile utara.
- Analisis genetik menunjukkan virus tersebut paling dekat dengan galur (strain) cacar yang beredar di Eropa.
- Temuan ini memperkuat dugaan bahwa wabah cacar menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat runtuhnya peradaban pribumi di Amerika.
SELAMA berabad-abad, para sejarawan meyakini, kedatangan penjelajah Eropa ke Amerika tidak cuma membawa senapan dan pedang, tetapi juga "senjata biologis" tak kasatmata, virus cacar (Orthopoxvirus variola).
Bedanya, kalau dulu tuduhan itu cuma didasarkan pada catatan sejarah yang agak remang-remang, sekarang sains sudah berhasil mengunci buktinya.
Dalam studi teranyar yang terbit di jurnal Science, tim peneliti internasional berhasil menemukan jejak DNA virus cacar kuno yang tersembunyi di dalam kerangka dua mumi suku Inka di Cile utara.
Menariknya, temuan ini awalnya murni sebuah ketidaksengajaan.
Tim peneliti tadinya hanya ingin meneliti DNA manusia dan bakteri tuberkulosis dari sampel tulang yang dikumpulkan sejak dekade 1990-an di situs Camarones 9.
Namun, kondisi DNA manusianya sudah terlanjur rusak parah. Sebagai "bonus", mereka justru menemukan materi genetik virus cacar yang terawetkan dengan sangat baik.
Setelah diurutkan, DNA virus cacar dari mumi perempuan (usia 30–35 tahun) dan laki-laki (usia 18–20 tahun) tersebut ternyata hampir identik satu sama lain.
Analisis penanggalan menunjukkan wabah di Cile utara ini terjadi antara tahun 1492 hingga 1631 Masehi. Rentang waktu ini sangat pas dengan era kedatangan bangsa Spanyol yang menaklukkan Kekaisaran Inka pada awal 1530-an.
Secara genetik, strain virus Cile ini merupakan kerabat dekat strain Eropa dan diperkirakan pertama kali muncul sekitar tahun 1296 Masehi sebelum akhirnya punah.
Penemuan molekuler ini juga memecahkan misteri lama mengenai luka kulit pada mumi di situs tersebut, yang sebelumnya sempat salah dikira sebagai dampak racun arsenik kronis.
Sebelum dimusnahkan secara total lewat program vaksinasi global pada 1980, cacar merupakan salah satu pembunuh paling mengerikan dalam sejarah manusia dengan perkiraan korban mencapai 500 juta jiwa.
Ketika dibawa menyeberangi Samudra Atlantik, warga pribumi Amerika, mulai dari suku Astek, Maya, hingga Inka, sama sekali tidak punya kekebalan alami.
Dipadukan dengan kondisi kerja paksa, kelaparan, dan kemiskinan akibat penjajahan, virus ini secara tragis menyapu hingga 95% populasi asli Amerika.
Tak cuma melumpuhkan fisik, wabah ini juga menghantam psikologis warga lokal.
Mereka menganggap kehancuran akibat penyakit aneh ini sebagai pertanda bahwa dewa-dewa tradisional telah meninggalkan mereka di hadapan kekuatan spiritual penjajah.
Tanpa bantuan tak disengaja dari wabah mikroba ini, peta politik dan sejarah penjajahan di Benua Amerika dipastikan akan jauh berbeda.
Disadur dari Smithsonian Magazine - Smallpox DNA Hidden for Centuries in Mummies Found in Chile Suggests European Colonists Brought the Virus to the Americas yang diakses pada Agustus 2026.

إرسال تعليق