Kebiasaan terjaga hingga larut malam memicu risiko obesitas. Lho kok bisa?
Ringkasan
- Orang dengan tipe kronotipe malam (night owl) cenderung mengonsumsi lebih sedikit kalori di pagi hari dan makan lebih banyak setelah jam 8 malam.
- Kebiasaan makan larut malam ini berkorelasi langsung dengan indeks massa tubuh (IMT) yang lebih tinggi, penumpukan lemak perut, serta profil metabolik yang kurang sehat.
- Makan saat tubuh seharusnya beristirahat dan berpuasa membuat kalori lebih banyak disimpan sebagai lemak daripada dibakar menjadi energi.
PERNAHKAH kamu merasa lebih aktif, segar, dan kreatif saat malam hari, sementara di pagi hari rasanya sangat sulit untuk sekadar membuka mata?
Jika iya, kamu mungkin termasuk kelompok night owl atau si "burung hantu". Di sisi lain, ada orang yang sangat segar di pagi hari, yang sering disebut sebagai early bird.
Perbedaan preferensi waktu tidur dan bangun ini dalam dunia medis dikenal dengan istilah kronotipe (chronotype).
Menariknya, kronotipe tidak hanya mengatur jam tidur kita, ho, tapi juga sangat memengaruhi jam makan, perilaku, hingga metabolisme tubuh kita.
Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Nutrition mengungkapkan fakta mengejutkan.
Para peneliti menemukan bahwa orang-orang yang secara alami suka terjaga hingga larut malam memiliki kecenderungan lebih besar untuk mengalami obesitas dan gangguan kesehatan metabolik.
Mengapa bisa begitu?
Salah satu penyebab utamanya adalah karena mereka mengonsumsi sebagian besar kalori harian mereka di waktu yang salah, yaitu saat menjelang tengah malam.
Dalam studi ini, para ahli mengamati 287 wanita sehat dari keturunan Eropa dan keturunan Pasifik di Selandia Baru.
Tim peneliti memeriksa jadwal tidur para peserta melalui kuesioner mendalam, mencatat buku harian makanan selama lima hari.
Tim juga memindai komposisi tubuh menggunakan teknologi dual-energy X-ray absorptiometry (DEXA), serta mengambil sampel darah saat puasa untuk tes metabolik.
Hasilnya, sebanyak 34% peserta dikategorikan sebagai tipe malam (evening types), 12% sebagai tipe pagi (morning types), dan sisanya berada di tengah-tengah atau tipe intermediate.
Ketika para peneliti melihat data fisik mereka, perbedaan yang kontras mulai terlihat. Wanita yang masuk dalam kelompok tipe malam memiliki rata-rata Indeks Massa Tubuh (IMT) sebesar 31,4.
Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok tipe pagi dan intermediate yang rata-rata IMT-nya berada di angka 26,1.
Tidak hanya itu, si "burung hantu" juga memiliki total lemak tubuh yang lebih tinggi serta rasio lemak android-to-gynoid yang lebih besar, sebuah indikator yang menunjukkan adanya penumpukan lemak berbahaya di area perut (buncit).
Uniknya, jika dihitung secara total dalam sehari, jumlah makanan atau kalori yang dikonsumsi oleh si tipe pagi maupun tipe malam sebenarnya tidak jauh berbeda.
Yang membedakan secara drastis adalah waktu makannya.
Professor Rozanne Kruger, peneliti dari Massey University dan Griffith University, menjelaskan bahwa wanita tipe pagi dan intermediate mengonsumsi lebih banyak energi, protein, karbohidrat, dan lemak sebelum jam 10 pagi.
Sebaliknya, wanita tipe malam justru menyantap sebagian besar nutrisi tersebut setelah jam 8 malam.
Pola ini bahkan terlihat jauh lebih ekstrem pada wanita yang memang sudah memiliki kadar lemak tubuh tinggi.
Mereka cenderung melewatkan sarapan atau makan sangat sedikit di pagi hari, lalu "balas dendam" dengan makan dalam porsi besar yang kaya karbohidrat dan lemak di larut malam.
Dampaknya tidak main-main bagi kesehatan. Selain memicu kenaikan berat badan, kualitas nutrisi yang dikonsumsi oleh si tipe malam ternyata lebih rendah.
Mereka tercatat lebih sedikit mengonsumsi makanan sehat yang kaya serat, vitamin A, vitamin E, folat, kalsium, magnesium, kalium, dan iodium.
Hasil tes darah juga mempertegas bahaya ini. Kelompok night owl memiliki kadar trigliserida (lemak darah), insulin, hemoglobin terglikasi (HbA1c), dan hormon leptin yang lebih tinggi.
Di sisi lain, kadar kolesterol baik (HDL) mereka justru lebih rendah.
Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem metabolisme mereka sedang tidak baik-baik saja dan lebih rentan terhadap risiko diabetes serta penyakit jantung.
"Mengonsumsi makanan di malam hari, saat tubuh kita seharusnya berpuasa dan tidur, membuat tubuh menyimpan lebih banyak makanan sebagai lemak daripada menggunakannya sebagai energi," ujar Professor Kruger.
Disadur dari Sci.News - Night Owls Eat Less at Breakfast, More at Midnight, Study Says yang diakses pada Juli 2026.

إرسال تعليق