Jangan Remehkan Gambar Dalam Menu Makanan, Ngaruhnya Gede

Foto makanan yang menggugah selera di menu ternyata bisa memengaruhi pilihan porsi dan jenis makanan yang kita pesan. 


Foto makanan yang menggugah selera di menu ternyata bisa memengaruhi pilihan porsi dan jenis makanan yang kita pesan.Ilustrasi dibuat oleh AI


Ringkasan

  • Foto makanan di menu dapat memengaruhi keputusan memilih porsi besar atau kecil.
  • Ukuran dan warna piring tidak terbukti secara konsisten membuat orang memilih makanan lebih sehat atau porsi lebih sedikit.
  • Kebiasaan makan seseorang justru tampak lebih berpengaruh terhadap pilihan makanan dibanding sekadar tampilan piring.


SAAT membuka aplikasi pesan makanan atau melihat menu di restoran, banyak orang mengira keputusan mereka sepenuhnya didasarkan pada rasa lapar atau selera. 


Kenyataannya, berbagai unsur visual, mulai dari foto makanan, ukuran piring, hingga warnanya, dapat ikut membentuk keputusan tersebut. 


Namun, seberapa besar pengaruhnya ternyata tidak sesederhana yang selama ini dipercaya. Itulah temuan penelitian terbaru dari Flinders University, Australia.


Mereka menguji apakah ukuran dan warna piring yang ditampilkan dalam gambar menu mampu mendorong orang memilih makanan lebih sehat atau mengambil porsi yang lebih kecil.


Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Food Quality and Preference ini dipimpin oleh Shaya Mittal dari Flinders Institute for Mental Health and Wellbeing


Tim peneliti melibatkan 232 perempuan yang diminta mengikuti survei daring mengenai pilihan makanan berdasarkan gambar menu dengan variasi ukuran dan warna piring.


Selama beberapa tahun terakhir, muncul anggapan bahwa "ilusi piring" (plate illusion) dapat membantu mengurangi konsumsi makanan. 


Teori ini menyebutkan bahwa makanan yang disajikan di piring kecil akan terlihat lebih banyak sehingga seseorang merasa porsinya sudah cukup. 


Sebaliknya, makanan di piring besar tampak lebih sedikit sehingga orang cenderung mengambil tambahan.


Selain ukuran, warna piring juga diduga memengaruhi persepsi makan. 


Beberapa penelitian sebelumnya menyatakan bahwa warna tertentu dapat meningkatkan atau justru menurunkan selera makan melalui kontras visual antara makanan dan wadahnya.


Namun hasil penelitian terbaru ini tidak memberikan dukungan kuat terhadap anggapan tersebut.


Para responden tidak menunjukkan perubahan yang signifikan dalam memilih makanan sehat maupun mengurangi ukuran porsi hanya karena warna atau ukuran piring pada gambar menu di layar.


Meski demikian, para peneliti menemukan beberapa pola menarik.


Secara umum, peserta memang lebih menyukai piring berukuran kecil ketika ingin memilih porsi yang lebih sedikit. 


Selain itu, makanan penutup yang lebih sehat cenderung lebih sering dipilih ketika disajikan di atas piring berwarna merah dibandingkan piring hijau.


Hubungan antara warna piring dan pilihan makanan juga ternyata dipengaruhi oleh kebiasaan makan masing-masing individu.


Orang yang memang terbiasa mengendalikan porsi makan lebih cenderung memilih hidangan utama sehat ketika makanan ditampilkan di piring hijau. 


Sebaliknya, peserta yang tidak terlalu membatasi asupan justru lebih sering memilih hidangan sehat ketika makanan disajikan di piring merah.


Temuan tersebut menunjukkan bahwa tidak ada satu warna piring yang efektif untuk semua orang. Respons terhadap tampilan makanan dipengaruhi oleh karakteristik psikologis dan kebiasaan makan masing-masing individu.


Menurut penulis senior penelitian, Profesor Eva Kemps, hasil ini penting.


Alasannya, para ilmuwan terus mencari strategi sederhana dan murah untuk membantu masyarakat mengurangi risiko penyakit yang berkaitan dengan pola makan.


Contohnya, diabetes tipe 2, penyakit jantung, gangguan pernapasan kronis, hingga beberapa jenis kanker usus yang berhubungan dengan obesitas dan konsumsi makanan berlebihan.


Penelitian ini memberikan pelajaran bahwa perilaku makan manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar dipengaruhi tampilan visual.


Para peneliti juga menilai penelitian berikutnya sebaiknya dilakukan dalam situasi yang lebih mendekati kondisi nyata, misalnya melalui kafe percobaan (pop-up café), bukan hanya menggunakan gambar menu di layar. 


Dengan begitu, peserta dapat melihat ukuran porsi makanan secara langsung beserta informasi kandungan kalorinya, sehingga keputusan yang diambil lebih mencerminkan perilaku sehari-hari.


Selain itu, mereka menyarankan agar penelitian berikutnya melibatkan peserta dengan latar belakang yang lebih beragam, baik dari sisi usia, jenis kelamin, maupun budaya makan. 


Hal ini penting karena preferensi makanan dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk pengalaman, kebiasaan, lingkungan sosial, dan kondisi psikologis.


Temuan ini juga sejalan dengan sejumlah riset dalam bidang psikologi konsumen yang menunjukkan bahwa keputusan memilih makanan merupakan hasil interaksi berbagai faktor.


Bukan hanya rasa lapar, tapi juga harga, aroma, foto makanan, informasi gizi, hingga kebiasaan pribadi. 


Dengan kata lain, memperbaiki pola makan kemungkinan membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh daripada sekadar mengubah tampilan menu atau warna piring.


Disadur dari laman SciMex - Takeaway lessons from menu pictures and food choices yang diakses Juli 2026




Post a Comment

Lebih baru Lebih lama