Saat Perut Keroncongan, Otak Membayangkan Rasa Makanan Jauh Lebih Nyata

Penelitian baru menunjukkan bahwa rasa lapar membuat otak membayangkan cita rasa makanan lebih jelas, cepat, dan hidup dibanding saat kenyang.


Penelitian baru menunjukkan bahwa rasa lapar membuat otak membayangkan cita rasa makanan lebih jelas, cepat, dan hidup dibanding saat kenyang.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Orang yang lapar dapat membayangkan rasa makanan lebih kuat dibandingkan ketika perut sudah terisi.
  • Efek ini terutama terjadi pada rasa dan aroma makanan, bukan pada teksturnya.
  • Membayangkan makan berulang kali memang mengurangi kenikmatan dalam imajinasi, tetapi tidak mengurangi kenikmatan saat benar-benar makan.


PERNAHKAH kamu merasa bayangan sepotong pizza, semangkuk bakso, atau secangkir kopi hangat tampak begitu menggoda ketika perut kosong? Ternyata itu bukan sekadar perasaan.


Sebuah penelitian baru dari para ilmuwan di Selandia Baru menemukan bahwa rasa lapar benar-benar mengubah cara otak memproses bayangan tentang makanan.


Studi yang diterbitkan dalam jurnal Appetite menunjukkan bahwa ketika seseorang lapar, otaknya lebih mudah menciptakan gambaran mental tentang rasa makanan.


Gambaran itu bukan hanya lebih jelas, tetapi juga muncul lebih cepat dan terasa lebih nyata.


Temuan ini membantu menjelaskan mengapa iklan makanan atau foto kuliner di media sosial terasa jauh lebih menggoda ketika kita belum makan.


Dalam eksperimen pertama, para peneliti melibatkan 64 peserta yang sebagian besar merupakan mahasiswa dan anggota komunitas di University of Otago, Selandia Baru.


Setiap peserta mengikuti dua sesi berbeda. Pada sesi pertama mereka datang setelah berpuasa semalaman. Pada sesi lainnya, mereka terlebih dahulu sarapan dengan menu standar seperti roti panggang, sereal, dan susu.


Para peserta kemudian diperlihatkan gambar delapan jenis camilan, mulai dari apel, cokelat, keripik kentang, kacang-kacangan, hingga donat.


Tugas mereka sederhana: membayangkan bagaimana rasa atau tekstur makanan tersebut.


Setelah itu mereka diminta menilai seberapa jelas bayangan yang muncul, seberapa mudah membangunnya dalam pikiran, dan seberapa cepat gambaran itu hadir.


Hasilnya cukup mencolok.


Saat lapar, peserta melaporkan bahwa bayangan tentang rasa makanan muncul lebih cepat, lebih jelas, dan lebih mudah dibentuk dibandingkan saat mereka kenyang.


Bukan hanya itu. Orang yang lapar juga lebih sering membayangkan pengalaman makan secara aktif—seperti mengunyah, mengecap rasa, dan menelan—alih-alih sekadar melihat makanan tersebut dalam pikiran mereka.


Yang menarik, efek lapar ternyata tidak berlaku untuk semua aspek makanan.


Ketika peserta diminta membayangkan tekstur makanan—misalnya renyahnya keripik, lembutnya donat, atau kenyalnya kacang—hasilnya hampir sama baik saat lapar maupun kenyang.


Dengan kata lain, rasa lapar terutama memperkuat imajinasi tentang rasa dan aroma, bukan sensasi fisik di dalam mulut.


Para peneliti menduga hal ini terjadi karena rasa dan aroma memiliki hubungan yang sangat erat dengan sistem penghargaan (reward system) di otak.


Ketika tubuh membutuhkan energi, otak menjadi lebih peka terhadap sinyal-sinyal yang berkaitan dengan makanan bernutrisi.


Sementara itu, tekstur makanan memang cenderung mudah dibayangkan oleh hampir semua orang, sehingga tidak banyak ruang bagi rasa lapar untuk meningkatkan kemampuan tersebut lebih jauh.


Temuan ini juga memberikan penjelasan ilmiah terhadap fenomena yang banyak dialami sehari-hari.


Saat seseorang lapar, otaknya bukan hanya menginginkan makanan lebih kuat. Otak juga menjadi lebih mahir "mensimulasikan" pengalaman makan sebelum makanan itu benar-benar ada di depan mata.


Ketika melihat foto ayam goreng, misalnya, seseorang yang lapar mungkin secara tidak sadar membayangkan aroma gurih, rasa asin, sensasi daging yang juicy, hingga bunyi renyah saat digigit.


Semakin hidup simulasi tersebut, semakin kuat pula keinginan untuk makan.


Inilah salah satu alasan mengapa banyak orang merasa sulit menolak godaan konten kuliner di media sosial ketika belum sempat makan.


Para peneliti juga mencoba menjawab pertanyaan lain yang tak kalah menarik.


Mereka ingin mengetahui apakah membayangkan makan berulang kali bisa membuat seseorang merasa bosan dan akhirnya mengurangi nafsu makan.


Dalam eksperimen kedua, peserta diminta membayangkan memakan kukis cokelat sebanyak 30 kali berturut-turut. Sebagian fokus pada rasa, sementara yang lain fokus pada tekstur.


Hasilnya menunjukkan bahwa kenikmatan terhadap kukis tersebut memang perlahan menurun dalam imajinasi mereka. Semakin sering dibayangkan, semakin berkurang daya tariknya di dalam pikiran.


Namun ada satu masalah.


Ketika para peserta benar-benar mencicipi kukis setelah sesi imajinasi selesai, tingkat kenikmatannya tidak berubah. Mereka tetap menyukai rasa makanan itu sama seperti sebelumnya.


Selain itu, mereka juga tidak merasa lebih kenyang ataupun kurang lapar.


Artinya, walaupun otak bisa "lelah" membayangkan makanan yang sama berulang kali, pengalaman makan yang sesungguhnya tetap terasa menyenangkan.


Penelitian ini memperlihatkan bahwa rasa lapar bukan hanya sinyal biologis yang berasal dari lambung. Lapar juga mengubah cara kerja pikiran.


Ketika tubuh membutuhkan energi, otak tampaknya meningkatkan kemampuan untuk membayangkan rasa dan aroma makanan secara lebih detail.


Kemampuan ini mungkin merupakan hasil evolusi yang membantu manusia menemukan dan memperoleh makanan ketika sumber energi mulai menipis.


Meski demikian, penelitian ini juga menunjukkan bahwa mengandalkan imajinasi semata belum tentu menjadi cara efektif untuk mengurangi kenikmatan makan atau menekan keinginan makan dalam jangka pendek.


Jadi, lain kali ketika Anda sedang lapar dan tiba-tiba terbayang rasa mi ayam favorit atau aroma kopi yang baru diseduh, kemungkinan besar itu bukan sekadar khayalan.


Otak Anda memang sedang meningkatkan "mode simulasi makanan" agar pencarian energi menjadi lebih efektif.


Disadur dari StudyFinds - Study: Hunger Makes Your Brain Picture Food More Vividly, Especially Taste.




Post a Comment

أحدث أقدم