Ketika 'Mindfulness' Tak Bikin Tenang, Peneliti Punya Jalan Keluarnya

Penelitian membuktikan bahwa praktik mindfulness tidak selalu efektif bagi semua orang, terutama saat menghadapi situasi hidup yang penuh tekanan.


Penelitian membuktikan bahwa praktik mindfulness tidak selalu efektif bagi semua orang, terutama saat menghadapi situasi hidup yang penuh tekanan.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Mindfulness memiliki banyak manfaat, tetapi tidak efektif bagi semua orang dan kadang dapat memperburuk kecemasan.
  • Studi terhadap pekerja industri musik selama pandemi menemukan bahwa harapan lebih membantu menjaga ketahanan mental dibanding mindfulness.
  • Harapan yang efektif bukan sekadar angan-angan, melainkan sikap aktif yang berfokus pada tujuan dan solusi.


SELAMA satu dekade terakhir, mindfulness atau kesadaran penuh menjadi salah satu pendekatan paling populer dalam dunia kesehatan mental. 


Berbagai penelitian menunjukkan bahwa praktik ini dapat membantu menurunkan stres, memperbaiki kualitas tidur, mengurangi tekanan darah, dan meningkatkan suasana hati.


Namun, seperti banyak hal dalam sains, manfaat tersebut tidak berlaku untuk semua orang.


Sejumlah penelitian menemukan bahwa sebagian orang justru mengalami efek yang tidak diharapkan setelah menjalani latihan mindfulness


Alih-alih merasa lebih tenang, mereka bisa menjadi lebih cemas, sedih, atau semakin terfokus pada emosi negatif yang sedang dialami.


Fenomena ini sebenarnya cukup masuk akal. 


Ketika seseorang sedang berada dalam kondisi yang relatif baik atau netral, memusatkan perhatian pada momen saat ini bisa terasa menenangkan. 


Namun ketika seseorang sedang menghadapi krisis, kehilangan pekerjaan, tekanan ekonomi, atau masalah pribadi yang berat, perhatian yang terlalu besar pada perasaan saat ini justru dapat memperkuat penderitaan psikologis.


Ibarat seseorang yang sedang tenggelam, kesadaran bahwa dirinya berada di dalam air belum tentu membantunya keluar dari masalah.


Lalu jika mindfulness tidak selalu menjadi jawaban, pendekatan apa yang bisa digunakan?


Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2024 oleh peneliti dari Clemson University dan North Carolina State University mencoba mencari jawabannya. 


Mereka membandingkan mindfulness dengan pola pikir lain yang jarang mendapat sorotan sebesar mindfulness, yaitu harapan atau hopefulness.


Untuk menguji pengaruh kedua pendekatan tersebut, para peneliti memilih kelompok yang benar-benar mengalami masa sulit: pekerja industri musik selama pandemi COVID-19.


Ketika pandemi melanda, konser dibatalkan, panggung ditutup, dan banyak pekerja kehilangan sumber penghasilan dalam waktu singkat. 


Kondisi tersebut menjadi "laboratorium alami" untuk melihat faktor psikologis apa yang membantu seseorang bertahan dalam situasi penuh ketidakpastian.


Menurut Dr. Kristin Scott, salah satu penulis penelitian, timnya ingin mengetahui apa yang membuat sebagian orang tetap mampu bergerak maju tanpa menyerah pada keputusasaan atau depresi.


Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang cukup mencolok.


Pekerja yang memiliki tingkat harapan tinggi cenderung menunjukkan ketahanan mental yang lebih baik dan tetap terlibat dalam pekerjaan mereka. 


Sebaliknya, mindfulness justru berkaitan dengan meningkatnya ketegangan dan stres kerja pada kelompok tersebut.


Banyak orang menganggap harapan sebagai keyakinan pasif bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun menurut Scott, definisi tersebut kurang tepat.


Harapan yang bermanfaat bersifat aktif. Harapan melibatkan tujuan, strategi, dan keyakinan bahwa seseorang masih memiliki kemampuan untuk memengaruhi hasil yang akan datang.


Seseorang yang penuh harapan tidak sekadar berkata, "Semoga semuanya membaik." Ia juga berpikir, "Apa yang bisa saya lakukan agar peluang membaik menjadi lebih besar?"


Dengan kata lain, harapan membantu seseorang tetap fokus pada langkah-langkah konkret alih-alih terus-menerus terjebak dalam pikiran negatif.


Pendekatan ini memiliki kemiripan dengan konsep optimisme yang telah lama diteliti para psikolog. 


Berbagai studi jangka panjang menunjukkan bahwa orang yang optimistis cenderung hidup lebih lama, lebih bahagia, dan lebih sering menjalani kebiasaan sehat dibanding mereka yang pesimistis.


Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa hasil studi ini bukan berarti mindfulness tidak berguna.


Mindfulness tetap merupakan alat yang efektif untuk menenangkan pikiran dan membantu seseorang menyadari kondisi emosinya. 


Dalam banyak kasus, pendekatan ini terbukti bermanfaat untuk mengelola stres sehari-hari.


Selain itu, terdapat konsep mindful acceptance, yaitu menerima kenyataan bahwa situasi sedang buruk tanpa membiarkan kondisi tersebut mengendalikan seluruh hidup kita.


Perbedaannya, harapan melangkah lebih jauh. Jika mindfulness membantu seseorang menerima keadaan, harapan mendorongnya untuk mencari jalan keluar dan terus bergerak maju.


Psikolog menjelaskan bahwa manusia membutuhkan rasa kendali ketika menghadapi ketidakpastian. Saat situasi tampak di luar kendali, harapan dapat berfungsi sebagai "kompas mental" yang membantu seseorang tetap memiliki arah.


Harapan tidak menjamin keberhasilan. Namun, harapan dapat mencegah seseorang tenggelam dalam perasaan tidak berdaya.


Menariknya, bahkan proses publikasi penelitian ini sempat menghadapi penolakan. 


Menurut Scott, beberapa pihak merasa tidak nyaman dengan temuan yang menunjukkan bahwa mindfulness tidak selalu menghasilkan dampak positif. 


Tim peneliti bahkan sempat bercanda menyebut karya mereka sebagai "makalah tanpa harapan".


Meski begitu, penelitian tersebut membuka diskusi penting: tidak ada satu metode kesehatan mental yang cocok untuk semua orang.


Bagi sebagian orang, mindfulness mungkin menjadi alat yang sangat efektif. 


Namun bagi orang lain yang sedang menghadapi masa-masa sulit, memelihara harapan, menetapkan tujuan kecil, dan terus mencari langkah konkret ke depan mungkin justru menjadi strategi yang lebih membantu.


Pada akhirnya, harapan bukan berarti menolak kenyataan. Harapan adalah kemampuan untuk melihat kemungkinan di tengah kesulitan dan tetap melangkah meskipun hasil akhirnya belum pasti.


Disadur dari BBC Science Focus - Why mindfulness doesn't work for some people – and what to try instead.



Post a Comment

Lebih baru Lebih lama