Ketika Kicauan Merdu Membawa Petaka: Sisi Gelap Kontes Burung Bernilai Fantastis

Lomba burung berkicau yang kian populer di Asia Tenggara mendorong perburuan burung liar secara besar-besaran dan mengancam kelestarian banyak spesies.


Lomba burung berkicau yang kian populer di Asia Tenggara mendorong perburuan burung liar secara besar-besaran dan mengancam kelestarian banyak spesies.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Jutaan burung kicau ditangkap dari alam untuk dipelihara atau diikutsertakan dalam lomba berkicau.
  • Indonesia menjadi pusat perdagangan burung kicau terbesar di dunia, dengan sejumlah spesies kini terancam punah.
  • Upaya penyelamatan melalui rehabilitasi dan pelepasliaran terus dilakukan, tetapi para ahli menilai solusi utama adalah menekan permintaan pasar.


DI balik riuhnya lomba burung berkicau yang digelar hampir setiap pekan di berbagai daerah di Indonesia, tersimpan persoalan konservasi yang semakin mengkhawatirkan. 


Hobi memelihara burung dan tingginya gengsi menjadi juara perlombaan membuat jutaan burung liar ditangkap dari habitatnya setiap tahun. Para ilmuwan menyebut fenomena ini sebagai krisis burung kicau Asia (Asian songbird crisis).


Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman burung tertinggi di dunia, memiliki sekitar 1.800 spesies. Namun kekayaan hayati tersebut justru menjadi sasaran perdagangan satwa liar. 


Burung hasil tangkapan hutan dijual di pasar-pasar burung atau diselundupkan ke berbagai daerah karena dipercaya memiliki suara yang lebih merdu dibanding burung hasil penangkaran. 


Selama proses distribusi, sebagian besar burung mengalami stres berat, bahkan banyak yang mati sebelum sampai ke pembeli.


Di Pulau Jawa saja, diperkirakan terdapat puluhan juta burung yang dipelihara di dalam sangkar. Beberapa spesies populer, seperti murai batu, kacer, dan anis merah, menjadi incaran para penghobi maupun peserta lomba. 


Burung yang berhasil menjuarai kompetisi dapat bernilai sangat tinggi, sementara pemiliknya memperoleh hadiah uang, kendaraan, hingga prestise sosial. 


Kondisi inilah yang terus mendorong permintaan terhadap burung liar.


Dampaknya mulai terlihat di alam. Sejumlah spesies mengalami penurunan populasi drastis, bahkan ada yang telah punah secara lokal. 


Para peneliti memperingatkan bahwa hutan yang tampak masih hijau dapat berubah menjadi "hutan sunyi".


Kawasan itu masih memiliki pepohonan tetapi kehilangan satwa, terutama burung-burung penyanyi yang berperan penting dalam penyerbukan, penyebaran biji, dan pengendalian serangga. 


Hilangnya burung juga dapat mengganggu keseimbangan ekosistem dalam jangka panjang.


Di Kalimantan Barat, Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Burung Kicau Wak Gatak berupaya memulihkan burung-burung sitaan dari perdagangan ilegal. 


Burung yang datang umumnya mengalami kekurangan gizi, cedera, atau stres berat. 


Setelah menjalani karantina, pemeriksaan kesehatan, dan latihan terbang di kandang rehabilitasi, sebagian burung dilepasliarkan kembali ke habitat yang dinilai aman. 


Sejak berdiri pada 2022, ribuan burung telah dirawat di pusat tersebut, meski hanya sebagian yang memenuhi syarat untuk kembali ke alam.


Meski demikian, para pakar menilai rehabilitasi saja tidak cukup. 


Penegakan hukum terhadap perdagangan satwa liar perlu diperkuat, bersamaan dengan edukasi kepada masyarakat agar tidak lagi mengutamakan burung hasil tangkapan alam. 


Mengurangi permintaan dianggap sebagai langkah paling efektif untuk menghentikan laju perburuan.


Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa pelestarian burung akan lebih berhasil jika masyarakat sekitar hutan ikut terlibat dalam pengawasan habitat dan memperoleh manfaat dari kegiatan konservasi. 


Dengan cara itu, hutan tidak hanya tetap hijau, tetapi juga tetap dipenuhi suara kicau burung yang menjadi bagian penting dari keseimbangan alam.


Disadur dari  Knowable Magazine - The lucrative bird-singing contests that are pushing species to the brink yang diakses pada Juli 2026.




Post a Comment

أحدث أقدم