Setelah seabad punah, ribuan serigala liar kembali menduduki kawasan Eropa.
Ringkasan
- Populasi serigala di Uni Eropa meningkat dari sekitar 12.000 ekor pada 2012 menjadi sekitar 23.000 ekor saat ini.
- Serangan terhadap manusia sangat jarang, tetapi kematian ternak akibat serigala memicu penolakan dari peternak.
- Para ilmuwan menilai perlindungan ternak dengan pagar listrik dan anjing penjaga lebih efektif dibanding perburuan massal.
MUSIM panas lalu di sebuah taman alam dekat Utrecht, Belanda, seorang ibu melihat seekor hewan yang tampak seperti anjing besar berlari ke arah dua anaknya.
Beberapa saat kemudian, anak laki-lakinya yang berusia enam tahun berteriak histeris. Hewan itu menyeret bocah itu ke dalam hutan sebelum akhirnya dihalau oleh warga sekitar menggunakan ranting.
Hasil uji DNA pada kaus berdarah sang anak mengungkap pelakunya, seekor serigala bernama Bram, yang sudah dikenal luas di Belanda karena beberapa insiden sebelumnya.
Bram pernah menggigit seorang perempuan, menjatuhkan seorang anak, dan menunjukkan perilaku tidak biasa terhadap manusia maupun anjing.
Kasus tersebut langsung menyulut perdebatan yang sudah lama memanas mengenai kembalinya serigala ke Eropa Barat.
Di satu sisi, kebangkitan populasi serigala dianggap sebagai salah satu keberhasilan konservasi terbesar abad ini.
Di sisi lain, meningkatnya konflik dengan peternak dan sejumlah insiden terhadap manusia membuat banyak orang mempertanyakan batas toleransi hidup berdampingan dengan predator liar tersebut.
Pada abad ke-19, serigala hampir lenyap dari sebagian besar Eropa Barat.
Penebangan hutan, program pemusnahan resmi, dan berkurangnya populasi rusa sebagai mangsa utama membuat predator ini tersingkir dari banyak wilayah.
Situasi mulai berubah setelah berbagai regulasi perlindungan satwa diberlakukan, termasuk Konvensi Bern tahun 1979 yang memberikan perlindungan hukum lebih kuat bagi serigala.
Hasilnya, pada akhir 1990-an, serigala yang berasal dari Polandia mulai muncul kembali di Jerman timur.
Dari sana, populasi mereka berkembang pesat hingga menjangkau Belanda, Belgia, Denmark, Luksemburg, Austria, Swiss, dan Prancis.
Saat ini para peneliti memperkirakan sekitar 23.000 serigala berkeliaran di negara-negara Uni Eropa. Jumlah itu hampir dua kali lipat dibandingkan sekitar 12.000 ekor pada 2012.
Menurut ahli genetika konservasi Joachim Mergeay dari Belgia, dua puluh lima tahun lalu hampir mustahil membayangkan serigala akan kembali hadir di hampir seluruh daratan Eropa.
Meski sering menjadi sorotan media, serangan serigala terhadap manusia sebenarnya sangat jarang terjadi.
Sebagian besar serigala secara alami menghindari manusia. Banyak insiden yang terjadi melibatkan hewan muda yang tersesat atau individu dengan perilaku tidak normal.
Contohnya terjadi di Hamburg, Jerman, ketika seekor serigala muda masuk ke pusat kota dan akhirnya ditemukan berenang di danau bersejarah kota tersebut.
Setelah dievakuasi dan dipasangi alat pelacak, serigala itu dilepas kembali ke alam liar dan tidak lagi mendekati manusia.
Para ahli masih memperdebatkan apa yang menyebabkan Bram menjadi agresif. Ada dugaan ia pernah mengalami cedera leher akibat tertabrak kendaraan.
Dugaan lain menyebutkan bahwa manusia mungkin pernah memberinya makanan, sehingga rasa takut alaminya terhadap manusia berkurang.
Masalah yang jauh lebih besar sebenarnya bukan serangan terhadap manusia, melainkan terhadap ternak.
Diperkirakan sekitar 50.000 kambing dan domba dibunuh serigala setiap tahun di negara-negara Uni Eropa. Kerugian ekonomi inilah yang menjadi sumber utama penolakan terhadap kembalinya predator tersebut.
Sebagai respons, Uni Eropa pada tahun lalu menurunkan status perlindungan serigala dari "sangat dilindungi" menjadi hanya "dilindungi".
Perubahan ini membuka peluang lebih besar bagi negara-negara anggota untuk melakukan perburuan terbatas. Namun banyak ilmuwan menilai keputusan tersebut terlalu dini.
Penelitian genetika terbaru menunjukkan populasi serigala Eropa sebenarnya masih rapuh.
Meski jumlahnya meningkat, banyak kelompok populasi masih terisolasi dan mengalami perkawinan sedarah (inbreeding).
Kondisi ini dapat mengurangi keragaman genetik yang penting bagi kelangsungan hidup jangka panjang.
Alih-alih membunuh serigala, banyak peneliti lebih mendukung penggunaan pagar listrik dan anjing penjaga ternak.
Sebuah studi di Belanda menemukan bahwa lebih dari 90% serangan serigala terjadi pada ternak yang tidak memiliki perlindungan memadai.
Di Jerman, sejumlah peternak telah memasang pagar listrik setinggi 1,7 meter dan memanfaatkan anjing penjaga khusus yang memang dibiakkan untuk menghadapi predator.
Biayanya tidak murah, tetapi terbukti mampu mengurangi serangan secara drastis.
Belajar hidup dengan alam liar
Perdebatan mengenai serigala pada dasarnya bukan hanya soal satwa liar, melainkan juga tentang bagaimana manusia memandang alam.
Sebagian orang menganggap serigala sebagai simbol keberhasilan pemulihan ekosistem. Sebagian lain melihatnya sebagai ancaman nyata terhadap mata pencaharian dan keamanan.
Meski demikian, survei terhadap 10.000 warga Uni Eropa menunjukkan dukungan terhadap keberadaan serigala masih cukup tinggi, baik di daerah perkotaan maupun pedesaan.
Menurut filsuf lingkungan Martin Drenthen dari Radboud University, menerima kembalinya serigala berarti menerima kenyataan bahwa tidak semua aspek alam dapat dikendalikan sepenuhnya oleh manusia.
Disadur dari laman Science - Wolves are reconquering Europe, can people learn live them? yang diakses pada Juni 2026.

إرسال تعليق