Sebuah studi terbaru menemukan bahwa wawancara diagnosis kesehatan mental tidak selalu menghasilkan diagnosis yang konsisten untuk semua gangguan.
Ringkasan
- Keandalan wawancara diagnosis gangguan mental berbeda-beda tergantung jenis gangguannya.
- Gangguan terkait penggunaan zat cenderung lebih mudah didiagnosis secara konsisten dibanding depresi atau kecemasan.
- Para ahli menilai diperlukan metode yang lebih objektif dan pendekatan baru dalam memahami kesehatan mental.
WAWANCARA klinis untuk menentukan diagnosis selama ini dianggap sebagai standar terbaik dalam dunia kesehatan mental. Namun, studi terbaru menunjukkan metode itu tidaklah andal.
Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal ilmiah JAMA Network Open menemukan bahwa tingkat konsistensi wawancara diagnosis kesehatan mental sangat bervariasi tergantung jenis gangguan yang diperiksa.
Penelitian ini dipimpin oleh Laura Duncan, profesor psikiatri dari McMaster University.
Menurutnya, wawancara diagnostik selama ini sering diperlakukan sebagai "standar emas" dalam praktik klinis maupun penelitian.
Namun bukti ilmiah menunjukkan bahwa metode tersebut belum mampu memberikan ukuran yang benar-benar konsisten dan dapat diandalkan dalam semua situasi.
Untuk menilai keandalan wawancara diagnostik, para peneliti meninjau berbagai studi yang diterbitkan antara Februari 2024 hingga September 2025.
Mereka menggunakan ukuran statistik yang disebut koefisien Cohen's kappa.
Sederhananya, ukuran ini membantu mengetahui seberapa besar kemungkinan seseorang menerima diagnosis yang sama jika menjalani wawancara yang sama lebih dari satu kali.
Jika sebuah alat diagnosis benar-benar andal, hasilnya seharusnya relatif konsisten dari satu sesi ke sesi berikutnya, selama kondisi pasien tidak berubah secara signifikan.
Hasil kajian menunjukkan bahwa tingkat keandalan tersebut ternyata tidak seragam.
Gangguan penggunaan zat, terutama ketergantungan opioid, menunjukkan tingkat konsistensi yang relatif tinggi. Sebaliknya, beberapa gangguan mental lain menunjukkan hasil yang lebih beragam.
Menurut Duncan, salah satu alasannya adalah karena diagnosis gangguan penggunaan zat lebih banyak didasarkan pada perilaku yang relatif mudah diukur.
"Seseorang biasanya lebih mudah mengingat berapa kali minum alkohol dalam seminggu dibanding menghitung berapa hari ia merasa sedih atau cemas," demikian inti penjelasan para peneliti.
Masalah utama dalam kesehatan mental adalah banyak gejala bersifat subjektif.
Dua orang yang mengalami depresi bisa menunjukkan gejala yang sangat berbeda. Bahkan orang yang sama dapat menjelaskan perasaannya dengan cara berbeda pada hari yang berbeda.
Selain itu, kondisi emosional seseorang juga bisa berubah dari waktu ke waktu.
Faktor seperti kelelahan, stres, suasana hati, atau hubungan dengan pewawancara dapat memengaruhi jawaban yang diberikan saat sesi pemeriksaan.
Karena itu, wawancara kesehatan mental berbeda dengan pemeriksaan laboratorium untuk diabetes atau tes darah yang memberikan angka objektif.
Studi ini memicu diskusi di kalangan pakar kesehatan mental.
Michael First dari Columbia University, yang mengembangkan salah satu instrumen diagnosis terkenal bernama Structured Clinical Interview for DSM-5 (SCID), mengakui bahwa wawancara diagnosis memang tidak selalu sempurna.
Namun ia mengkritik beberapa aspek penelitian tersebut.
Menurutnya, studi itu menggabungkan dua jenis wawancara yang sebenarnya berbeda: wawancara terstruktur penuh (fully structured) dan wawancara semi-terstruktur (semi-structured).
Pada wawancara terstruktur penuh, pewawancara harus mengikuti daftar pertanyaan secara ketat tanpa improvisasi.
Pendekatan ini biasanya menghasilkan jawaban yang lebih konsisten karena setiap peserta menerima pertanyaan yang sama persis.
Sebaliknya, wawancara semi-terstruktur memberi ruang bagi klinisi untuk mengajukan pertanyaan lanjutan jika jawaban pasien kurang jelas atau tampak bertentangan.
Pendekatan ini sering dianggap lebih akurat secara klinis, tetapi juga dapat menghasilkan variasi yang lebih besar dari satu sesi ke sesi lain.
Duncan mengakui bahwa pemisahan yang lebih rinci akan sangat membantu.
Namun, ia menegaskan bahwa banyak penelitian yang tersedia belum melaporkan detail metodologi secara lengkap sehingga sulit dilakukan analisis yang lebih mendalam.
Perdebatan ini sebenarnya mencerminkan tantangan yang sudah lama dihadapi dunia psikiatri.
Selama lebih dari setengah abad, para peneliti berharap dapat menemukan penanda biologis yang objektif untuk gangguan mental, seperti tes darah atau pemindaian otak yang dapat memastikan diagnosis secara langsung.
Namun hingga kini, belum ada tes laboratorium yang mampu menggantikan wawancara klinis sebagai alat diagnosis utama.
Sebagian ilmuwan bahkan mulai mempertimbangkan pendekatan baru.
Alih-alih mengelompokkan seseorang secara tegas ke dalam kategori "memiliki" atau "tidak memiliki" suatu gangguan, mereka mengusulkan melihat gejala kesehatan mental sebagai spektrum yang berkelanjutan.
Pendekatan semacam ini dianggap lebih mencerminkan kenyataan bahwa kondisi psikologis manusia sering kali tidak memiliki batas yang jelas.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa temuan studi ini bukan berarti diagnosis kesehatan mental tidak berguna atau tidak valid.
Sebaliknya, hasil penelitian tersebut menunjukkan, ilmu kesehatan mental masih terus berkembang dan membutuhkan alat ukur yang lebih akurat, transparan, serta konsisten untuk membantu jutaan orang yang membutuhkan pertolongan.
Disadur dari The Guardian - New study casts doubt on reliability of mental health diagnosis interviews.

Posting Komentar