Sibuk Menjaga Hubungan, Cemburu Justru Merusak Jalinan Asmara

Rasa cemburu ternyata bisa membuat seseorang terlalu sibuk menjaga pasangan, sampai lupa merawat hubungan itu sendiri.


Rasa cemburu ternyata bisa membuat seseorang terlalu sibuk menjaga pasangan, sampai lupa merawat hubungan itu sendiri.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Rasa cemburu membuat orang lebih fokus “melindungi” hubungan daripada merawatnya.
  • Fokus berlebihan pada ancaman justru bisa memperkuat rasa cemburu dari waktu ke waktu.
  • Kebiasaan kecil seperti komunikasi rutin dan dukungan emosional terbukti lebih efektif menjaga hubungan tetap sehat.


CEMBURU sering dianggap tanda cinta. Sedikit posesif kadang malah dipersepsikan sebagai bentuk perhatian. Tapi penelitian terbaru menunjukkan ada sisi lain yang lebih rumit.


Ketika seseorang merasa terancam oleh “saingan” dalam hubungan asmara, mereka cenderung mengalihkan energi dari merawat hubungan menjadi sibuk mempertahankannya. 


Dalam jangka panjang, pola ini justru bisa memicu lingkaran cemburu yang makin kuat dan kepuasan hubungan yang makin menurun.


Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Journal of Social and Personal Relationships.


Penelitian dipimpin oleh psikolog Yael Ecker dari University of Cologne. Tim peneliti ingin memahami bagaimana rasa cemburu memengaruhi tujuan seseorang dalam hubungan romantis sehari-hari.


Selama ini, psikologi sering membagi motivasi manusia menjadi dua: mengejar hal baik atau menghindari hal buruk. Namun pendekatan yang lebih baru membagi motivasi menjadi tiga kategori berbeda:


  1. Maintenance goals — usaha menjaga hubungan tetap stabil.
  2. Protection goals — usaha melindungi hubungan dari ancaman.
  3. Progress goals — usaha mengembangkan hubungan agar lebih baik.


Maintenance goals sebenarnya adalah hal-hal kecil yang sering dianggap sepele: mengobrol sebelum tidur, membagi pekerjaan rumah, rutin berkencan, mendengarkan cerita pasangan, atau memberi dukungan emosional. 


Aktivitas ini tidak dramatis, tetapi menjadi fondasi hubungan yang sehat. Sebaliknya, protection goals muncul ketika seseorang merasa ada ancaman. 


Misalnya terlalu mengawasi interaksi pasangan, membatasi kedekatan pasangan dengan orang lain, atau menjadi sensitif terhadap topik tertentu yang memicu rasa tidak aman.


Menurut peneliti, rasa cemburu membuat fokus seseorang bergeser dari “merawat” menjadi “bertahan”.


Penelitian ini juga memakai konsep life history theory, yaitu gagasan bahwa manusia memiliki energi mental yang terbatas. 


Ketika terlalu banyak energi dipakai untuk mengawasi ancaman, energi untuk membangun komunikasi sehat menjadi berkurang.


Sederhananya, seseorang yang terus memikirkan “apakah pasangan akan direbut orang lain?” jadi lebih sulit menikmati hubungan itu sendiri.


Untuk menguji teori tersebut, peneliti melakukan tiga studi berbeda.


Dalam studi pertama yang melibatkan 401 partisipan di Inggris, separuh peserta diminta mengingat pengalaman ketika mereka merasa cemburu terhadap pasangan. Separuh lainnya diminta mengingat momen biasa dalam hubungan.


Hasilnya cukup menarik. Orang yang mengingat pengalaman cemburu menunjukkan penurunan motivasi untuk melakukan perawatan hubungan sehari-hari. Namun dorongan untuk “melindungi” hubungan tetap tinggi.


Artinya, rasa cemburu tidak otomatis membuat orang lebih mencintai pasangan. Yang meningkat justru kewaspadaan terhadap ancaman.


Studi kedua mengikuti 299 pekerja di Amerika Serikat selama dua bulan. Setiap minggu mereka melaporkan tingkat kecemburuan dan perilaku mereka dalam hubungan.


Peneliti menemukan pola yang cukup konsisten: ketika seseorang merasa lebih cemburu dari biasanya, minggu berikutnya mereka lebih banyak melakukan tindakan protektif terhadap hubungan.


Masalahnya, pola ini bisa berbalik menyerang diri sendiri.


Orang-orang yang terus-menerus fokus melindungi hubungan ternyata mengalami peningkatan rasa cemburu dari waktu ke waktu. 


Sebaliknya, mereka yang rutin melakukan maintenance goals justru mengalami penurunan kecemburuan.


Dengan kata lain, semakin seseorang sibuk “menjaga pasangan agar tidak direbut”, semakin sensitif mereka terhadap ancaman kecil sekalipun.


Fenomena ini mirip efek psikologis yang dikenal sebagai hypervigilance, yaitu kondisi ketika otak terus siaga terhadap ancaman. 


Dalam konteks hubungan, seseorang bisa mulai membaca terlalu banyak makna dari notifikasi ponsel, interaksi media sosial, atau percakapan biasa. 


Penelitian dari American Psychological Association juga menunjukkan bahwa kecemasan interpersonal dapat memperkuat pola pengawasan berlebihan dalam relasi romantis.


Studi ketiga melibatkan 142 pasangan heteroseksual di Inggris yang diminta mengisi survei tiga kali seminggu selama sebulan.


Dalam jangka pendek, perilaku protektif ternyata memang bisa meningkatkan kepuasan hubungan. Pesan yang terlalu sering, perhatian berlebihan, atau sikap posesif ringan kadang dianggap sebagai tanda cinta dan komitmen.


Namun efek itu tidak bertahan lama. Dalam jangka panjang, pasangan yang terlalu fokus pada perlindungan hubungan justru mengalami penurunan kepuasan relasi. 


Sebaliknya, pasangan yang konsisten melakukan kebiasaan maintenance, hal-hal kecil dan rutin, memiliki hubungan yang lebih stabil dan memuaskan.


Peneliti menyebut bahwa tindakan defensif mungkin memberi rasa aman sesaat, tetapi jika dijadikan strategi utama dalam hubungan, kualitas hubungan perlahan terkikis.


Menariknya, sebagian besar partisipan penelitian sebenarnya tidak memiliki tingkat cemburu tinggi. Banyak yang hanya mengalami kecemburuan ringan.


Peneliti menduga efek sebenarnya bisa lebih besar dari yang terlihat. Sebab, kata “cemburu” sendiri sering dianggap negatif sehingga banyak orang mungkin enggan mengakuinya secara jujur.


Selain itu, penelitian ini dilakukan di negara-negara Barat sehingga hasilnya belum tentu sepenuhnya sama di budaya lain, termasuk di Indonesia, yang memiliki norma hubungan dan ekspresi emosi berbeda.


Meski begitu, pesan utamanya cukup universal, hubungan yang sehat tampaknya lebih bergantung pada kebiasaan kecil yang konsisten daripada kewaspadaan berlebihan terhadap ancaman.


Kadang hubungan tidak runtuh karena hadirnya orang ketiga, tetapi karena dua orang di dalamnya terlalu sibuk berjaga-jaga sampai lupa saling merawat.


Disadur dari PsyPost - This common reaction to feeling threatened can trap you in a jealousy loop.



Post a Comment

أحدث أقدم