Para ilmuwan memakai elektroda dan karya museum untuk mencari tahu bagaimana otak dan tubuh manusia merespons keindahan.
Ringkasan
- Ilmuwan di Italia memakai elektroda untuk mempelajari bagaimana otak dan tubuh merespons keindahan dan seni.
- Penelitian neuroestetika menemukan pengalaman estetis melibatkan emosi, memori, sensor tubuh, dan sistem penghargaan di otak.
- Para peneliti percaya seni mungkin berperan penting dalam evolusi manusia dan kemampuan membangun hubungan sosial.
DI sebuah ruangan sunyi di Galileo Museum, seorang sukarelawan duduk mengenakan penutup kepala penuh elektroda. Di depannya terletak sebuah astrolab kuningan milik Galileo Galilei.
Sementara ia menatap detail ukiran benda kuno itu, komputer mulai merekam aktivitas otaknya, detak jantung, dan bahkan perubahan kecil pada keringat di kulitnya.
Tujuannya terdengar seperti fiksi ilmiah: mencari “jejak biologis” dari pengalaman melihat sesuatu yang indah.
Eksperimen ini merupakan bagian dari proyek baru di Laboratorium Neuroaesthetics, kolaborasi ilmuwan saraf yang ingin memahami bagaimana otak dan tubuh manusia bereaksi terhadap seni dan keindahan.
Bidang ilmu yang disebut neuroaesthetics atau neuroestetika sebenarnya masih relatif muda. Cabang ilmu ini mencoba menjawab pertanyaan klasik dengan alat modern: mengapa manusia merasa sesuatu itu indah?
Istilah neuroaesthetics dipopulerkan oleh Semir Zeki pada 1990-an.
Ia menjelaskan, ilmu ini mempelajari mekanisme otak saat manusia mengalami pengalaman estetis—baik ketika melihat lukisan, mendengar musik, membaca puisi, maupun menatap objek ilmiah yang artistik.
Dalam eksperimen di museum Galileo, para peneliti menggunakan 32 elektroda untuk menangkap aktivitas neuron di korteks visual otak.
Sensor lain dipasang di dada untuk memantau detak jantung, sementara elektroda di tangan mengukur konduktivitas kulit akibat perubahan keringat.
Semua sinyal biologis itu direkam ketika peserta melihat benda-benda bersejarah yang dianggap memiliki nilai estetika tinggi.
Salah satu objek yang dipakai adalah astrolab kuningan milik Galileo—alat astronomi kuno untuk membaca posisi bintang dan waktu.
Meski tampak seperti alat ilmiah biasa, para peneliti menilai instrumen Renaisans dirancang dengan “beban estetika” tinggi. “Pada masa itu, sains diharapkan terlihat indah,” kata Francesco Goretti.
Selama bertahun-tahun, ilmuwan menemukan bahwa pengalaman melihat keindahan bukan sekadar perasaan abstrak. Tubuh ternyata ikut bereaksi.
Pada 2011, Semir Zeki menemukan bahwa saat seseorang menilai sesuatu sebagai indah, bagian otak bernama medial orbitofrontal cortex menjadi aktif. Area ini terletak tepat di belakang mata dan berkaitan dengan rasa penghargaan serta kesenangan.
Menariknya, semakin seseorang merasa suatu objek indah, semakin tinggi aktivitas di area tersebut.
Namun menurut Anjan Chatterjee, pengalaman estetika jauh lebih rumit daripada sekadar “saklar” di otak yang menyala.
Ia mengusulkan konsep “aesthetic triad”, yakni tiga sistem otak yang bekerja bersamaan:
- sistem sensorik untuk menganalisis apa yang dilihat,
- sistem emosi untuk menentukan rasa suka,
- serta sistem pengetahuan dan memori yang menghubungkan pengalaman itu dengan latar belakang pribadi.
Karena itu, pengalaman melihat seni sering terasa seperti campuran emosi yang kompleks.
Tubuh pun ikut bereaksi. Detak jantung bisa berubah, kulit berkeringat lebih banyak, bahkan zat kimia seperti dopamin dan oksitosin dapat meningkat ketika seseorang benar-benar tersentuh oleh karya seni atau musik.
Pertanyaan besarnya, apakah keindahan sebenarnya bisa dihitung secara ilmiah?
Bagi sebagian orang, ide mengukur seni dengan angka terdengar aneh. Seni dianggap terlalu personal dan subjektif untuk dipetakan dengan data biologis.
Namun para peneliti percaya tetap ada pola umum yang bisa dipelajari.
Di museum Galileo, tim peneliti bahkan mencoba memakai teknik hyperscanning, metode yang merekam aktivitas otak dua orang sekaligus untuk melihat apakah gelombang otak mereka ikut “sinkron” saat memandang objek yang sama.
Mereka juga mengembangkan algoritma AI untuk memprediksi apakah seseorang akan menilai suatu benda sebagai indah hanya dari sinyal biologis tubuhnya.
Meski begitu, ilmuwan mengakui pengalaman estetika tidak bisa direduksi menjadi angka sederhana.
Susan Magsamen menegaskan bahwa seni selalu dipengaruhi budaya, pengalaman hidup, memori, dan konteks pribadi seseorang.
Karena itu, pengukuran biologis sebaiknya dipandang sebagai alat untuk memahami seni lebih dalam, bukan menggantikan pengalaman manusia itu sendiri.
Hal paling menarik dari penelitian neuroestetika mungkin bukan soal teknologi otak, melainkan gagasan bahwa seni adalah bagian penting dari evolusi manusia.
Menurut Magsamen, seni mengaktifkan sirkuit kesenangan, penghargaan, bahkan rasa takut di otak manusia.
Kemampuan menciptakan dan menikmati seni kemungkinan membantu nenek moyang manusia membangun hubungan sosial, berbagi pengetahuan budaya, dan membayangkan solusi baru untuk bertahan hidup.
Dengan kata lain, seni bukan sekadar hiburan. Seni mungkin adalah salah satu alasan manusia bisa berkembang sebagai spesies sosial yang kompleks.
Itulah sebabnya hingga hari ini manusia masih terharu ketika melihat lukisan, mendengar musik, atau menatap benda tua penuh ukiran seperti astrolab Galileo.
Barangkali, ketika kita merasa sesuatu itu indah, yang sebenarnya sedang kita lihat bukan hanya karya seni—melainkan pantulan dari cara kerja manusia itu sendiri.
Disadur dari Smithsonian Magazine - Does the Experience of Beauty Show Up in the Brain? ... These Neuroscientists Aim to Find Out

Posting Komentar