Studi menemukan, kebiasaan berbohong yang terus-menerus sejak kecil dapat berkaitan dengan masalah perilaku saat dewasa.
Ringkasan
- Sebagian besar anak memang pernah berbohong, tetapi kebiasaan itu biasanya berkurang seiring bertambah usia.
- Anak yang terus-menerus berbohong lebih berisiko mengalami perilaku antisosial dan catatan kriminal saat dewasa.
- Agresivitas dan sifat impulsif sejak kecil diduga menjadi faktor penting yang berkaitan dengan pola kebohongan kronis.
BERBOHONG adalah bagian normal dari masa kanak-kanak. Hampir semua anak pernah melakukannya, mulai dari menyembunyikan nilai jelek hingga menyangkal memecahkan barang di rumah.
Nah, penelitian terbaru menunjukkan bahwa pada sebagian anak, kebiasaan berbohong yang terus berlanjut bisa menjadi tanda masalah yang lebih serius di masa depan.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Development and Psychopathology mengikuti perkembangan 3.017 anak di Quebec, Kanada, sejak usia sekitar 6 tahun hingga 19 tahun.
Para peneliti kemudian menelusuri kondisi mereka saat memasuki usia dewasa muda.
Hasilnya menunjukkan bahwa anak-anak yang lebih sering berbohong memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami masalah perilaku, termasuk tindak kriminal dan gangguan kepribadian antisosial ketika berusia sekitar 22 tahun.
Meski begitu, peneliti menegaskan bahwa studi ini tidak membuktikan kebiasaan berbohong sebagai penyebab langsung tindakan kriminal.
Penelitian hanya menemukan adanya hubungan antara pola kebohongan tertentu dengan berbagai faktor risiko lain.
Peneliti menemukan bahwa mayoritas anak sebenarnya tidak sering berbohong. Bahkan, kebiasaan itu cenderung berkurang seiring bertambah usia.
Berdasarkan laporan guru, sekitar 73% anak menunjukkan tingkat kebohongan yang rendah dan terus menurun dari usia 7 hingga 15 tahun. Namun, sekitar 22% anak justru menunjukkan pola kebohongan yang meningkat selama masa remaja.
Ada pula kelompok kecil, sekitar 5%, yang awalnya sangat sering berbohong tetapi kemudian mengalami penurunan drastis hingga hampir tidak terdeteksi lagi saat usia 15 tahun.
Laporan orang tua memperlihatkan pola yang sedikit berbeda. Sekitar 58% anak menunjukkan kebiasaan berbohong yang stabil dalam tingkat sedang selama bertahun-tahun.
Sementara itu, 30% lainnya menunjukkan tingkat kebohongan rendah yang terus menurun.
Peneliti awalnya menduga kebiasaan berbohong akan meningkat tajam saat remaja, tetapi hasil penelitian justru menunjukkan sebaliknya. Pada sebagian besar anak, kebiasaan itu tetap stabil atau perlahan menurun.
Bagian paling penting dari penelitian ini adalah apa yang terjadi setelah anak-anak tersebut tumbuh dewasa.
Kelompok anak yang terus-menerus berbohong ternyata lebih sering memiliki catatan kriminal ketika dewasa muda.
Mereka juga lebih banyak memenuhi kriteria gangguan kepribadian antisosial, kondisi psikologis yang ditandai manipulasi, pelanggaran aturan, kurang empati, dan minim rasa bersalah.
Pada kelompok yang menurut guru semakin sering berbohong, peneliti menemukan tingkat agresivitas yang jauh lebih tinggi saat usia 19 tahun. Mereka juga lebih banyak terlibat dalam tindak kriminal, baik kekerasan maupun non-kekerasan.
Sementara itu, menurut laporan orang tua, anak-anak dengan pola kebohongan stabil dalam jangka panjang memiliki risiko lebih besar mengalami masalah perilaku dibanding kelompok lainnya.
Peneliti juga menemukan dua faktor penting yang dapat memprediksi pola kebohongan tersebut sejak dini, yaitu agresivitas dan impulsivitas.
Anak yang dinilai lebih agresif pada usia 6 tahun cenderung masuk dalam kelompok dengan tingkat kebohongan tinggi. Sedangkan anak yang dianggap lebih impulsif oleh guru pada usia 12 tahun juga lebih mungkin menjadi pembohong kronis.
Menariknya, orang tua cenderung melaporkan tingkat kebohongan anak lebih tinggi dibanding guru.
Peneliti menduga hal ini terjadi karena orang tua menghabiskan lebih banyak waktu bersama anak dan lebih memahami kebiasaan mereka sehari-hari.
Sebaliknya, lingkungan sekolah lebih terstruktur sehingga peluang anak untuk berbohong mungkin lebih sedikit terlihat.
Selain itu, perilaku berbohong juga ternyata sangat bergantung pada situasi sosial. Anak yang sering berbohong di rumah belum tentu melakukan hal yang sama di sekolah.
Perbedaan gender juga muncul dalam laporan orang tua. Anak laki-laki lebih sering masuk kelompok dengan tingkat kebohongan tinggi atau stabil dibanding anak perempuan.
Selama ini, kebiasaan berbohong pada anak sering dianggap sekadar masalah moral atau kenakalan biasa yang cukup diselesaikan dengan hukuman.
Padahal, penelitian ini menunjukkan bahwa pada sebagian anak, kebohongan yang terus-menerus mungkin berkaitan dengan perkembangan emosi dan perilaku yang lebih kompleks.
Psikolog perkembangan dari University of Toronto, Kang Lee, dalam berbagai penelitian sebelumnya juga pernah menjelaskan bahwa kemampuan berbohong sebenarnya muncul bersamaan dengan perkembangan kemampuan berpikir anak.
Anak kecil mulai belajar berbohong ketika mereka mulai memahami bahwa orang lain memiliki pikiran yang berbeda dari dirinya.
Namun, ketika kebohongan menjadi terlalu sering, berlangsung lama, dan disertai perilaku agresif atau impulsif, para ahli menyarankan agar orang tua dan sekolah memberi perhatian lebih serius.
Pendekatan yang lebih efektif bukan hanya hukuman, melainkan juga membangun komunikasi, pengendalian emosi, serta lingkungan yang aman bagi anak untuk berkata jujur.
Peneliti berharap temuan ini dapat membantu sekolah dan keluarga mengenali pola perilaku berisiko sejak dini sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih berat saat dewasa.
Disadur dari StudyFinds — Persistent Lying In Childhood May Predict Serious Problems Later In Life.

إرسال تعليق