Para ilmuwan Korea Selatan menciptakan pakaian robot berbahan “otot buatan” yang dapat membantu pengguna mengangkat beban lebih ringan dan bergerak lebih mudah.
Ringkasan
- Ilmuwan Korea Selatan menciptakan pakaian robot berbasis “otot kain” yang mampu mengurangi beban otot hingga 40 persen.
- Teknologi memakai serat shape-memory alloy supertipis yang berkontraksi saat dipanaskan, meniru kerja otot manusia.
- Jaket robot ringan ini berpotensi membantu lansia, pasien kelemahan otot, hingga pekerja fisik dalam aktivitas sehari-hari.
BAYANGKAN mengenakan jaket biasa, tetapi saat dipakai, tubuhmu tiba-tiba terasa lebih kuat. Mengangkat barang berat jadi lebih ringan, bahu tidak cepat pegal, dan otot tidak mudah lelah.
Teknologi yang terdengar seperti perlengkapan superhero itu kini mulai mendekati kenyataan.
Tim peneliti dari Advanced Robotics Research Center di Korea Institute of Machinery and Materials (KIMM), Korea Selatan, berhasil mengembangkan pakaian robot yang menggunakan “otot buatan” berbentuk serat kain.
Teknologi ini diklaim mampu meningkatkan kekuatan pemakai sekaligus mengurangi beban otot hingga lebih dari 40 persen.
Berbeda dengan exoskeleton robot besar yang sering muncul di film fiksi ilmiah, teknologi baru ini jauh lebih ringan dan nyaman dipakai. Bentuknya bahkan menyerupai jaket biasa.
Masalah besar wearable robot
Teknologi wearable robot atau robot yang dikenakan manusia memang sudah dikembangkan di banyak negara.
Tujuannya beragam, mulai dari membantu pekerja mengangkat barang berat, mendukung lansia agar tetap aktif, hingga membantu pasien dengan gangguan otot.
Namun ada satu masalah besar, sebagian besar perangkat itu terlalu berat, berisik, mahal, dan tidak nyaman digunakan dalam waktu lama.
Banyak exoskeleton modern masih memakai motor listrik besar atau sistem pneumatik berbasis udara bertekanan. Akibatnya, perangkat menjadi kaku dan sulit digunakan sehari-hari.
Menurut peneliti utama proyek ini, Dr. Cheol Hoon Park, dunia sedang memasuki era “super-aged society”, yakni masyarakat dengan populasi lansia yang sangat tinggi.
Karena itu, kebutuhan terhadap teknologi pendukung gerak diperkirakan akan meningkat drastis dalam beberapa dekade mendatang.
“Kami membutuhkan teknologi yang ringan, nyaman, dan terjangkau,” jelas Park kepada The Debrief.
Rahasia kekuatan
Alih-alih memakai motor besar, tim KIMM menggunakan bahan bernama shape-memory alloy (SMA), yaitu logam khusus yang bisa berubah bentuk saat dipanaskan.
Mereka membuat serat logam supertipis dengan diameter hanya sekitar 25 mikrometer, sekitar seperempat ketebalan rambut manusia.
Serat ini kemudian dipilin menjadi benang kecil berbentuk spiral yang dapat ditenun layaknya kain biasa.
Ketika dialiri listrik dari baterai kecil, suhu serat meningkat hingga sekitar 40–50 derajat Celsius. Panas ini membuat serat menyusut seperti otot manusia yang sedang berkontraksi.
Menariknya, pengguna hampir tidak merasakan panas tersebut karena lapisan kain isolasi melindungi tubuh dari suhu tinggi.
“Seperti otot manusia, material ini akan berkontraksi saat panas dan kembali rileks saat dingin,” kata Park.
Untuk aktivitas berat berulang, seperti mengangkat barang berkali-kali, sistem pendingin kecil dapat membantu mempercepat proses pendinginan serat agar gerakan tetap responsif.
Ringan, tapi sangat kuat
Salah satu hal paling mengejutkan dari teknologi ini adalah rasio kekuatannya. Hanya dengan 10 gram kain otot buatan, sistem tersebut mampu membantu mengangkat beban hingga 10–15 kilogram.
Prototipe jaket robot buatan KIMM memiliki berat kurang dari 2 kilogram, termasuk baterai dan pengontrol elektronik di bagian belakang. Meski ringan, jaket itu dapat membantu gerakan siku, bahu, dan pinggang secara bersamaan.
Dalam pengujian laboratorium, penggunaan jaket robot ini berhasil mengurangi beban kerja otot lebih dari 40 persen saat melakukan tugas fisik berulang.
Tak hanya itu, versi khusus pendukung bahu dengan berat hanya 840 gram juga diuji pada pasien dengan kelemahan otot di Seoul National University Hospital. Hasilnya cukup mengesankan: jangkauan gerak bahu pasien meningkat rata-rata lebih dari 57 persen.
Teknologi ini diuji pada pasien dengan gangguan neuromuskular, termasuk Duchenne muscular dystrophy, penyakit genetik yang menyebabkan otot melemah secara progresif.
Potensi penggunaan
Saat ini tim KIMM juga sedang mengembangkan versi celana robot. Tujuannya membantu orang yang kesulitan berjalan di tanjakan, menaiki tangga, atau berdiri terlalu lama.
Potensi penggunaannya sangat luas. Teknologi semacam ini bisa membantu pekerja gudang, tenaga medis, lansia, hingga pasien rehabilitasi.
Di sisi lain, teknologi ini juga memunculkan bayangan tentang “manusia super” ala militer. Namun Park menegaskan bahwa tujuan utama penelitian mereka adalah meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
“Kami berharap teknologi ini membuat robot wearable lebih mudah diakses dan benar-benar membantu banyak orang,” ujarnya.
Pengembangan di laboratorium
Meski terdengar futuristis, pakaian robot ini belum dijual bebas. Teknologinya masih berada dalam tahap pengembangan laboratorium dan membutuhkan mitra industri untuk produksi massal.
Namun tim KIMM mengaku sudah berhasil membuat mesin produksi kain otot buatan serta prototipe yang berfungsi penuh. Jika kerja sama industri berhasil tercapai, produk komersialnya diperkirakan bisa hadir dalam satu hingga dua tahun ke depan.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa masa depan teknologi wearable mungkin tidak lagi berbentuk robot besar dan kaku, melainkan pakaian biasa yang diam-diam membuat tubuh manusia jauh lebih kuat.
Disadur dari The Debrief - Superhero Strength from Futuristic Clothing? ...

إرسال تعليق