Racun Purba 100 Juta Tahun Bisa Jadi Penyelamat Pertanian

Ilmuwan menemukan racun bakteri purba dari tanah yang mampu membunuh serangga dan berpotensi jadi pestisida serta antibiotik baru.


Ilmuwan menemukan racun bakteri purba dari tanah yang mampu membunuh serangga dan berpotensi jadi pestisida serta antibiotik baru.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Ilmuwan menemukan racun purba dari bakteri tanah yang khusus membunuh serangga tanpa membahayakan manusia.
  • Racun ini berusia lebih dari 100 juta tahun dan bekerja melalui reseptor khusus pada sel serangga.
  • Berpotensi digunakan sebagai pestisida ramah lingkungan dan sumber antibiotik baru.


DI bawah kaki kita, di halaman rumah, taman, hingga lapangan,  sebenarnya dipenuhi oleh bakteri bernama Streptomyces. Bakteri ini adalah salah satu organisme paling melimpah di Bumi.


Selama ini, kita mengenal mereka sebagai penghasil bau tanah yang khas, namun bagi para ilmuwan, mereka adalah "pabrik farmasi alami".


Bakteri ini memproduksi banyak senyawa yang digunakan dalam dunia kedokteran, mulai dari obat antikanker, penekan imun, hingga antibiotik yang kita gunakan sehari-hari.


Namun, studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature Microbiology menunjukkan bahwa kemampuan kimiawi bakteri ini jauh lebih kompleks dari yang kita duga.


Para peneliti dari McMaster University, Harvard, dan Yale menemukan kelas racun baru yang mereka beri nama Streptomyces antiquus insecticidal proteins (SAIPs).


Secara struktur, racun ini mirip dengan racun difteri yang mematikan bagi manusia. Namun, jangan khawatir! SAIPs tidak membuat manusia sakit.


Racun ini bekerja sangat spesifik. Menggunakan teknologi pengeditan gen CRISPR, tim menemukan bahwa SAIPs membutuhkan protein permukaan sel yang disebut "Flower" untuk bisa masuk dan merusak sel.


Menariknya, versi protein Flower yang bisa diikat oleh racun ini hanya dimiliki oleh serangga. Tanpa "pintu masuk" ini, racun tersebut tidak berdaya terhadap sel manusia.


Melalui analisis genomik, tim peneliti melacak jejak evolusi racun ini hingga lebih dari 100 juta tahun yang lalu. Artinya, bakteri ini sudah berperang melawan serangga sejak zaman Cretaceous, saat dinosaurus masih berkeliaran.


Cameron Currie, profesor dari McMaster University, menduga, racun purba dari Streptomyces ini mungkin merupakan "nenek moyang" atau wadah evolusi bagi racun difteri yang kita kenal sekarang pada manusia.


Bakteri penyebab difteri diduga mendapatkan kemampuan beracunnya dari spesies bakteri lain di masa lalu.


Sebagian besar spesies Streptomyces sebenarnya hidup harmonis dengan serangga. Namun, kelompok kecil yang ditemukan peneliti ini justru bersifat patogen (penyebab penyakit).


Mereka tidak hanya membunuh serangga, tetapi juga sangat efisien dalam "memakan" inangnya yang mati sebagai sumber nutrisi.


Sambil mengurai jaringan serangga, bakteri ini juga memproduksi bahan kimia antimikroba yang kuat untuk mengusir bakteri pesaing lainnya.


Inilah yang membuat para peneliti optimis bahwa strain ini bisa menjadi sumber antibiotik baru yang belum tersentuh.


Potensi SAIPs sangat luas. Selain sebagai kandidat antibiotik, racun ini bisa dikembangkan menjadi pestisida alami untuk melindungi tanaman dari hama atau mengendalikan vektor penyakit seperti nyamuk pembawa malaria.


Sama seperti toksin botulinum yang kita kenal sebagai Botox untuk kosmetik dan medis, SAIPs diharapkan bisa memiliki aplikasi praktis yang besar di masa depan.


Saat ini, para peneliti telah mematenkan temuan mereka dan mulai menjajaki jalur komersialisasi, terutama di sektor pertanian yang sangat membutuhkan solusi pembasmi hama yang aman bagi lingkungan.


Disadur dari Phys.org - Buried in soil, a 100-million-year-old bacterial toxin could reshape pest control and antibiotic discovery.




Post a Comment

Lebih baru Lebih lama