Startup asal India memperkenalkan kompor berbahan bakar hidrogen dari air, diklaim hemat listrik, namun efisiensinya masih diperdebatkan.
Ringkasan
- Startup GreenVize mengembangkan kompor hidrogen yang menghasilkan bahan bakar dari air menggunakan listrik.
- Klaim hemat energi ada, tapi efisiensi nyata lebih rendah dan daya memasak relatif kecil.
- Teknologi ini ramah lingkungan dan fleksibel, namun masih menghadapi tantangan praktis dan biaya.
MEMASAK dengan air dan sedikit listrik. Kedengarannya seperti trik sulap, tapi startup GreenVize Energy Solutions mengklaim hal itu bisa dilakukan lewat kompor berbasis hidrogen yang mereka kembangkan.
Teknologi ini memanfaatkan metode yang sebenarnya sudah dikenal di dunia sains: elektrolisis air, khususnya menggunakan sistem Proton Exchange Membrane (PEM).
Dalam proses ini, air (H₂O) dipecah menjadi hidrogen (H₂) dan oksigen (O₂) menggunakan listrik.
Hidrogen yang dihasilkan langsung digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak, sementara oksigen dilepas ke udara.
Ketika hidrogen dibakar, hasil akhirnya hanyalah uap air, tanpa emisi karbon. Kedengarannya sangat ramah lingkungan.
Menurut klaim perusahaan, sistem ini hanya membutuhkan sekitar 100 ml air dan 1 kWh listrik untuk memasak hingga enam jam. Sebagai perbandingan, kompor induksi biasa bisa menghabiskan 9–12 kWh untuk durasi yang sama.
Jika benar, ini seperti “diskon listrik” besar-besaran. Namun di sinilah ceritanya menjadi lebih rumit.
Secara fisika, proses elektrolisis tidaklah 100% efisien. Sistem PEM umumnya hanya mencapai efisiensi sekitar 65–75%. Artinya, sebagian energi listrik hilang saat mengubah air menjadi hidrogen.
Ditambah lagi, ada kehilangan energi saat pembakaran hidrogen. Hasil akhirnya? Dari 1 kWh listrik, hanya sekitar 0,5–0,6 kWh yang benar-benar berubah menjadi panas untuk memasak.
Jika klaim “6 jam memasak dengan 1 kWh” benar, maka daya kompor tersebut kira-kira hanya sekitar 100 watt per tungku.
Sebagai pembanding, kompor induksi biasanya bekerja di kisaran 1.500–2.000 watt. Perbedaannya bukan sekadar angka, ini berarti waktu memasak bisa jauh lebih lama.
Merebus satu liter air dengan kompor induksi mungkin hanya butuh beberapa menit. Dengan sistem hidrogen ini? Bisa lebih dari satu jam.
Jadi, meskipun secara teknis efisien dalam konsumsi listrik, performanya kemungkinan jauh lebih lambat. Cocok untuk memasak perlahan, tapi mungkin kurang praktis untuk kebutuhan dapur cepat.
Meski begitu, teknologi ini tetap menarik. Salah satu keunggulannya adalah sistem “on-demand”, hidrogen diproduksi saat dibutuhkan, tanpa perlu penyimpanan.
Namun, opsi penyimpanan tetap tersedia jika pengguna ingin memproduksi hidrogen saat listrik murah (misalnya dari panel surya) dan menggunakannya nanti.
Pendekatan ini bisa berguna untuk dapur komunitas, hotel, atau daerah dengan akses energi terbarukan yang melimpah.
Selain itu, tidak adanya emisi karbon membuatnya lebih ramah lingkungan dibanding kompor berbahan bakar fosil seperti LPG.
Teknologi hidrogen memang sedang naik daun dalam transisi energi global. Selain untuk transportasi dan industri, penggunaannya di rumah tangga mulai dilirik.
Namun, seperti banyak inovasi baru, masih ada tantangan besar, terutama soal efisiensi, biaya, dan kepraktisan.
Dengan harga sekitar 105.000 hingga 150.000 rupee (sekitar Rp17–25 juta), kompor ini juga belum bisa dibilang murah.
Disadur dari New Atlas — Now we're cooking with water! Startup offers a hydrogen-powered stove

Posting Komentar