Studi baru menunjukkan fluktuasi gangguan napas saat tidur meningkatkan risiko penyakit jantung, bahkan jika gejalanya tampak ringan.
Ringkasan
- Fluktuasi sleep apnea dari malam ke malam meningkatkan risiko penyakit jantung hingga 30%.
- Tes tidur satu malam bisa menyesatkan dan gagal mendeteksi risiko tersembunyi.
- Pemantauan tidur jangka panjang penting untuk diagnosis dan pencegahan dini.
PENELITI dari Flinders University mengungkapkan, bukan hanya tingkat keparahan gangguan tidur yang berbahaya, tetapi juga seberapa tidak stabil kondisi tersebut dari malam ke malam.
Orang dengan variasi besar dalam gangguan tidur, khususnya sleep apnea, memiliki risiko hingga 30 persen lebih tinggi mengalami serangan jantung, stroke, atau gagal jantung.
Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah SLEEP dan menyoroti pentingnya melihat pola tidur sebagai proses dinamis, bukan sekadar hasil pengukuran satu malam.
Selama ini, diagnosis sleep apnea umumnya hanya dilakukan dalam satu sesi pemeriksaan, yang bisa jadi tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.
Sleep apnea obstruktif sendiri adalah kondisi ketika pernapasan berulang kali terhenti saat tidur. Gejalanya meliputi dengkuran keras, tidur gelisah, dan rasa lelah di siang hari.
Namun, di balik gejala tersebut, kondisi ini berkaitan erat dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.
Dalam studi ini, lebih dari 3.000 orang dewasa dipantau menggunakan sensor khusus yang diletakkan di bawah kasur mereka.
Data dikumpulkan selama beberapa bulan, memungkinkan peneliti melihat variasi kondisi tidur secara lebih akurat.
Hasilnya cukup mengejutkan. Mereka yang mengalami fluktuasi besar dalam gangguan napas saat tidur ternyata lebih rentan terhadap penyakit jantung, terlepas dari tingkat keparahan rata-rata sleep apnea mereka.
Menurut peneliti utama, Dr Bastien Lechat, banyak orang menganggap sleep apnea sebagai kondisi yang stabil. Padahal, kenyataannya bisa sangat berbeda.
“Beberapa malam bisa jauh lebih buruk dibandingkan yang lain, dan fluktuasi ini memberi tekanan tambahan pada jantung,” ujarnya.
Hal ini diperkuat oleh peneliti senior, Danny Eckert, yang menjelaskan bahwa tubuh kesulitan beradaptasi terhadap perubahan kadar oksigen yang naik turun secara terus-menerus.
Kondisi ini dapat “diam-diam” merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung dalam jangka panjang.
Temuan ini juga didukung oleh studi internasional lain yang melibatkan hampir 30.000 partisipan.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa sleep apnea yang parah, variasi tinggi antar malam, serta kebiasaan mendengkur berkaitan dengan percepatan penuaan pembuluh darah, indikator awal penyakit kardiovaskular.
Menariknya, studi yang dipimpin Dr Lucia Pinilla menemukan bahwa individu dengan sleep apnea ringan tetapi fluktuatif memiliki kondisi pembuluh darah yang setara dengan mereka yang mengalami sleep apnea berat.
Artinya, ada kelompok “tersembunyi” yang berisiko tinggi namun sering luput dari diagnosis.
Para peneliti menekankan pentingnya pemantauan tidur dalam jangka panjang.
Dengan berkembangnya teknologi kesehatan berbasis rumah, kini memungkinkan seseorang memantau kualitas tidur mereka secara berkelanjutan, bukan hanya melalui satu kali tes di laboratorium.
Pendekatan ini mirip dengan cara kita memantau tekanan darah atau gula darah, yang diukur secara berkala untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat.
Dengan kata lain, tidur perlu diperlakukan sebagai indikator kesehatan yang dinamis.
Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa studi ini belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung.
Namun, korelasi yang kuat menunjukkan bahwa metode diagnosis sleep apnea perlu diperbarui agar lebih sensitif terhadap variasi kondisi.
Penyakit jantung sendiri masih menjadi penyebab kematian utama di dunia.
Oleh karena itu, memahami faktor risiko yang tersembunyi—seperti pola tidur yang tidak stabil, bisa menjadi langkah penting dalam pencegahan dini.
Sumber: Scimex - Sleep patterns may reveal hidden heart risks

إرسال تعليق