Monyet berhidung panjang khas Kalimantan terancam punah akibat kerusakan hutan, namun upaya restorasi mulai menunjukkan tanda-tanda harapan.
Ringkasan
- Bekantan memiliki hidung besar yang berfungsi sebagai simbol status dan daya tarik seksual.
- Populasinya menurun drastis akibat hilangnya habitat dan perburuan.
- Upaya restorasi hutan menunjukkan hasil positif dan memberi harapan bagi kelestariannya.
DI hutan-hutan rawa dan mangrove Borneo, hidup seekor primata unik yang mudah dikenali, Monyet Bekantan.
Ciri paling mencoloknya adalah hidung besar, terutama pada jantan, yang bisa mencapai hampir 18 sentimeter.
Bagi manusia mungkin tampak aneh, tetapi di dunia bekantan, hidung besar adalah simbol status dan daya tarik seksual.
Seperti tokoh Cyrano de Bergerac yang terkenal dengan hidungnya, bekantan jantan tak perlu puisi untuk memikat pasangan.
Semakin besar hidungnya, biasanya semakin besar pula tubuhnya, dan semakin tinggi peluangnya untuk menarik betina.
Hidung itu juga berperan dalam menghasilkan suara dengusan khas yang dalam, yang bisa terdengar di sepanjang sungai tempat mereka tinggal.
Bekantan hidup di ekosistem pesisir, terutama hutan bakau dan tepian sungai. Mereka memakan daun muda dan buah yang belum matang.
Menariknya, bekantan termasuk primata yang paling “akrab” dengan air.
Mereka bisa berenang menyeberangi sungai—bahkan yang dihuni buaya—dengan bantuan jari-jari tangan dan kaki yang sebagian berselaput.
Setiap malam, kawanan bekantan kembali ke pohon-pohon di tepi sungai untuk beristirahat.
Para peneliti menduga kebiasaan ini adalah strategi bertahan hidup. Air menjadi penghalang alami bagi predator seperti macan dahan yang mahir memanjat.
Namun, ketergantungan pada habitat tepian air ini justru menjadi kelemahan. Dalam beberapa dekade terakhir, banyak hutan di Kalimantan dan sekitarnya ditebang untuk pertanian dan perkebunan.
Selain itu, di beberapa wilayah, bekantan juga diburu untuk konsumsi dan pengobatan tradisional.
Menurut data yang dikompilasi dari berbagai studi, populasi bekantan saat ini diperkirakan hanya sekitar 20.000 hingga 25.000 individu.
International Union for Conservation of Nature telah mengkategorikan spesies ini sebagai “terancam punah” sejak tahun 2000, dengan penurunan populasi lebih dari 70 persen dalam empat dekade terakhir.
Kondisi ini terlihat jelas di kawasan Sungai Kinabatangan.
Sekitar 80 persen hutan alami di dataran banjir sungai tersebut telah hilang akibat pembalakan dan ekspansi pertanian. Akibatnya, populasi bekantan terpecah-pecah dalam habitat kecil yang terisolasi.
Meski begitu, secercah harapan muncul dari upaya konservasi. Organisasi lingkungan Hutan telah menanam lebih dari 246.000 pohon asli sejak 2008 untuk memulihkan koridor hutan di sepanjang sungai.
Mereka juga bekerja sama dengan petani lokal untuk menanam pohon di lahan pertanian.
Hasilnya mulai terlihat. Beberapa tahun setelah area perkebunan kelapa sawit ditanami kembali dengan vegetasi asli, bekantan mulai kembali.
Kini, beberapa keluarga bekantan dapat diamati secara rutin di wilayah tersebut.
Menurut dokter hewan sekaligus konservasionis Marc Ancrenaz, keberhasilan ini menunjukkan bahwa bekantan tidak selalu membutuhkan hutan yang sempurna untuk bertahan.
Bahkan restorasi kecil pun bisa membuat habitat kembali layak huni.
Pendekatan ini membuka peluang besar: menghubungkan fragmen-fragmen hutan yang tersisa melalui restorasi dan agroforestri.
Dengan cara ini, populasi bekantan yang terpecah bisa kembali terhubung dan berkembang.
Kisah bekantan adalah pengingat bahwa keunikan alam bisa sekaligus menjadi kekuatan dan kerentanan.
Hidung besar yang membuat mereka terkenal tidak cukup untuk menyelamatkan mereka dari ancaman manusia. Namun, dengan upaya konservasi yang tepat, masa depan primata unik ini masih bisa diselamatkan.
Sumber: Smithsonian Magazine - The Endangered Proboscis Monkey Is Easily Identifiable By One Physical Trait: Its Supersized Schnoz

Posting Komentar