Hanya Hitungan Jam, Lebih dari 10 Juta Ikan Dilahap Predator

Lebih dari 10 juta ikan kecil dilahap predator dalam beberapa jam di lepas pantai Norwegia, menjadi peristiwa predasi laut terbesar yang pernah terekam.


Lebih dari 10 juta ikan kecil dilahap predator dalam beberapa jam di lepas pantai Norwegia, menjadi peristiwa predasi laut terbesar yang pernah terekam.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan 

  • Lebih dari 10 juta ikan capelin dimakan oleh ikan kod dalam beberapa jam—terbesar yang pernah tercatat.
  • Teknologi sonar OAWRS memungkinkan ilmuwan memantau interaksi predator-mangsa dalam skala luas.
  • Perubahan iklim berpotensi meningkatkan risiko peristiwa predasi besar di masa depan.


DI perairan dingin dekat Norwegia, sebuah drama alam berskala raksasa terjadi tanpa disadari manusia. 


Pada Februari 2024, jutaan ikan kecil jenis capelin berkumpul untuk bertelur. Namun bukannya berkembang biak dengan aman, mereka justru menjadi sasaran predator utama mereka, ikan kod Atlantik.


Peristiwa ini bukan sekadar interaksi biasa antara pemangsa dan mangsa. 


Para peneliti dari MIT dan Norwegia menyebutnya sebagai "peristiwa predasi laut terbesar yang pernah tercatat." Lebih dari 10 juta ikan capelin dimakan hanya dalam hitungan jam.


Fenomena ini berhasil diamati berkat teknologi canggih bernama Ocean Acoustic Waveguide Remote Sensing (OAWRS). 


Sistem ini memungkinkan ilmuwan “melihat” pergerakan ikan dalam skala luas menggunakan gelombang suara. 


Dengan teknologi tersebut, peneliti dapat membedakan spesies ikan berdasarkan karakteristik suara gelembung renang mereka.


Capelin menghasilkan frekuensi tinggi, sementara kod Atlantik menghasilkan nada lebih rendah.


Pada pagi hari 27 Februari, capelin yang sebelumnya tersebar mulai berkumpul membentuk kawanan besar sepanjang lebih dari 10 kilometer. 


Dalam kondisi tertentu, ikan-ikan ini mencapai “kepadatan kritis” yang membuat mereka bergerak serempak seperti satu entitas besar—strategi bertahan hidup yang umum di dunia laut.


Namun strategi ini justru menjadi bumerang. Kepadatan tinggi membuat kawanan capelin mudah terdeteksi predator. 


Tak lama kemudian, sekitar 2,5 juta ikan kod Atlantik berkumpul dan melancarkan serangan terkoordinasi. Dalam waktu singkat, hampir setengah kawanan capelin lenyap.


Menurut Nicholas Makris, peneliti utama dari MIT, peristiwa ini menyerupai “pertempuran bertahan hidup dalam skala masif”. 


Interaksi predator-mangsa yang biasanya terjadi dalam skala kecil, kini terlihat dalam bentuk yang jauh lebih dramatis dan terorganisir.


Meski terdengar menghancurkan, peristiwa ini tidak serta-merta mengancam populasi capelin secara keseluruhan. 


Kawanan yang dimangsa hanya sekitar 0,1% dari total populasi yang bertelur di wilayah tersebut. Namun, para ilmuwan tetap memberi peringatan: perubahan iklim bisa memperburuk situasi ini di masa depan.


Pencairan es di Arktik membuat capelin harus bermigrasi lebih jauh untuk mencapai lokasi pemijahan. Perjalanan yang lebih panjang berarti risiko lebih tinggi bertemu predator dalam jumlah besar. 


Jika pola ini terus berulang, keseimbangan ekosistem laut bisa terganggu.


Capelin sendiri merupakan spesies kunci dalam rantai makanan laut. Mereka menjadi sumber makanan utama bagi banyak predator, termasuk ikan kod, burung laut, dan mamalia laut. 


Ketidakseimbangan populasi capelin dapat berdampak luas pada ekosistem.


Penelitian ini juga membuka peluang baru dalam pemantauan ekosistem laut. Teknologi OAWRS memungkinkan ilmuwan mendeteksi perubahan populasi ikan dalam skala besar sebelum terjadi krisis. 


Makris bahkan menyebut bahwa menjelang kepunahan, sering kali terlihat satu kawanan besar terakhir—dan ketika itu hilang, populasi bisa runtuh.


Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications Biology.


Sumber: ZME Science – More than 10 million fish devoured in just a few hours



Post a Comment

Lebih baru Lebih lama