Garam, Plastik, dan Panas, Rusak Tanah Kota Diam-diam

Penelitian menunjukkan tanah perkotaan rusak perlahan akibat kombinasi panas, garam, dan polusi plastik sebelum gejalanya terlihat jelas.


Penelitian menunjukkan tanah perkotaan rusak perlahan akibat kombinasi panas, garam, dan polusi plastik sebelum gejalanya terlihat jelas.Ilustrasi: vecstock/Freepik


Ringkasan 

  • Tanah kota rusak akibat kombinasi panas, garam, dan mikroplastik, bukan satu faktor tunggal.
  • Kerusakan dimulai dari mikroba dan struktur tanah sebelum terlihat di permukaan.
  • Mengurangi satu tekanan saja bisa membantu pemulihan, tapi solusi perlu bersifat menyeluruh.


TANAH di perkotaam mengalami kerusakan serius tanpa manusia sadari. 


Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kombinasi garam, mikroplastik, dan suhu ekstrem secara perlahan melemahkan kesehatan tanah perkotaan, hingga fungsinya runtuh tanpa tanda awal yang mencolok.


Studi yang dipublikasikan di jurnal Nature ini mengungkap bahwa tanah kota tidak rusak karena satu faktor saja, melainkan akibat tekanan berlapis yang saling memperkuat. 


Ketika tanah kehilangan kemampuannya menyerap air dan “bernapas”, risiko banjir meningkat dan tanaman kota kehilangan penopang hidupnya.


Penelitian ini dipimpin oleh Rebecca Rongstock, peneliti biologi dari Freie Universität Berlin, Jerman. 


Bersama timnya di Rillig Group, ia menyelidiki bagaimana tekanan khas perkotaan memengaruhi struktur tanah dan kehidupan mikroba di dalamnya.


Dalam eksperimennya, para peneliti menggunakan 140 sampel tanah yang diberi enam jenis tekanan lingkungan yang biasa terjadi di kota: 

  • panas, 
  • kekeringan, 
  • garam, 
  • mikroplastik, 
  • deterjen (surfaktan), 
  • dan perubahan struktur tanah. 


Penelitian dilakukan selama enam minggu di ruang iklim buatan tanpa tanaman, untuk mengisolasi dampak masing-masing faktor.


Pendekatan yang digunakan disebut subtractive design, para peneliti menghilangkan satu faktor dari kombinasi lengkap untuk melihat seberapa besar perannya. 


Hasilnya menunjukkan bahwa kerusakan tanah tidak muncul dari satu penyebab, melainkan dari interaksi kompleks antarstres.


Struktur tanah menjadi kunci utama. Tanah sehat memiliki agregat stabil, gumpalan kecil yang memungkinkan air dan udara bergerak bebas. 


Mikroba dan akar tanaman membantu “merekatkan” struktur ini. Namun saat tekanan meningkat, agregat runtuh, pori-pori tertutup, dan air tak lagi terserap dengan baik.


Mikroorganisme tanah berperan penting dalam daur nutrisi dan penyimpanan karbon. Dalam penelitian ini, aktivitas enzim mikroba digunakan sebagai indikator awal kerusakan tanah.


Hasilnya, ketika tekanan lingkungan menumpuk, aktivitas mikroba menurun drastis. Proses biologis melambat, tanah kehilangan kemampuannya memperbaiki diri, dan kerusakan menjadi lebih permanen.


Studi terkait sebelumnya juga menunjukkan bahwa tekanan global yang bertumpuk dapat mengubah komposisi mikroba tanah secara signifikan, mengganggu fungsi ekosistem dalam jangka panjang.


Menariknya, suhu tinggi awalnya tampak menguntungkan karena mempercepat aktivitas mikroba. Namun efek ini berubah ketika panas dikombinasikan dengan faktor lain.


“Eksperimen sering menunjukkan bahwa suhu tinggi sendiri bisa berdampak positif,” kata Rongstock. “Namun saat digabung dengan stres lain, hasilnya justru berbalik.”


Panas mempercepat penguapan, mengurangi kelembapan tanah, dan memekatkan zat berbahaya seperti garam. Akibatnya, mikroba semakin tertekan dan struktur tanah melemah.


Garam, terutama dari bahan pencair es dan limpasan jalan, terbukti sangat merusak. Salinitas tinggi menarik air keluar dari sel mikroba dan memperlambat aktivitas biologis.


Dalam eksperimen, menghilangkan garam dari kombinasi stres langsung memperbaiki sebagian besar fungsi tanah. Ini menunjukkan, garam merupakan salah satu faktor paling merusak dalam ekosistem perkotaan.


Kekeringan juga memperburuk situasi. Tanah kering menjadi lebih sulit menyerap air saat hujan, meningkatkan limpasan dan risiko banjir. 


Dalam kondisi ini, bahkan sedikit polutan bisa berdampak besar karena tidak ada air yang menetralkannya.


Partikel mikroplastik dari ban kendaraan dan debu kota ikut menambah beban tanah. Meski efeknya tampak kecil jika berdiri sendiri, mikroplastik memperparah kerusakan saat digabung dengan panas dan kekeringan.


Surfaktan dari deterjen dan polusi jalan juga kehilangan manfaatnya ketika mikroba sudah melemah, sehingga tidak lagi membantu proses alami tanah.


Penelitian ini menegaskan bahwa memperbaiki satu masalah saja tidak cukup. 


Mengurangi satu tekanan, misalnya garam atau panas berlebih, bisa membantu tanah pulih lebih cepat, tetapi solusi jangka panjang harus menyasar banyak faktor sekaligus.


“Masalah utamanya adalah kita belum sepenuhnya memahami bagaimana berbagai stres saling berinteraksi,” kata Rongstock.


Dengan meningkatnya suhu global dan urbanisasi, kesehatan tanah kota akan menjadi isu penting. 


Tanah yang sehat bukan hanya menopang tanaman, tetapi juga membantu mencegah banjir, menyaring polusi, dan menjaga kestabilan iklim mikro perkotaan.


Disadur dari Earth.com – Salt, plastic, and extreme heat destroy urban soil health.



Post a Comment

Lebih baru Lebih lama