Berpikir Positif Ternyata Bisa Bikin Vaksin Lebih Ampuh

Penelitian menunjukkan bahwa pikiran penuh harapan dapat meningkatkan respons imun tubuh terhadap vaksin melalui aktivasi sistem penghargaan otak.


Penelitian menunjukkan bahwa pikiran penuh harapan dapat meningkatkan respons imun tubuh terhadap vaksin melalui aktivasi sistem penghargaan otak.Ilustrasi: wayhomestudio/Freepik


Ringkasan 

  • Penelitian menunjukkan berpikir positif dapat meningkatkan respons imun terhadap vaksin.
  • Aktivasi sistem penghargaan otak berkaitan dengan naiknya kadar antibodi.
  • Teknik ini bersifat pelengkap dan tidak menggantikan vaksin atau perawatan medis.


KAMU mungkin merasa kesal ketika mendengar saran untuk "berpikir positif" saat sedang sakit. Terasa klise, bukan?  Namun, jangan sepelekan saran tersebut. 


Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Medicine pada 19 Januari 2026, mengungkapkan bahwa "getaran positif" (good vibes) bukan sekadar sugesti, melainkan memiliki dampak fisik nyata pada tubuh kita.


Para peneliti menemukan adanya hubungan erat antara peningkatan aktivitas di sistem reward (penghargaan) otak, yang biasanya dipicu oleh pemikiran penuh harapan, dengan tingginya kadar antibodi pelindung setelah seseorang menerima vaksin. 


Dengan kata lain, optimisme bisa menjadi "booster" alami bagi sistem kekebalan tubuh kita.


Penelitian yang dipimpin oleh Talma Hendler, seorang psikiater dan ahli saraf dari Tel Aviv University, melibatkan 85 peserta selama rentang tahun 2020 hingga 2022. 


Sebagian peserta dilatih untuk meningkatkan aktivitas di sistem reward mesolimbik mereka, yaitu jalur saraf yang mencakup area ventral tegmental area (VTA) dan nucleus accumbens.


Caranya unik, para peserta diminta berbaring di pemindai otak sambil memikirkan kenangan indah, membayangkan kesuksesan di masa depan, atau sekadar memikirkan rutinitas harian yang menyenangkan. 


Melalui teknik neurofeedback, peserta bisa melihat aktivitas otak mereka secara real-time dan menyesuaikan strategi mental mereka agar area VTA tersebut tetap aktif.


"Ini adalah pembuktian pertama pada manusia bahwa jika Anda belajar merekrut sistem reward di otak, efektivitas imunisasi akan meningkat," ujar Hendler seperti dikutip dari The Guardian.


Setelah empat sesi latihan mental, para peserta diberikan vaksin hepatitis B. Tim peneliti kemudian mengambil sampel darah secara berkala. Hasilnya mengejutkan.


Semakin tinggi aktivitas di area VTA otak seseorang, semakin banyak pula antibodi yang diproduksi oleh tubuhnya untuk melawan virus. Efek ini bahkan masih terlihat kuat tiga bulan setelah vaksinasi.


Para ahli imunologi dari Washington University School of Medicine, dalam komentarnya di jurnal yang sama, menyebut fenomena ini sebagai "jalur harapan" (hope circuits). 


Mereka menekankan pentingnya mempertimbangkan faktor psikologis dalam lingkungan klinis.


Fenomena ini sebenarnya sejalan dengan bidang ilmu psikoneuroimunologi yang mempelajari hubungan antara proses psikologis, sistem saraf, dan sistem imun. 


Mengutip dari laman Healthline, stres kronis diketahui dapat meningkatkan hormon kortisol yang justru menekan kerja sel darah putih


Sebaliknya, emosi positif melepaskan dopamin dan neurotransmiter lain yang mampu menurunkan peradangan dan mendukung kerja sel imun.


Namun, Nitzan Lubianiker, peneliti dari Yale University, memberikan catatan penting. Ia menegaskan bahwa berpikir positif bukanlah pengganti obat-obatan atau vaksin itu sendiri. 


Metode ini dirancang sebagai alat pelengkap untuk memaksimalkan respons tubuh terhadap perawatan medis standar.


Jadi, tetaplah ikuti prosedur medis, namun jangan lupa untuk tetap menjaga suasana hati agar tetap ceria.


Disadur dari Smithsonian Magazine – Positive Thinking Might Boost Your Immune System’s Responses to Vaccines, New Research Suggests.




Post a Comment

Lebih baru Lebih lama