Asia Lebih Adaptif, Eropa Hadapi Gelombang Panas Mematikan

Studi terbaru mengungkap tren kematian manusia akibat cuaca ekstrem sejak 1988, dengan pola berbeda antarwilayah dunia.


Studi terbaru mengungkap tren kematian manusia akibat cuaca ekstrem sejak 1988, dengan pola berbeda antarwilayah dunia.Ilustrasi: Freepik 


Ringkasan


PERUBAHAN iklim tidak hanya soal suhu yang naik atau cuaca yang makin tak menentu, tetapi juga menyangkut dampak nyata pada keselamatan manusia.


Sebuah riset teranyar yang diterbitkan dalam jurnal Geophysical Research Letters memberikan perspektif baru yang mengejutkan. 


BB Cael dari Universitas Chicago membedah data dari Emergency Events Database (EM-DAT) sejak tahun 1988 hingga 2024 untuk melihat bagaimana manusia bertahan hidup di tengah amukan cuaca ekstrem.


Hasilnya? Ada kabar baik dari Asia, namun ada alarm peringatan keras untuk wilayah Eropa.


Selama periode 1988 hingga 2024, banjir dan badai di Asia memang tidak berkurang frekuensinya. Namun, jumlah orang yang meninggal akibat bencana tersebut turun drastis. 


Berkat peningkatan kapasitas adaptasi dan pembangunan yang lebih tangguh, diperkirakan sekitar 350.000 nyawa berhasil diselamatkan.


Cael mencatat bahwa pengurangan kerentanan ini setara dengan penurunan angka kematian sebesar 40%. 


Artinya, meskipun populasi Asia terus tumbuh pesat, kesiapan infrastruktur dan sistem peringatan dini terbukti mampu melawan keganasan alam. 


Asia menunjukkan bahwa meski iklim kian ekstrem, manusia bisa menjadi lebih tangguh jika bersiap diri.


Kondisi berbeda dialami oleh "Benua Biru". Studi tersebut mengonfirmasi bahwa gelombang panas di Eropa kini jauh lebih mematikan daripada sebelumnya. 


Pola kematian di sana telah bergeser; jika dulu kematian banyak terjadi di musim dingin akibat suhu dingin yang ekstrem, kini kematian justru melonjak pada musim semi dan musim panas (Mei hingga Agustus).


Menariknya, lonjakan kematian ini bukan karena ledakan populasi, sebab penduduk Eropa hanya tumbuh kurang dari 4% sejak 1988, melainkan karena frekuensi gelombang panas yang kini jauh melampaui frekuensi suhu dingin ekstrem.


Salah satu catatan penting dalam studi ini adalah Badai Daniel yang menghantam wilayah Mediterania, khususnya Libya, pada September 2023. 


Bencana ini menewaskan sekitar 13.200 orang setelah bendungan Abu Mansour dan Derna jebol. Secara statistik, Cael menyebut peristiwa ini sebagai outlier atau anomali yang hanya terjadi sekali dalam dua abad. 


Daniel dianggap sebagai peristiwa tunggal yang mengerikan dan tidak mengikuti tren statistik biasa di Afrika.


Data ini mengingatkan kita bahwa dampak iklim tidak hanya soal angka kematian, tapi juga kerugian ekonomi dan kerusakan ekosistem. 


Melansir dari Laporan Kesenjangan Adaptasi PBB (UNEP), pendanaan untuk adaptasi iklim global sebenarnya masih jauh dari kata cukup. 


Dunia membutuhkan biaya adaptasi 5 hingga 10 kali lebih besar dari yang ada saat ini untuk melindungi populasi yang rentan.


Penelitian Cael mempertegas bahwa di tempat di mana investasi adaptasi dilakukan (seperti Asia), hasilnya nyata, ratusan ribu nyawa terselamatkan. 


Namun, di wilayah seperti Amerika, belum ditemukan tren statistik yang signifikan, yang berarti ketidakpastian masih sangat tinggi.


"Meskipun ada penurunan angka kematian di Asia, bukan berarti risiko iklim di sana sudah hilang. Ini tetap menjadi perhatian besar bagi masa depan kita," pungkas Cael.


Disadur dari Phys.org – A new look at trends in human deaths due to climate extremes.




Post a Comment

Lebih baru Lebih lama