Penelitian arkeologi mengonfirmasi suku Aztec memelihara hewan liar di kebun binatang suci sebagai persediaan ritual kurban bagi para dewa.
Ringkasan
- Bukti arkeologis terbaru mengonfirmasi keberadaan kebun binatang kerajaan Aztec yang selama ini hanya dianggap legenda.
- Analisis pada tulang hewan kurban menunjukkan tanda-tanda perawatan manusia, seperti luka yang sembuh dan pola makan yang disediakan.
- Hewan-hewan ini dianggap sebagai perantara suci antara manusia dan dewa, sehingga dipelihara khusus untuk dikurbankan.
SELAMA berabad-abad, kisah tentang "Rumah Binatang Buas" di ibu kota Aztec, Tenochtitlan, sering kali dianggap sebagai bumbu sejarah yang dilebih-lebihkan oleh para penjelajah Spanyol.
Namun, sebuah penemuan terbaru membuktikan bahwa tulang-belulang tidak bisa berbohong. Para arkeolog kini memiliki bukti bahwa bangsa Aztec memang mengelola kebun binatang suci untuk kepentingan ritual.
Dalam catatan Florentine Codex, misionaris Bernardino de Sahagún pernah mendokumentasikan keberadaan kebun binatang kerajaan di dekat istana.
Begitu pula dengan penakluk Spanyol, Hernán Cortés, yang menggambarkan tempat itu sebagai hunian bagi seluruh kerajaan hewan, mulai dari katak, puma, ular, hingga bison.
Bagi bangsa Aztec, hewan-hewan ini adalah "makanan para dewa" yang harus dipelihara sebelum akhirnya dikurbankan.
Arkeolog Israel Elizalde Mendez baru-baru ini meneliti sisa-sisa dari 28 hewan yang ditemukan di lubang pengorbanan Huei Teocalli (Kuil Besar), Mexico City.
Di sana, ia menemukan kerangka elang emas, puyuh, jaguar, serigala, hingga burung roseate spoonbill.
Melalui studi osteologi (ilmu tulang) yang mendalam, Mendez berargumen bahwa hewan-hewan ini tidak pernah hidup bebas di alam liar.
Berdasarkan laporan dari INAH (Lembaga Antropologi dan Sejarah Nasional Meksiko), analisis pada tulang menunjukkan adanya trauma jangka panjang dan patah tulang yang telah sembuh.
Hal ini mengindikasikan bahwa hewan-hewan tersebut mendapatkan perawatan manusia selama di penangkaran.
Jika mereka berada di alam liar dengan luka seperti itu, mereka pasti sudah mati dimangsa atau kelaparan. Namun, di tangan bangsa Aztec, mereka justru dirawat agar tetap hidup sampai waktunya dikurbankan.
Tenochtitlan, yang sekarang menjadi Mexico City, dulunya adalah kota megah di atas pulau buatan di Danau Texcoco.
Di kota ini, kebun binatang bukan sekadar tempat rekreasi, melainkan instrumen politik dan agama yang tidak terpisahkan.
Hewan-hewan ini dianggap sebagai "perantara simbolis" yang mewakili elemen laut, tanah, dan langit dalam kosmologi Mexica.
Mendez menjelaskan bahwa serigala-serigala yang ditemukan kemungkinan besar sengaja dikembangbiakkan dalam penangkaran.
Pola makan mereka pun tidak menunjukkan jejak berburu; mereka diberi makan oleh manusia.
Dengan kata lain, hewan-hewan ini adalah "darah kehidupan" yang digunakan untuk menenangkan para dewa dan menjaga keseimbangan dunia.
Praktik pengorbanan dalam budaya Aztec tidak hanya terbatas pada hewan.
Melansir dari National Geographic, ritual pengorbanan dianggap sebagai bentuk "pembayaran utang" kepada para dewa yang telah menciptakan dunia.
Bangsa Aztec percaya bahwa tanpa darah kurban, matahari akan berhenti bergerak dan dunia akan berakhir.
Penggunaan hewan buas seperti jaguar menunjukkan betapa tingginya nilai kurban tersebut, mengingat jaguar adalah simbol kekuatan tertinggi dalam budaya Mesoamerika.
Meskipun struktur bangunan kebun binatang tersebut belum ditemukan secara utuh, bukti dari sisa-sisa tulang ini sudah cukup untuk mendukung catatan sejarah Spanyol.
Kebun binatang suci ini berfungsi sebagai ruang seremonial di mana para imam akan mengambil "persembahan hidup" untuk mempertahankan stabilitas spiritual dan politik kerajaan.
Penelitian ini memosisikan perawatan hewan sebagai pusat dari praktik ritual Mexica, mengubah pandangan kita tentang bagaimana bangsa Aztec berinteraksi dengan alam demi kepentingan religi mereka.
Disadur dari Interesting Engineering - Bones do not lie: Archaeologists confirm Aztecs use captive animals for ritual sacrifice.

Posting Komentar