Teori Waktu Tiga Dimensi yang Mengguncang Kosmos

Sebuah teori radikal menyatakan waktu memiliki tiga dimensi, membuka kemungkinan partikel bergerak ke banyak masa depan sekaligus.


Sebuah teori radikal menyatakan waktu memiliki tiga dimensi, membuka kemungkinan partikel bergerak ke banyak masa depan sekaligus.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan


BAYANGKAN alam semesta tempat waktu tidak lagi satu arah lurus dari masa lalu ke masa depan, melainkan memiliki tiga dimensi seperti ruang. 


Gagasan inilah yang diajukan dalam sebuah teori kontroversial, dan menurut para ilmuwan, konsep ini benar-benar “mengacaukan” pemahaman kita tentang kosmos.


Selama lebih dari satu abad, teori relativitas khusus Albert Einstein menjadi fondasi cara kita memahami alam semesta. 


Relativitas menyatukan ruang dan waktu ke dalam satu kesatuan empat dimensi yang disebut ruang-waktu: tiga dimensi ruang dan satu dimensi waktu. 


Dalam kerangka ini, waktu bersifat istimewa karena kita hanya bisa bergerak ke depan, menuju masa depan, sementara dalam ruang kita bebas bergerak ke segala arah. 


Teori ini juga menetapkan batas kecepatan kosmik: tidak ada objek bermassa yang dapat melampaui kecepatan cahaya.


Namun, fisika modern tidak hanya berdiri di atas relativitas. Ada mekanika kuantum, seperangkat aturan aneh yang mengatur dunia subatomik. 


Dalam ranah ini, partikel bisa berada di beberapa tempat sekaligus, perilakunya bersifat probabilistik, dan dua partikel yang terjerat (entangled) dapat saling memengaruhi secara instan, seolah melanggar batas kecepatan cahaya. 


Selama puluhan tahun, ketegangan antara relativitas dan mekanika kuantum menjadi salah satu teka-teki terbesar fisika.


Dalam upaya menjawab ketegangan tersebut, peneliti dari Universitas Warsawa dan Universitas Oxford mengajukan pertanyaan provokatif dalam makalah tahun 2022: bagaimana jika ada pengamat yang bergerak lebih cepat dari cahaya?* 


Secara intuitif, gagasan ini terdengar mustahil. Relativitas memang melarang objek bermassa dipercepat hingga melampaui kecepatan cahaya. 


Namun, secara matematis, teori Einstein masih memungkinkan keberadaan objek yang sejak awal sudah bergerak lebih cepat dari cahaya, meski objek itu tidak pernah bisa melambat hingga di bawah batas tersebut.


Bagi pengamat supercepat semacam itu, hubungan antara ruang dan waktu akan terbalik. Alih-alih melihat tiga dimensi ruang dan satu dimensi waktu, mereka justru akan melihat tiga dimensi waktu dan hanya satu dimensi ruang. 


Konsekuensinya sangat mengejutkan: partikel tidak lagi mengikuti satu lintasan tunggal, melainkan banyak lintasan sekaligus, seolah-olah mereka menjelajah beberapa masa depan dalam waktu bersamaan.


Dari sudut pandang kita, pengamat yang bergerak lebih lambat dari cahaya, objek semacam ini tidak tampak seperti partikel biasa. Mereka lebih menyerupai gelombang, mirip riak air yang menyebar ke segala arah ketika sebuah benda jatuh ke kolam. 


Analogi inilah yang menurut para peneliti dapat menjelaskan dualisme gelombang-partikel dalam mekanika kuantum.


Lebih jauh lagi, fenomena kuantum seperti probabilitas acak, keterikatan kuantum, dan perilaku non-lokal tidak lagi muncul sebagai “aturan aneh tanpa sebab”, melainkan sebagai konsekuensi alami dari perspektif tiga dimensi waktu. 


Dalam kerangka ini, konsep partikel bahkan menjadi kurang relevan. Yang benar-benar fundamental adalah medan, entitas yang menyebar di seluruh ruang dan waktu. 


Menariknya, banyak teori fisika modern, terutama yang membahas alam semesta awal, memang sudah menggunakan medan dengan sifat yang secara efektif lebih cepat dari cahaya.


Tentu saja, teori ini masih berada di wilayah spekulatif. 


Keberadaan partikel supercepat yang dikenal sebagai tachyon masih belum terbukti, dan jika benar ada, mereka akan mengguncang konsep sebab-akibat dan urutan waktu yang selama ini kita anggap mutlak. 


Namun, mekanika kuantum sendiri sudah lama menantang intuisi kita tentang realitas.


Apakah alam semesta benar-benar berjalan dengan aturan seaneh itu? 


Para ilmuwan belum tahu. Namun, teori waktu tiga dimensi ini menunjukkan bahwa mungkin masalahnya bukan pada alam semesta yang “aneh”, melainkan pada cara kita memandangnya.


Disadur dari Popular Mechanics - This Theory Says Time Has Three Dimensions. It ‘Really Messes Up’ What We Know About the Cosmos, Scientists Say


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama