Peneliti menemukan sandi historis yang mampu meniru pola statistik Manuskrip Voynich, memperkuat dugaan bahwa naskah misterius ini adalah teks tersandi.
Ringkasan
- Peneliti menemukan sandi historis yang mampu meniru pola teks Manuskrip Voynich.
- Sandi bernama Naibbe cipher menggunakan konsep kartu remi abad ke-15.
- Temuan ini memperkuat dugaan bahwa Voynich adalah teks tersandi, bukan omong kosong.
MANUSKRIP Voynich kembali menggoda rasa penasaran para ilmuwan. Naskah legendaris ini kerap dijuluki sebagai “buku paling misterius di dunia”.
Kini, manuskrip iti mendapat sorotan baru setelah sebuah studi menunjukkan bahwa pola teksnya bisa direplikasi menggunakan sandi yang secara historis masuk akal.
Penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Cryptologia ini dilakukan oleh Michael Greshko, seorang peneliti independen sekaligus jurnalis sains.
Ia menguji hipotesis lama bahwa Manuskrip Voynich bukan sekadar coretan tak bermakna, melainkan sebuah teks sandi (ciphertext) yang dibuat dengan metode enkripsi tertentu pada awal abad ke-15.
Manuskrip Voynich sendiri merupakan buku berukuran kecil (sekitar 23,5 x 16,2 cm) dengan sekitar 240 halaman, penuh ilustrasi botani, astronomi, dan figur-figur aneh yang hingga kini belum dapat ditafsirkan.
Analisis karbon menunjukkan bahwa perkamen naskah ini berasal dari periode 1404–1438, kemungkinan besar dari kawasan Eropa Tengah, khususnya wilayah Alpen.
Selama ratusan tahun, para peneliti terpecah ke dalam tiga kubu besar mengenai hakikat manuskrip ini.
Pertama, mereka yang menganggapnya sebagai omong kosong atau penipuan abad pertengahan.
Kedua, yang meyakini bahwa teks tersebut merupakan bahasa buatan atau bahasa alami yang telah punah.
Ketiga, kelompok yang percaya bahwa naskah ini adalah hasil penyandian dari bahasa umum seperti Latin, Italia, atau Jerman.
Dalam studi terbarunya, Greshko mencoba menguji hipotesis ketiga dengan menciptakan sistem sandi yang disebut Naibbe cipher. Nama ini diambil dari istilah permainan kartu abad ke-14 di Italia.
Sandi ini dirancang agar dapat dikerjakan menggunakan alat dan pengetahuan yang tersedia pada awal abad ke-15.
Naibbe cipher bekerja dengan cara memetakan satu huruf ke beberapa simbol atau rangkaian karakter, sejenis sandi substitusi homofonik yang kompleks.
Hasilnya adalah teks yang secara statistik menyerupai tulisan Voynich, panjang kata yang aneh, pola pengulangan khas, serta struktur yang tampak konsisten namun sulit dipahami.
Menariknya, sandi ini memanfaatkan kartu remi sebagai alat bantu. Greshko menjelaskan bahwa kartu sangat masuk akal secara historis.
Permainan kartu sudah dikenal di Eropa sejak akhir abad ke-14, dibawa dari dunia Islam melalui Kesultanan Mamluk.
Catatan tentang kartu bahkan muncul di Italia sejak 1377, termasuk larangan permainan “naibbe” di Florence.
Greshko mengembangkan dua versi sandi. Satu menggunakan dek tarot 78 kartu yang populer di Italia abad ke-15, dan satu lagi memakai dek standar 52 kartu.
Keduanya mampu menghasilkan teks dengan ciri statistik yang sangat mirip dengan Manuskrip Voynich.
Hasil ini memperkuat kemungkinan bahwa manuskrip tersebut memang merupakan teks tersandi, bukan sekadar omong kosong.
Meski begitu, Greshko menekankan bahwa sandinya belum mampu mereplikasi semua karakteristik naskah Voynich, khususnya variasi yang dikenal sebagai “Voynich B”.
“Naibbe cipher menunjukkan bahwa secara teknis mungkin untuk mengubah bahasa Latin atau Romance menjadi teks dengan sifat seperti Voynich,” tulis Greshko.
“Namun, kompleksitas manuskrip itu sendiri menunjukkan bahwa jika memang sandi, maka ia dibuat dengan tingkat kecanggihan luar biasa.”
Penelitian ini juga memberi perspektif baru tentang mengapa Manuskrip Voynich begitu sulit dipecahkan. Bukan karena isinya acak, melainkan karena metode penyandiannya mungkin dirancang untuk mengaburkan pola bahasa secara ekstrem.
Lebih jauh, studi ini membuka peluang riset lanjutan dengan pendekatan komputasional modern.
Dengan memadukan kecerdasan buatan dan analisis statistik, para ilmuwan berharap suatu hari dapat benar-benar “mendengar melodi” di balik kebisingan kode berusia enam abad itu.
Disadur dari Sci.News – Historically Plausible Cipher Recreates Statistical Signature of Voynich Manuscript.

إرسال تعليق