Dua Ciri Psikologis Ini Picu Pola Pikir Konspiratif

Pola psikologis tertentu membuat seseorang lebih rentan mempercayai teori konspirasi, bahkan saat berhadapan dengan fakta.


Pola psikologis tertentu membuat seseorang lebih rentan mempercayai teori konspirasi, bahkan saat berhadapan dengan fakta.Ilustrasi: Freepik


Ringkasan

  • Pola pikir konspiratif kuat dipengaruhi intoleransi terhadap ambiguitas dan keyakinan dunia yang tidak adil.
  • Teori konspirasi menawarkan narasi sederhana untuk menghadapi kompleksitas dan ketidakpastian.
  • Faktor psikologis ini lebih menentukan dibanding usia atau tingkat pendidikan.


TEORI konspirasi bukan barang, namun di era media sosial, keyakinan semacam ini tak lagi berada di pinggiran, melainkan semakin masuk ke arus utama dan memengaruhi diskursus publik, bahkan kebijakan. 


Kini, sebuah riset baru menunjukkan bahwa pola pikir konspiratif dapat diprediksi lewat dua ciri psikologis utama, yakni kesulitan menghadapi ambiguitas dan keyakinan bahwa dunia pada dasarnya tidak adil.


Studi yang dipimpin Adrian Furnham, profesor psikologi di Norwegian Business School, berupaya menyingkap pola mental dasar yang membuat seseorang cenderung menerima dan mempertahankan keyakinan itu, meski bertentangan dengan bukti empiris.


Secara klasik, teori konspirasi dipahami sebagai kepercayaan bahwa peristiwa besar dikendalikan oleh aktor rahasia dengan niat tersembunyi atau jahat. 


Dahulu, gagasan ini sering dianggap aneh dan terbatas pada kelompok kecil. Namun internet dan media sosial mengubah segalanya. 


Komunitas yang sebelumnya terpisah kini dapat saling terhubung, berbagi narasi, dan saling menguatkan keyakinan. Akibatnya, teori konspirasi kini merambah isu kesehatan, sains, politik, hingga ekonomi. 


Sejumlah penelitian sebelumnya telah mengkaji topik ini dari berbagai sisi: siapa target teori konspirasi, nilai dan kepribadian penganutnya, hingga cara paling efektif untuk meluruskannya. 


Meski demikian, menurut Furnham dan timnya, masih sedikit riset yang menyoroti “mindset menyeluruh” di balik kepercayaan tersebut.


Penelitian ini secara khusus menyoroti unsur penting dalam banyak teori konspirasi: keyakinan bahwa ada pihak berkuasa yang sengaja menutup-nutupi kebenaran. 


Dengan sudut pandang ini, penganut teori konspirasi bisa membalik kritik—orang yang skeptis justru dianggap sebagai pihak yang “tertipu”.


Untuk menguji hal ini, tim peneliti mensurvei 253 responden dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Australia, dan Afrika Selatan. Sebelumnya, para peserta telah mengikuti tes psikometrik. 


Mereka kemudian diminta menilai pernyataan seperti: “Banyak peristiwa penting di dunia yang tidak pernah diberitahukan kepada publik,” atau “Badan kesehatan sering tidak jujur kepada masyarakat karena kepentingan tertentu.”


Peneliti lalu menganalisis 14 variabel, mulai dari usia, jenis kelamin, keyakinan agama, orientasi politik, optimisme, harga diri, hingga rasa keadilan. 


Tujuannya untuk melihat faktor mana yang paling kuat memprediksi pola pikir konspiratif.


Hasilnya menunjukkan dua ciri psikologis paling konsisten. Pertama, intoleransi terhadap ambiguitas atau ketidakmampuan menerima situasi yang tidak sepenuhnya jelas atau penuh “abu-abu”. 


Individu dengan ciri ini cenderung cemas ketika menghadapi peristiwa yang kompleks atau acak. Teori konspirasi menawarkan narasi sederhana dengan sebab-akibat yang jelas, sehingga terasa lebih menenangkan.


Kedua, rasa bahwa dunia ini pada dasarnya tidak adil. Orang dengan pandangan ini sering menunjukkan sikap sinis, bahkan paranoid. 


Keyakinan bahwa ada “dalang” di balik ketidakadilan dunia membantu mereka memberi makna pada peristiwa yang rumit atau tak terduga.


Pola ini paling kuat terlihat pada laki-laki muda, terutama mereka yang memiliki keyakinan agama kuat dan pandangan politik kanan. 


Tim peneliti juga menemukan kecenderungan pola pikir otoriter, yang berkaitan erat dengan penolakan terhadap ketidakpastian.


Menariknya, Furnham mengaku terkejut karena intoleransi terhadap ambiguitas ternyata lebih kuat memprediksi keyakinan konspiratif dibanding faktor demografis seperti usia atau tingkat pendidikan. 


Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan formal saja belum tentu cukup untuk meredam kecenderungan berpikir konspiratif.


Meski sampel penelitian relatif kecil dan didominasi responden berpendidikan menengah ke atas, hasilnya menegaskan bahwa faktor psikologis ini layak mendapat perhatian serius. 


Terutama karena pola pikir “penutupan kebenaran” sering menjadi inti yang membuat teori konspirasi sulit dipatahkan.


Furnham menekankan bahwa teori konspirasi tidak bersifat tunggal. 


Untuk memahaminya, kita perlu melihat fungsi psikologis yang dimainkan teori tersebut bagi individu, apakah sebagai penjelasan dunia yang terasa kacau, atau sebagai cara mempertahankan identitas dan rasa kontrol.


Disadur dari IFL Science – A Conspiracy Theory Mindset Can Be Predicted By These Two Psychological Traits


Post a Comment

أحدث أقدم