Prajurit Romawi Berperang Melawan Parasit di Benteng Sendiri

Arkeolog menemukan bahwa prajurit Romawi di Benteng Vindolanda harus berjuang melawan infeksi parasit usus akibat sanitasi yang buruk.


Arkeolog menemukan bahwa prajurit Romawi di Benteng Vindolanda harus berjuang melawan infeksi parasit usus akibat sanitasi yang buruk.

Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Prajurit Romawi di Vindolanda terinfeksi cacing usus dan Giardia akibat sanitasi buruk.
  • Ini merupakan bukti pertama Giardia duodenalis di Britania Romawi.
  • Penyakit kronis kemungkinan melemahkan prajurit dan memengaruhi kesiapan militer.


BICARA soal prajurit Romawi, yang terbayang mungkin adalah sosok gagah dengan baju zirah yang sedang menjaga tembok raksasa. 


Namun, penelitian terbaru di Benteng Vindolanda, dekat Tembok Hadrian, Inggris Utara, mengungkap sisi lain yang kurang "estetik". 


Ternyata, selain menghadapi musuh dari luar benteng, para prajurit ini harus bertarung melawan musuh tak kasat mata di dalam perut mereka sendiri: parasit usus.


Melalui analisis sedimen di saluran pembuangan kuno, tim peneliti dari Universitas Cambridge dan Oxford menemukan telur cacing gelang, cacing cambuk, hingga parasit mikroskopis bernama Giardia duodenalis. 


Temuan yang diterbitkan dalam jurnal Parasitology ini cukup mengejutkan karena menjadi bukti nyata pertama adanya wabah diare akibat Giardia di Inggris era Romawi.


Benteng Vindolanda sebenarnya bukan tempat sembarangan. Situs ini terkenal karena tanahnya yang lembap mampu mengawetkan benda organik seperti 1.000 tablet kayu berisi catatan harian dan 5.000 sepatu kulit


Hebatnya lagi, benteng ini punya sistem drainase dan jamban umum (latrine) yang mengalirkan limbah ke sungai terdekat.


Namun, kecanggihan itu tidak cukup. Dr. Patrik Flammer dari Oxford menyebutkan bahwa keberadaan jamban umum justru bisa menjadi tempat penularan massal. 


"Meski punya sistem saluran pembuangan, hal itu tetap tidak melindungi prajurit dari saling menulari parasit satu sama lain," ujarnya. 


Infeksi ini menyebar lewat makanan atau tangan yang terkontaminasi kotoran manusia, hal yang sangat mungkin terjadi di lingkungan militer yang padat.


Bayangkan menjadi prajurit yang harus bersiaga di perbatasan yang dingin dan hujan, sementara perut melilit hebat. 


Dr. Marissa Ledger dari Cambridge menjelaskan bahwa infeksi kronis ini kemungkinan besar melemahkan kebugaran para prajurit. Cacing gelang yang bisa tumbuh hingga 30 cm dan cacing cambuk dapat menyebabkan mual, kram, hingga malnutrisi.


Lebih parah lagi saat musim panas. Giardia bisa memicu wabah diare massal yang menyebabkan dehidrasi parah dan penurunan berat badan drastis. 


Pada masa itu, dokter Romawi belum punya obat mujarab untuk membasmi parasit ini, sehingga penderitaan para prajurit bisa berlangsung berminggu-minggu.


Menarik untuk membandingkan temuan ini dengan data dari jurnal The Lancet Infectious Diseases yang mencatat bahwa peradaban Romawi sebenarnya membawa teknologi kebersihan ke seluruh Eropa. 


Namun, ironisnya, penelitian tersebut menunjukkan bahwa tingkat parasit usus di era Romawi justru tidak menurun dibandingkan zaman besi sebelumnya. 


Penggunaan pupuk dari kotoran manusia di lahan pertanian diduga menjadi salah satu penyebab utama parasit ini terus "berputar" dalam rantai makanan mereka.


Studi di Vindolanda ini membuktikan bahwa sejarah bukan cuma soal perang besar atau monumen megah, tapi juga soal perjuangan manusia melawan penyakit sehari-hari. 


Sepertinya, puisi terkenal W.H. Auden tentang prajurit Romawi yang mengeluh soal "kutu di tunik dan pilek di hidung" perlu direvisi dengan tambahan "perut mulas yang tak kunjung sembuh".


Disadur dari SciTech Daily.


Post a Comment

أحدث أقدم