Ilmuwan berhasil mengembangkan tes urine berbasis AI yang mampu mengukur usia biologis manusia secara akurat, praktis, dan tanpa perlu suntikan darah.
Ringkasan
- Ilmuwan mengembangkan tes urine berbasis mikroRNA untuk mengukur usia biologis.
- Akurasinya mendekati tes darah, tetapi jauh lebih murah dan tidak invasif.
- Metode ini berpotensi mendukung deteksi dini penyakit dan pengobatan preventif.
PERNAHKAH Anda merasa lebih cepat lelah dibanding teman sebaya, meski usia di KTP sama? Itu karena usia kronologis (jumlah ulang tahun) seringkali berbeda dengan usia biologis (kondisi kesehatan sel tubuh).
Selama ini, pengecekan usia biologis dianggap rumit karena membutuhkan tes DNA atau pengambilan darah yang mahal.
Namun, sebuah terobosan baru yang diterbitkan dalam jurnal npj Aging menawarkan cara yang jauh lebih santai: cukup dengan sampel air seni atau urine.
Para peneliti berhasil menciptakan "jam penuaan" melalui analisis microRNA dalam urine yang tingkat akurasinya setara dengan tes darah.
Rahasia dari tes ini terletak pada gelembung mikroskopis yang disebut vesikel ekstraseluler. Di dalamnya terdapat microRNA, semacam paket data kecil yang membawa informasi tentang status internal tubuh kita.
Untuk memecahkan kode rumit tersebut, peneliti menggunakan sistem machine learning bernama LightGBM. AI ini dilatih menggunakan data dari 6.331 orang dewasa di Jepang.
Hasilnya? AI mampu mengenali pola kimiawi yang menunjukkan seberapa cepat seseorang menua dengan tingkat kesalahan hanya sekitar 4,4 tahun—sebuah pencapaian yang sangat presisi untuk tes non-invasif.
Penelitian ini juga mengungkap temuan menarik terkait gaya hidup. Orang dengan diabetes tipe 2 ditemukan memiliki "jam" biologis yang berputar lebih cepat. Selisih antara usia asli dan usia tubuh mereka (disebut Delta Age) terlihat meningkat drastis.
Hal ini membuktikan bahwa penyakit kronis bukan sekadar masalah gula darah, tapi benar-benar menggerogoti usia sel tubuh secara sistemik.
Ke depannya, tes urine sederhana ini bisa menjadi "alarm" bagi dokter untuk memberikan intervensi lebih agresif sebelum penyakit menjadi lebih parah.
Urine memang telah lama menjadi fokus penelitian medis karena kemudahannya dalam pengumpulan sampel.
Menurut laporan dari Journal of Clinical Oncology, tes urine kini mulai dikembangkan untuk mendeteksi dini berbagai kanker seperti kanker ovarium dan pankreas dengan sensitivitas yang bahkan melampaui tes darah.
Keunggulan tes urine adalah kepraktisannya, tidak perlu klinik khusus atau tenaga ahli untuk mengambil sampel, cukup sebuah wadah kecil di toilet.
Jika teknologi aging clock ini diproduksi massal, kita mungkin bisa memantau kesehatan seluler kita sendiri semudah melakukan tes kehamilan di rumah.
Disadur dari ZME Science.

Posting Komentar