Bengkel Tembikar Berusia 3.000 Tahun Jadi Simbol Kemajuan Industri Kuno

Tim arkeolog berhasil menemukan bengkel tembikar berusia 3.000 tahun di Kurdistan, Irak, yang mengungkap kecanggihan sistem industri masyarakat Zaman Besi.


Bengkel tembikar Gird-i Bazar yang berusia 3.000 tahun di Kompleks Permukiman Dinka di Wilayah Otonomi Kurdi Irak. Foto: Andrea Squitieri.Bengkel tembikar Gird-i Bazar yang berusia 3.000 tahun di Kompleks Permukiman Dinka di Wilayah Otonomi Kurdi Irak. Foto: Andrea Squitieri.


Ringkasan

  • Arkeolog menemukan reruntuhan bengkel tembikar era Zaman Besi (1200-800 SM) di situs Gird-i Bazar, Kurdistan, Irak.
  • Penemuan ini mencakup dua tungku pembakaran (kiln) yang masih sangat terawat, mengungkap sistem produksi yang terorganisir rapi.
  • Bukti ini menunjukkan bahwa masyarakat kuno di wilayah tersebut sudah memiliki spesialisasi kerja dan jaringan ekonomi yang kompleks.


SIAPA sangka, jauh sebelum pabrik-pabrik modern berdiri, nenek moyang kita di wilayah yang sekarang disebut Kurdistan Irak sudah punya "kawasan industri" yang sangat teratur. 


Tim arkeolog dari Universitas Tübingen dan LMU Munich baru saja menggali sisa-sisa bengkel tembikar kuno di Kompleks Pemukiman Dinka, tepatnya di provinsi Sulaymaniyah


Penemuan ini bukan cuma soal kendi tanah liat biasa, tapi soal bagaimana manusia 3.000 tahun lalu mengelola ekonomi dan teknologi mereka.


Situs Gird-i Bazar, tempat bengkel ini ditemukan, merupakan bagian dari proyek besar bernama Peshdar Plain Project yang dimulai sejak 2015. Di sana, para ahli menemukan dua buah tungku pembakaran (updraft kilns) beserta alat-alat produksinya. 


Menurut Dr. Silvia Amicone dari Universitas Tübingen, kondisi bengkel yang sangat terawat memungkinkan tim untuk membedah secara detail cara kerja perajin zaman dulu. 


"Kami bisa mendapatkan gambaran komprehensif tentang bagaimana para pembuat tembikar benar-benar bekerja di wilayah ini selama Zaman Besi," ujarnya.


Melalui analisis mineralogi dan mikrostruktur tanah liat, terungkap bahwa para perajin ini sangat ahli dalam memilih bahan baku. 


Meskipun bentuk wadahnya berbeda-beda tergantung fungsinya, ada yang untuk memasak, ada yang untuk menyimpan air, semuanya dibuat dalam satu sistem produksi yang modular dan sistematis.


Uniknya, pembakaran tembikar di sini dilakukan pada suhu yang relatif "rendah", yaitu di bawah 900 derajat Celsius. Prosesnya pun dilakukan perlahan dengan teknik oksidasi


Ini menunjukkan adanya tradisi teknologi yang seragam. Gird-i Bazar kemungkinan besar bukan sekadar bengkel kecil, melainkan pusat distribusi bagi wilayah sekitarnya.


Menurut catatan dari World History Encyclopedia, Zaman Besi di wilayah Mesopotamia dan sekitarnya adalah masa transisi besar di mana penggunaan alat logam mulai meluas, namun kerajinan tanah liat tetap menjadi tulang punggung kehidupan sehari-hari. 


Penemuan di Dinka ini membuktikan bahwa masyarakat di perbatasan Pegunungan Zagros tersebut jauh lebih maju daripada yang diperkirakan sebelumnya.


Mereka bukan sekadar petani, tapi masyarakat perkotaan awal yang memiliki spesialisasi kerajinan. 


Hal ini juga didukung oleh data geofisika yang menunjukkan adanya banyak titik tungku pembakaran lain di sekitar lokasi. Ini artinya, tata ruang kota mereka sudah dirancang untuk mendukung kegiatan manufaktur.


Profesor Karla Pollmann, Presiden Universitas Tübingen, menyatakan kekagumannya terhadap temuan ini. 


"Hasil ini menunjukkan bagaimana pengetahuan teknologi dan struktur komunal menjadi fondasi bagi perkembangan budaya lebih dari 2.500 tahun yang lalu. 


"Kemajuan selalu merupakan pencapaian kolektif, dulu maupun sekarang," tutur Pollman. 


Penemuan ini pun menjadi pengingat bahwa kemanusiaan telah lama memiliki semangat inovasi yang kuat, bahkan di tengah tantangan lingkungan ribuan tahun silam.


Disadur dari Sci.news.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama