Langit Merah, Matahari Hijau, Bulan pun Biru

Ledakan di akhir Agustus 1883 di Selat Sunda membuat langit berubah ekstrem. Saat senja tampak merah menyala, matahari kadang berkilau hijau, dan malamnya bulan bersinar biru.


Ledakan di akhir Agustus 1883 di Selat Sunda membuat langit berubah ekstrem. Saat senja tampak merah menyala, matahari kadang berkilau hijau, dan malamnya bulan bersinar biru.Ilustrasi dibuat oleh AI


Ringkasan 

  • Letusan Krakatau pada 27 Agustus 1883 setara dengan bom 200 megaton, menghancurkan sebagian besar pulau dan menyebabkan tsunami mematikan, membuat puluhan ribu jiwa hilang.
  • Partikel abu dan gas sulfur di atmosfer menyebar global, mendinginkan suhu rata-rata Bumi sekitar 0,6 °C dan menciptakan langit penuh warna aneh seperti hijau dan biru hingga berminggu-minggu. 
  • Fenomena optik langka seperti “Bishop’s Ring” dan penampakan bulan dan matahari berwarna biru/hijau tercatat di banyak tempat, menginspirasi karya seni ikonik seperti 'The Scream' oleh Munch.


FAJAR dan senja di akhir Agustus 1883, langit menampilkan warna-warna yang tak biasa. Merah pekat bercampur ungu dan kilau kehijauan sangat mencolok.


Saat malam tiba, bulan yang biasanya putih pucat tiba-tiba tampak biru atau hijau. 


Pada dasarnya, cahaya menyebar saat melewati partikel aerosol di atmosfer, partikel halus dari letusan, seperti sulfur dioksida dan abu, menyebarkan cahaya merah dan ungu serta memungkinkan warna-warna lain terlihat lebih intens.


Gunung Krakatau sendiri mulai bergemuruh sejak Mei 1883 dan mencapai puncaknya pada 27 Agustus, dengan ledakan terbesar setara bom nuklir terkuat, Tsar Bomba


Letusan ini memecahkan pulau, menciptakan gelombang kejut yang terdengar ribuan kilometer, bahkan memecah gendang telinga pelaut 60 km jauhnya.


Dampaknya tidak hanya lokal, diperkirakan lebih dari 36.000 orang tewas, terutama karena tsunami dan aliran pyroklastik ke pulau-pulau sekitar. 


Abu vulkanik tersebar ke stratosfer, menurunkan suhu global sekitar 0,6 °C selama beberapa bulan hingga beberapa tahun.


Efek cahaya luar biasa ini jadi obyek catatan banyak pengamat. Mereka merekam “Bishop’s Ring”, yaitu cincin samar di sekitar matahari, bagian dalamnya putih kebiruan, sisinya kemerahan atau ungu, yang pertama kali dicatat pada 5 September 1883. 


Fenomena langit merah tersebut juga membuat orang menyalakan armada pemadam kebakaran di kota-kota seperti New York, karena langit tampak seperti terbakar.


Sementara itu, laporan Royal Society menggambarkan bagaimana bulan terlihat benar-benar biru atau bahkan hijau, pascaledakan, partikel seukuran mikro (sekitar 1 µm) tersebar di atmosfer, menyerap cahaya merah dan memperkuat warna biru-hijau.


Saking dramatisnya, langit kala itu disebut-sebut menginspirasi lukisan The Scream karya Edvard Munch. 


Munch sendiri menuliskan bahwa ia melihat langit “menjadi merah darah” saat matahari terbenam, membuatnya merasakan kesedihan mendalam dan perasaan seperti menjerit keluar—kemungkinan besar ia memori visual langit akibat Krakatau.


Tak kalah menarik, peristiwa ini juga membantu pengembangan ilmu vulkanologi modern. 


Studi-studi awal dari letusan menyebarkan pengetahuan tentang aliran pyroklastik, gelombang tsunami, dan efek klimatologinya; fenomena seperti “equatorial smoke stream” (awan asap ekuatorial) juga menjadi cikal bakal pemahaman kita tentang jet stream.


Letusan Krakatau ini bukan pertama kali terjadi. Pada tahun 1115, letusan besar juga membentuk Selat Sunda dan menghancurkan tanjung penghubung antara Jawa dan Sumatra.


Pulau Anak Krakatau mulai muncul sekitar 44 tahun kemudian, lahir dari letusan sisa Kaldera tersebut, dan terus tumbuh sekitar 6 meter per tahun hingga kini.


Perubahan iklim akibat Krakatau sempat menyebabkan curah hujan ekstrem di California Selatan pasca-erupsi—Los Angeles mencatat hujan tahunan luar biasa 38 inci, tetapi hubungan sebab-akibat langsung masih diperdebatkan.


Disadur dari IFL Science dan sumber daring lainnya. 


Post a Comment

أحدث أقدم