Ilmuwan Peringatkan Ancaman 'Sindrom Bebek Mengambang'

Bahayanya ketika melihat orang-orang sukses dengan prestasi tinggi atau 'sempurna' tanpa susah payah.


Ilmuwan meneliti bahaya dampak sindrom bebek mengambang. (Foto Ilustrasi: SP2Zsolt/Pixabay)
Ilmuwan meneliti bahaya dampak sindrom bebek mengambang. (Foto Ilustrasi: SP2Zsolt/Pixabay)


ngarahNyaho - Ketika berenang, bebek tampak meluncur di permukaan air dengan tenang dan anggun. Padahal, kita tak melihat betapa kaki kecil hewan itu berupaya keras agar tubuh tetap mengapung.


Ketenangan luar dan pengerahan tenaga yang tersembunyi begitu kontras. Itulah yang mengilhami istilah floating duck syndrome atau 'sindrom bebek mengambang'.


Para ilmuwan dari Universitas Standford mencetuskan istilah  yang mengacu pada individu untuk menunjukkan keberhasilan mereka namun menyembunyikan upaya yang dilakukan untuk mencapainya.


Di Universitas Pennsylvania, tempat penelitian terbaru dilakukan,  fenomena sosial ini dikenal juga dengan nama 'Penn Face'. Mereka menganalisis dampak sindrom bebek mengambang.


Para peneliti mengembangkan model matematis tentang bagaimana pembelajaran sosial - belajar dari mengamati dan meniru - berfungsi dalam menghadapi bias visibilitas.


Contoh bias visibilitas adalah orang-orang yang tampil sempurna tanpa susah payah. 


Dengan menggunakan siswa yang memilih aktivitas sebagai studi kasus, para peneliti memodelkan sebuah situasi.


Kasusnya, individu mencoba membuat keputusan optimal tentang seberapa banyak upaya yang harus dilakukan dalam pekerjaan mereka tetapi memiliki informasi yang tidak lengkap tentang kesulitan.


Kemudian berapa banyak usaha yang diperlukan untuk berhasil dalam suatu aktivitas tertentu.


Para peneliti menemukan bahwa akibat dari informasi yang bias, individu dalam model secara keliru mengharapkan balasan yang lebih besar atas usaha mereka daripada imbalan yang mereka terima. 


Temuan ini sangat relevan di dunia modern saat ini, mengingat komitmen berlebihan dalam dunia kerja dan pendidikan dan sering dikaitkan dengan dampak buruk seperti depresi dan kecemasan.


“Temuan ini penting," kata Erol Akçay dari Universitas Pennsylvania seperti dikutip dari EurekAlert. 


"Kehidupan modern terus-menerus meminta kita untuk memutuskan bagaimana membagi waktu dan energi kita di berbagai bidang kehidupan, termasuk sekolah, pekerjaan, keluarga, dan waktu luang," lanjutnya. 


"Bagaimana kita mengalokasikan waktu dan energi kita, berapa banyak aktivitas berbeda yang kita lakukan, dan apa imbalan yang dihasilkan, mempunyai dampak besar pada kesehatan mental dan fisik kita."


Menurut Akçay, sindrom bebek mengambang sering kali diperburuk oleh platform media sosial dan hubungan masyarakat institusional.


Di media sosial banyak yang menjadikan kesuksesan lebih terlihat namun belum tentu kegagalan atau upaya yang dikeluarkan untuk mencapai kesuksesan.


Ketika kegagalan adalah sebuah solusi


Para peneliti juga mengevaluasi solusi potensial terhadap masalah komitmen berlebihan dan kelelahan yang dipicu oleh sindrom bebek mengambang. 


Mengatasi upaya yang tidak dilaporkan dalam dinamika pembelajaran sosial adalah jenis perubahan akar penyebab yang diperlukan.


Peneliti mencontohkan dengan membuat dan membagikan 'CV bayangan' secara lebih luas akan membantu dalam mengatasi sindrom bebek mengambang itu. 


CV bayangan mencakup tidak hanya gelar, aktivitas, dan penghargaan yang berhasil diselesaikan, namun juga aktivitas yang gagal, penghargaan, lamaran yang gagal, dan sejenisnya.


Secara lebih luas, menumbuhkan budaya keterbukaan ketika berbicara tentang keberhasilan dan kegagalan kita. 


Dengan begitu, kita akan menjadi lebih sadar akan pekerjaan yang harus kita lakukan dan mengurangi kemungkinan untuk terlalu memaksakan diri mengejar kesempurnaan yang tidak realistis.


Studi peneliti dari Universitas Pennsylvania itu diterbitkan di jurnal  Evolutionary Human Sciences. |


Sumber: EurekAlert


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama