Psikolog Gunakan 'Game of Thrones' untuk Pelajari Kebutaan Wajah

Orang yang mengalami kebutaan wajah mungkin merasa sulit menjalin hubungan, sehingga menyebabkan masalah kesehatan mental dan kecemasan sosial. 


Psikolog gunakan serial TV terkenal untuk pelajari kebutaan wajah. (Foto Ilustrasi: KATRIN BOLOVTSOVA/Pexels)
Psikolog gunakan serial TV terkenal untuk pelajari kebutaan wajah. (Foto Ilustrasi: KATRIN BOLOVTSOVA/Pexels)


ngarahNyaho - Sebuah studi baru memberikan wawasan baru tentang prosopagnosia atau kebutaan wajah. Dalam studinya, psikolog memanfaatkan serial TV terkenal Game of Thrones. 


Satu dari 50 orang mengalami kebutaan wajah, suatu kondisi yang membuat seseorang mengenali wajah. 


Para peneliti dari University of York memindai otak lebih dari 70 peserta penelitian saat mereka menonton cuplikan dari serial TV populer tersebut. 


Separuh dari peserta akrab dengan karakter utama acara yang terkenal kompleks dan separuh lainnya belum pernah menonton serial tersebut.


Ketika karakter utama muncul di layar, pemindaian MRI menunjukkan bahwa aktivitas otak pada peserta neurotipikal yang akrab dengan karakter tersebut meningkat.


Itu terutama terjadi di wilayah otak yang terkait dengan pengetahuan non visual tentang karakter tersebut, seperti siapa mereka dan apa yang kita ketahui tentang mereka.


Otak visual


Menariknya, hubungan antara otak visual dan wilayah non-visual ini juga meningkat pada orang yang akrab dengan Game of Thrones. 


Namun, gelombang aktivitas ini berkurang secara signifikan pada kelompok peserta neurotipikal yang belum pernah menonton serial tersebut.


Untuk menentukan apakah wilayah ini penting untuk pengenalan wajah, para peneliti kemudian mengulangi penelitian pada orang dengan prosopagnosia. 


Seperti grup sebelumnya, separuhnya telah menonton Game of Thrones dan separuhnya lagi belum pernah menonton serialnya.


Konsisten dengan kesulitan mereka dalam mengenali wajah, efek keakraban tidak ditemukan di wilayah otak yang sama seperti yang ditemukan pada peserta neurotipikal. 


Koneksi antara area visual dan non-visual juga berkurang pada kasus kebutaan wajah.


Kecemasan sosial


"Kemampuan kita mengenali wajah bergantung pada apa yang kita ketahui tentang orang, bukan hanya penampilan mereka," kata penulis senior studi tersebut, Profesor Tim Andrews.


Kita mengenali wajah dengan mempelajari properti visualnya, seperti fitur, konfigurasi, dan tekstur. Namun studi ini menunjukkan, hal tersebut melibatkan hal lainnya.


Dalam hal ini, menghubungkan wajah dengan pengetahuan tentang orang tersebut, termasuk karakter, bahasa tubuh, pengalaman pribadi kita dengan mereka, dan perasaan kita terhadap mereka.


“Pengenalan wajah sangat penting dalam kehidupan sehari-hari dan interaksi sosial," kata Abdrews seperti dikutip dari laman University of York.


"Ketika seseorang mengalami kesulitan dalam hal ini, hal ini dapat berdampak signifikan terhadap kehidupan dan hubungan mereka, yang sering kali menyebabkan masalah kesehatan mental dan kecemasan sosial.


“Penelitian kami meningkatkan pemahaman tentang bagaimana prosopagnosia tampaknya dikaitkan dengan berkurangnya koneksi saraf," lanjutnya.


"Dengan demikian, sulit untuk mengasosiasikan wajah dengan pengetahuan pribadi, yang sangat penting untuk pengenalan.”


Daya tarik global


Para peneliti memilih untuk menunjukkan cuplikan dari Game of Thrones kepada peserta karena daya tarik internasionalnya dan banyaknya karakter utama yang berkembang dengan baik.


“Banyak penelitian sebelumnya tentang mekanisme otak di balik pengenalan wajah telah dilakukan di laboratorium dengan gambar wajah statis 2D," kata Kira Noad, penulis utama studi ini.


"Kami bertujuan untuk membuat format belajar yang lebih mirip kehidupan nyata, menggunakan video untuk menampilkan adegan kompleks dengan banyak orang."


Penelitian lebih lanjut akan dilakukan untuk mengeksplorasi lebih detail bagaimana aktivitas di berbagai wilayah otak memungkinkan kita mengenali wajah serta faktor apa saja yang dapat mengganggu proses ini. |


Sumber: University of York 


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama