Ingatan Saksi Mata Bisa Salah, Tapi Bukan Berarti Tak Bisa Dipercaya

 Ingatan saksi mata memang mudah berubah, tetapi penelitian terbaru menunjukkan kesaksian awal bisa jauh lebih akurat daripada yang selama ini kita kira.


Ingatan saksi mata memang mudah berubah, tetapi penelitian terbaru menunjukkan kesaksian awal bisa jauh lebih akurat daripada yang selama ini kita kira.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Ingatan manusia mudah tercemar informasi baru, terutama jika kesaksian diberikan jauh setelah kejadian.
  • Penelitian terbaru menunjukkan tingkat keyakinan saksi saat pertama kali mengenali tersangka dapat berkaitan kuat dengan akurasinya.
  • AI dan virtual reality mulai dikembangkan untuk membuat proses identifikasi saksi lebih adil dan akurat.


SELAMA puluhan tahun, psikolog mengingatkan bahwa kesaksian saksi mata bisa menyesatkan. Alasannya sederhana, ingatan bukan rekaman video. Setiap kali kita mengingat sesuatu, memori dapat direkonstruksi dan berubah.


Masalahnya menjadi serius dalam perkara pidana. Setelah bukti DNA mulai digunakan luas pada 1990-an, banyak kasus lama ditinjau ulang. Hasilnya mengejutkan, sejumlah orang yang dihukum ternyata tidak bersalah. 


Dalam analisis terhadap 250 pembebasan berdasarkan bukti DNA pada 2011, sebanyak 161 kasus melibatkan saksi mata yang salah mengenali terdakwa di pengadilan. 


Namun, psikolog John Wixted dari University of California, San Diego, berpendapat cerita itu belum selesai.


Ia menemukan sesuatu yang menarik. Dari 161 kasus tersebut, data mengenai tingkat keyakinan saksi saat pertama kali mengenali tersangka tersedia untuk 92 kasus. 


Tidak satu pun saksi itu awalnya yakin dengan identifikasinya. Mereka justru ragu.


Analisis lebih besar yang diterbitkan Wixted dan Laura Mickes pada 2025 menelaah lebih dari 900 kasus pembebasan yang melibatkan salah identifikasi saksi. 


Data identifikasi awal tersedia dalam 208 kasus. Hanya 18 di antaranya yang melibatkan salah identifikasi dengan keyakinan tinggi. 


Sebaliknya, 190 saksi sejak awal mengatakan tersangka bukan orangnya, memilih orang lain dalam barisan identifikasi, atau hanya menunjuk dengan ragu-ragu. 


Artinya, waktu dan cara mengukur ingatan sangat penting.


Menurut Wixted dan Mickes, identifikasi pertama, yakni sebelum ingatan tercemar oleh pemberitaan, percakapan, media sosial, atau proses hukum, justru merupakan informasi paling berharga. 


Dalam kondisi prosedur identifikasi yang baik, keyakinan tinggi pada tahap awal cenderung berkaitan dengan akurasi yang tinggi.


Ini bukan berarti saksi mata mendadak berubah menjadi mesin DNA berjalan. Ingatan tetap bisa keliru.


Elizabeth Loftus, salah satu tokoh utama penelitian tentang false memory, tetap memperingatkan bahwa ingatan manusia mudah dipengaruhi. 


Eksperimennya sejak 1970-an menunjukkan pertanyaan yang mengarahkan dapat membuat orang mengingat detail yang sebenarnya tidak terjadi. Stres tinggi juga dapat mengganggu ingatan. 


Perbedaannya kini terletak pada kapan dan bagaimana kesaksian diperoleh. 


Survei terhadap pakar memori pada 2025 menemukan sekitar 90 persen setuju bahwa keyakinan saksi dapat memberikan informasi mengenai akurasi jika diukur segera setelah identifikasi dan prosedurnya dilakukan dengan benar. 


Teknologi bahkan mulai ikut bermain. Peneliti mengembangkan AI-generated line-up agar wajah-wajah pembanding memiliki ciri khas yang sama dengan tersangka.


Selain itu, sistem virtual reality yang memungkinkan kondisi pencahayaan, sudut pandang, dan gerakan dalam proses identifikasi disesuaikan dengan situasi ketika kejahatan terjadi. 


Ada pula upaya menggunakan AI untuk menganalisis ucapan, perilaku, bahkan waktu reaksi saksi guna memperkirakan kemungkinan identifikasinya benar. Namun, teknologi ini masih membutuhkan pengujian lebih lanjut sebelum layak digunakan secara luas.


Jadi, masalahnya bukan sekadar “percaya atau jangan percaya saksi mata”. Pertanyaan yang lebih tepat adalah: kapan kesaksian itu diberikan, bagaimana diperoleh, dan seberapa jauh ingatannya sudah tercemar?


Disadur dari BBC Science Focus - Decades of research say eyewitness testimony can't be trusted. These scientists say otherwise yang diakses pada Agustus 2026.




Post a Comment

Lebih baru Lebih lama