Ilmuwan menemukan sel mamalia ternyata bisa memicu regenerasi, asalkan diberi sinyal protein yang tepat dan berurutan.
Ringkasan
- Sel mamalia ternyata memiliki potensi regenerasi, tetapi membutuhkan sinyal protein yang tepat untuk aktif.
- Kombinasi berurutan FGF2 lalu BMP2 berhasil memicu pertumbuhan kembali tulang dan jaringan lain pada tikus.
- Temuan ini membuka peluang baru dalam pengobatan regeneratif, meski masih jauh dari penerapan pada manusia.
SELAMA ini, manusia dan mamalia lain dianggap “kurang beruntung” dibanding salamander atau bintang laut yang bisa menumbuhkan kembali bagian tubuhnya.
Kehilangan jari? Paling banter sembuh dengan jaringan parut. Tapi riset terbaru mulai menggoyahkan anggapan lama ini.
Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications menunjukkan, sel mamalia sebenarnya sudah punya kemampuan regenerasi, hanya saja “tidur” dan butuh instruksi yang tepat untuk bangun.
Penelitian ini dilakukan oleh tim ilmuwan dari berbagai institusi, termasuk Texas A&M University dan Stanford University, dipimpin oleh peneliti Ken Muneoka.
Dalam eksperimen pada tikus, para ilmuwan mengamputasi ujung jari pada level yang biasanya tidak bisa tumbuh kembali.
Lalu mereka mencoba sesuatu yang cukup sederhana, yakni memberikan dua protein sinyal pertumbuhan, tapi dengan urutan yang sangat spesifik.
Pertama, mereka menyuntikkan FGF2, protein yang berfungsi “membangunkan” sel luka dan mendorongnya membentuk kumpulan sel yang siap beregenerasi.
Setelah itu, barulah diberikan BMP2, protein yang mengarahkan sel-sel tersebut untuk membentuk jaringan keras seperti tulang.
Hasilnya? Bagian jari yang hilang mulai tumbuh kembali—tidak hanya tulang, tapi juga jaringan sendi, tendon, hingga ligamen.
Urutannya tidak bisa dibalik. Jika salah urutan, regenerasi tidak terjadi. Kombinasi “FGF2 dulu, lalu BMP2” menjadi semacam kode rahasia biologis.
Untuk memahami temuan ini, kita perlu melihat bagaimana hewan seperti salamander bekerja. Mereka membentuk semacam “gumpalan sel” di lokasi luka, yang kemudian berkembang menjadi bagian tubuh baru.
Mamalia sebenarnya punya kemampuan mirip, tapi sangat terbatas.
Anak-anak manusia, misalnya, kadang bisa menumbuhkan kembali ujung jari jika lukanya sangat kecil. Tapi sedikit lebih dalam saja, hasilnya hanya jaringan parut.
Penelitian ini menunjukkan bahwa batas tersebut mungkin bukan karena kita “tidak mampu”, melainkan karena tubuh tidak menerima sinyal yang tepat.
Yang lebih mengejutkan, para peneliti menemukan bahwa proses ini tidak hanya menghasilkan satu jenis regenerasi.
Di lokasi luka yang sama, terjadi dua mekanisme berbeda secara bersamaan:
- Regenerasi tulang seperti yang diharapkan
- Pembentukan struktur mirip sendi lengkap dengan jaringan pendukung
Ini berarti satu luka bisa memicu pembangunan ulang berbagai komponen kompleks, bukan sekadar tambalan sederhana.
Pertanyaan besar dalam dunia biologi regeneratif selama ini adalah,
apakah mamalia tidak punya sel yang tepat, atau hanya kekurangan sinyal?
Jawaban dari studi ini cenderung ke opsi kedua.
Sel-sel yang mampu beregenerasi ternyata sudah ada di lokasi luka, tetapi biasanya diarahkan untuk membentuk jaringan parut (fibrosis), bukan struktur baru.
Dengan kata lain, tubuh kita memilih “jalan cepat”, menutup luka—, daripada membangun ulang.
Namun dengan kombinasi FGF2 dan BMP2, jalur ini bisa “dialihkan” dari penyembuhan biasa menjadi regenerasi aktif.
Meski terdengar revolusioner, temuan ini masih jauh dari aplikasi klinis pada manusia. Percobaan baru dilakukan pada tikus, dan belum jelas apakah hasil serupa bisa terjadi pada tubuh manusia yang lebih kompleks.
Namun ada kabar baik: kedua protein yang digunakan bukanlah zat asing. FGF2 dan BMP2 sudah dikenal luas dan bahkan digunakan dalam beberapa terapi medis.
Artinya, tantangannya bukan menemukan bahan baru, melainkan memahami waktu dan cara pemberian yang tepat*.
Selama puluhan tahun, kegagalan regenerasi pada manusia dianggap sebagai batas biologis yang tidak bisa ditembus. Studi ini mengusulkan pandangan baru: mungkin masalahnya bukan kemampuan, tapi komunikasi.
Tubuh kita mungkin sudah punya “alat” untuk memperbaiki diri secara lebih canggih, kita hanya belum tahu cara menyalakan saklarnya.
Dan jika suatu hari nanti para ilmuwan berhasil menguasai sinyal tersebut, gagasan tentang menumbuhkan kembali jari, atau bahkan organ, tidak lagi terdengar seperti fiksi ilmiah.
Disadur dari StudyFinds – Mammal Cells May Already Know How To Regenerate. Scientists Just Discovered How

Posting Komentar