Jejak King Arthur, Sang Raja Penumpas Monster atau Cuma Karakter Fiksi?

Meskipun sosoknya sangat melegenda, para pakar sejarah masih memperdebatkan apakah Raja Arthur benar-benar manusia nyata atau sekadar tokoh rekaan.


Meskipun sosoknya sangat melegenda, para pakar sejarah masih memperdebatkan apakah Raja Arthur benar-benar manusia nyata atau sekadar tokoh rekaan.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Sebagian ilmuwan menganggap Arthur tokoh fiksi abad ke-9, lainnya melihat kemungkinan ia nyata pada abad ke-6.
  • Bukti sejarah lemah. Teks seperti Historia Brittonum dan Annales Cambriae jadi sumber utama, tapi masih diperdebatkan.
  • Arthur bisa jadi tokoh nyata yang dimitoskan, atau legenda yang diberi “bumbu” sejarah.


KISAH tentang King Arthur dan para Ksatria Meja Bundar sudah lama memikat imajinasi, dari perburuan Cawan Suci hingga kerajaan megah di Camelot.


Namun di balik cerita heroik itu, muncul satu pertanyaan klasik, apakah Arthur benar-benar pernah hidup, atau ia hanya produk imajinasi abad pertengahan?


Menurut laporan Live Science, hingga kini belum ada kesepakatan di kalangan akademisi. Dua kubu utama, yang percaya Arthur fiksi dan yang menganggap ia tokoh nyata, sama-sama punya argumen kuat.


Sejumlah sejarawan menilai Arthur hanyalah karakter fiksi yang “diciptakan” pada abad ke-9.


Nicholas Higham, sejarawan dari University of Manchester, menyebut bahwa referensi paling awal tentang Arthur muncul dalam teks Latin Historia Brittonum (Sejarah Bangsa Briton).


Naskah itu ditulis sekitar tahun 829 M, kemungkinan oleh seorang biarawan bernama Nennius.


Menariknya, dalam teks itu Arthur bukan disebut raja, melainkan pemimpin perang yang melawan invasi Saxon sekitar tahun 500 M.


Namun Higham menilai teks tersebut merupakan kompilasi dari berbagai cerita lama, dan tidak ada satu pun sumber sebelumnya yang menyebut nama Arthur.


Artinya? Bisa jadi penulis abad ke-9 itu “menciptakan” Arthur sebagai simbol harapan, sosok pahlawan Briton yang mampu melawan penjajah Anglo-Saxon.


Dalam bukunya King Arthur: The Making of the Legend (2018), Higham bahkan menyebut tradisi Arthurian sebagai “fiksi abad ke-9 yang luar biasa sukses.”


Pendapat serupa datang dari Helen Fulton dari University of Bristol.


Ia menekankan bahwa tidak ada catatan awal yang menyebut Arthur sebelum abad ke-9, sebuah “kekosongan” yang mencurigakan untuk tokoh sebesar itu.


Namun tidak semua sepakat. Sebagian peneliti percaya bahwa Arthur memang tokoh nyata, meski jauh berbeda dari versi legenda.


Salah satu bukti yang sering dikutip adalah Annales Cambriae (Catatan Wales), kumpulan kronik yang mencatat peristiwa sejarah.


Bernard Mees dari Monash University menemukan bahwa beberapa bagian teks ini mungkin berasal dari abad ke-6, berdasarkan gaya bahasa dan ejaan yang digunakan.


Jika benar, ini berarti Arthur hidup tak lama setelah runtuhnya Kekaisaran Romawi di Britania, periode kacau yang dipenuhi konflik antar kerajaan kecil dan invasi Saxon.


Mees bahkan berpendapat Arthur kemungkinan adalah seorang raja atau pangeran, meski tidak disebut secara eksplisit.


Pendapat lebih moderat datang dari Ken Dark dari University of Cambridge. Ia menyatakan bahwa kemungkinan Arthur sebagai tokoh sejarah “cukup besar,” tetapi bukti yang ada belum cukup kuat untuk memastikan.


Salah satu catatan dalam Annales Cambriae menyebut Pertempuran Camlann pada tahun 537 M, di mana Arthur dan Mordred (atau Medraut) tewas.


Catatan ini juga menyebut adanya wabah besar di Britania, yang mungkin terkait dengan epidemi besar yang melanda wilayah Mediterania pada tahun 536 M.


Menariknya, antara abad ke-6 hingga ke-7, nama “Arthur” cukup populer di kalangan keluarga kerajaan Britania dan Irlandia.


Ini memberi petunjuk bahwa mungkin ada sosok terkenal bernama Arthur yang menginspirasi generasi berikutnya.


Namun jika Arthur benar-benar ada, ia hampir pasti berbeda jauh dari versi legenda. Tokoh seperti Lancelot, Guinevere, dan kisah romantis Camelot kemungkinan besar adalah tambahan belakangan.


Menurut Mary Bateman dari University of Bristol, Arthur bisa jadi adalah perpaduan antara sejarah dan mitos.


Ia mungkin tokoh nyata yang kisahnya “ditambahi” cerita fantastis, atau sebaliknya, tokoh mitologis yang kemudian diberi sentuhan sejarah.


Perdebatan tentang Raja Arthur tampaknya belum akan berakhir dalam waktu dekat. Tanpa bukti arkeologis yang pasti, Arthur akan terus berada di wilayah abu-abu antara fakta dan fiksi.


Namun mungkin justru di situlah kekuatannya: sebagai simbol harapan, kepemimpinan, dan keberanian, entah ia pernah benar-benar hidup atau tidak.


Disadur dari Live Science Did King Arthur really exist?



Post a Comment

Lebih baru Lebih lama