Penemuan fosil reptil kuno membuktikan bahwa kerabat purba buaya ini memiliki pola pertumbuhan unik, berubah dari berkaki empat menjadi dua.
Ringkasan
- Reptil purba Sonselasuchus kemungkinan berubah dari berjalan empat kaki saat muda menjadi dua kaki saat dewasa.
- Perubahan ini disebabkan pertumbuhan kaki belakang yang lebih panjang dan kuat.
- Temuan ini memperkaya pemahaman tentang evolusi gerak dan perkembangan hewan purba.
DUNIA prasejarah memang tidak pernah berhenti memberikan kejutan yang bikin geleng-geleng kepala. Para ilmuwan mendeskripsikan spesies reptil purba yang punya kebiasaan "aneh" saat tumbuh dewasa.
Bayangkan saja, hewan ini kemungkinan besar memulai hidupnya dengan berjalan merangkak memakai empat kaki, tapi begitu dewasa, ia justru memilih berdiri tegak dan berjalan dengan dua kaki belakang saja.
Mirip manusia yang belajar jalan, tapi versi reptil Trias!
Spesies unik ini diberi nama Sonselasuchus cedrus. Ia termasuk dalam kelompok reptil yang disebut shuvosaurid.
Meskipun kerabat garis keturunan buaya, penampilannya justru lebih mirip dengan dinosaurus jenis ornithomimid yang hidup di zaman yang sama, yaitu periode Trias Akhir (sekitar 225-201 juta tahun yang lalu).
Para peneliti dari University of Washington dan Burke Museum menganalisis fosil-fosil ini dan menemukan proporsi anggota badan yang tidak biasa.
Hewan yang ukurannya kira-kira sebesar anjing poodle ini menunjukkan pola pertumbuhan yang berbeda antara kaki depan dan kaki belakangnya.
"Kami berpikir bahwa Sonselasuchus memiliki kaki depan dan belakang yang lebih proporsional saat masih muda, namun kaki belakang mereka tumbuh lebih panjang dan lebih kuat saat mencapai usia dewasa," jelas Elliott Armour Smith, penulis utama studi ini.
Sederhananya, mereka "merangkak" saat bocah dan "berdiri" saat dewasa. Benar-benar aneh, bukan?
Fosil-fosil ini ditemukan di Taman Nasional Hutan Membatu (Petrified Forest National Park) di Arizona, Amerika Serikat.
Tak tanggung-tanggung, tim penggalian menemukan sekitar 950 fosil Sonselasuchus pada tahun 2014, dan total temuan di lokasi tersebut kini mencapai lebih dari 3.000 tulang belulang.
Secara fisik, reptil ini memiliki tinggi sekitar 63 cm. Ia tidak memiliki gigi (ompong) dan memiliki paruh, mata yang sangat besar, serta tulang yang berongga.
Ciri-ciri ini sangat mirip dengan dinosaurus, padahal secara silsilah, ia lebih dekat ke buaya.
Mengapa kerabat buaya ini malah mirip dinosaurus? Para ilmuwan menyebut fenomena ini sebagai evolusi konvergen.
Artinya, dua kelompok hewan yang berbeda mengembangkan ciri fisik yang mirip karena mereka hidup di lingkungan yang sama dan menjalankan peran ekologi yang serupa.
"Meskipun mirip dengan dinosaurus ornithomimid, fitur-fitur ini berevolusi secara terpisah," kata Armour Smith.
Ini membuktikan bahwa fitur seperti berjalan dengan dua kaki, memiliki paruh tanpa gigi, dan tulang berongga ternyata tidak hanya "milik" dinosaurus, tapi juga pernah dicoba oleh nenek moyang buaya.
Perubahan cara berjalan dari empat kaki ke dua kaki (atau sebaliknya) saat tumbuh dewasa adalah fenomena langka yang disebut ontogenetic gait transition.
Melansir dari laman Nature, fenomena serupa juga pernah ditemukan pada dinosaurus jenis Mussaurus patagonicus.
Saat bayi, pusat massa Mussaurus berada di bagian depan sehingga mereka merangkak, namun saat ekornya tumbuh besar dan berat saat dewasa, pusat massanya bergeser ke belakang, memungkinkan mereka berdiri tegak.
Kemungkinan besar, Sonselasuchus mengalami pergeseran mekanika tubuh serupa yang dipicu oleh kebutuhan untuk berlari lebih cepat atau menjangkau makanan yang lebih tinggi.
Disadur dari Science Daily - This ancient crocodile relative grew up on four legs then walked on two.

Posting Komentar