Film Mengharukan Bisa Bikin Penonton Lebih Melek Politik

Menonton film yang menggugah emosi ternyata tak cuma bikin mata berkaca-kaca, tapi juga bisa menyalakan semangat politik. 


Menonton film yang menggugah emosi ternyata tak cuma bikin mata berkaca-kaca, tapi juga bisa menyalakan semangat politik.Foto Ilustrasi: Freepik


Ringkasan

  • Film yang mengaduk perasaan dapat meningkatkan empati dan refleksi politik.
  • Penonton yang merasa “tergerak” lebih ingin mencari informasi dan berpartisipasi sosial.
  • Tayangan hiburan yang serius bisa memperkuat kesadaran demokratis, bukan malah mematikannya.


FILM yang menyentuh isu moral atau politik dapat mendorong penontonnya untuk merenung lebih dalam—dan bahkan ikut terlibat dalam aksi sosial atau politik nyata


Studi terhadap acara televisi bertema politik di Jerman menunjukkan bahwa mereka yang menonton film fiksi bertema isu publik, lalu diikuti tayangan dokumenter terkait, menjadi lebih ingin tahu, merasa lebih paham, dan tertarik mengambil tindakan politik.


Penelitian yang dipublikasikan di Communication Research ini dilakukan oleh tim dari Universitas Leipzig, dipimpin oleh Profesor Anne Bartsch.


Tim peneliti ingin menjawab pertanyaan klasik apakah hiburan membuat warga makin cuek, atau justru bisa memperkuat demokrasi


“Kami ingin tahu apakah menonton film yang membuat kita berjalan di sepatu orang lain bisa membangkitkan kesadaran politik dan mendorong tindakan nyata,” kata Bartsch. 


Untuk mengetahuinya, para peneliti memanfaatkan TV theme nights di Jerman—malam khusus di televisi yang memadukan film fiksi bertema sosial dengan program dokumenter. 


Misalnya, satu malam membahas perdagangan senjata, sementara yang lain mengangkat topik eutanasia (bantuan medis untuk mengakhiri hidup). 


Format ini dianggap menarik karena mampu menghadirkan tontonan yang emosional sekaligus informatif untuk khalayak luas.


Dalam tiga studi terpisah yang melibatkan lebih dari 2.800 responden, hasilnya konsisten.


Penonton yang merasa “tergerak” oleh film melaporkan refleksi diri lebih dalam, peningkatan minat mencari informasi, serta kesiapan untuk bertindak.


Kesiapan untuk bertindak itu mulai dari menandatangani petisi hingga mempertimbangkan isu tersebut saat memilih di pemilu.


Menariknya, rasa haru bukan cuma bikin orang berpikir lebih dalam, tapi juga bisa meningkatkan keterlibatan sosial


Pada topik eutanasia, misalnya, penonton yang tersentuh oleh film tidak hanya merasa lebih tahu, tapi juga lebih sering berdiskusi dan bahkan menonton acara politik lanjutan. 


Meski begitu, efek emosional ini tidak selalu memicu percakapan di media sosial—malah kadang sedikit menguranginya, mungkin karena orang lebih sibuk merenung ketimbang berdebat online.


Bartsch menegaskan bahwa hiburan yang eudaimonik—yakni yang memicu renungan moral dan empati—bisa menjadi pintu masuk ke partisipasi politik


“Hiburan sering dikira cuma pelarian dangkal,” katanya kepada PsyPost. “Padahal, jenis hiburan tertentu justru bisa memperkaya wacana publik, terutama bagi mereka yang jarang menonton berita serius.”


Namun para peneliti juga mengingatkan bahwa hasil ini bersifat korelasional, bukan sebab-akibat mutlak. Bisa saja orang yang memang sudah peduli politik lebih mudah tersentuh oleh film semacam itu. 


Selain itu, efek “malam tema” di televisi—yang ditonton berjuta orang serentak—mungkin tak bisa disamakan dengan pengalaman menonton streaming sendirian di rumah.


Ke depan, Bartsch dan timnya berencana meneliti bagaimana efek serupa muncul di era digital, termasuk peran influencer di media sosial dan konten yang dihasilkan AI


Satu hal pasti, di tengah banjir tontonan ringan dan algoritma hiburan, film yang membuat kita terdiam, tersentuh, dan berpikir bisa jadi salah satu bentuk pendidikan politik paling halus—dan paling manusiawi.


Disadur dari PsyPost


Post a Comment

أحدث أقدم