Alien Bisa Jadi Ada, Tapi Teknologi Mereka pun Mungkin Sama seperti Kita

Dalam alam semesta yang begitu luas, jarak dan waktu bisa jadi cukup untuk membuat setiap peradaban merasa sendirian.


Dalam alam semesta yang begitu luas, jarak dan waktu bisa jadi cukup untuk membuat setiap peradaban merasa sendirian.Foto Ilustrasi: Paweł/Pixabay


Ringkasan

  • Astrofisikawan NASA Robin Corbet menyebut alien mungkin ada, tapi teknologinya tak cukup kuat untuk “terdengar” dari jauh.
  • Jarak antarbintang yang luar biasa jauh membuat komunikasi antargalaksi hampir mustahil.
  • Fermi mungkin benar: kita tidak sendirian, tapi semesta terlalu besar untuk saling menemukan.


PERTANYAAN klasik “di mana semua alien?” pertama kali diajukan oleh fisikawan Enrico Fermi lebih dari setengah abad lalu. 


Logikanya sederhana, jika kehidupan cerdas bisa muncul di Bumi, seharusnya hal itu juga terjadi di banyak tempat lain, karena alam semesta tidak pernah melakukan sesuatu hanya sekali. 


Kenyataannya? Kita belum menemukan siapa pun—tidak ada sinyal, tidak ada reruntuhan, tidak ada bukti. Seolah-olah kita benar-benar sendirian di jagat raya.


Dalam makalahnya A Less Terrifying Universe yang dipublikasikan di arXiv, astrofisikawan NASA Robin Corbet, Ph.D., mengajukan hipotesis menarik.


Menurutnya, alien mungkin memang ada, bahkan bisa jadi lebih maju dari kita, tapi tidak sampai punya “superteknologi” seperti di film Hollywood. 


Dengan kata lain, mereka tidak punya pesawat antarbintang supercepat, atau antena pemancar yang bisa menembus galaksi.


Corbet menyebut pendekatannya “mundane”—biasa saja. Jika manusia saja butuh 75.000 tahun untuk mengirim wahana seperti Voyager 1 menuju bintang terdekat Proxima Centauri, kenapa kita berasumsi alien bisa melakukannya jauh lebih cepat? 


Menurutnya, anggapan bahwa semua alien pasti supercanggih adalah bias manusia yang terlalu banyak menonton Star Trek.


Kita sering lupa betapa luasnya kosmos. Proxima Centauri, bintang tetangga terdekat kita, berjarak sekitar 4,25 tahun cahaya, atau hampir 40 triliun kilometer. 


Wahana tercepat manusia, Voyager 1, baru menempuh 15 miliar mil—dan itu butuh waktu 75.000 tahun untuk sampai ke sana. Itu baru ke bintang terdekat, belum ke pinggiran galaksi.


Galaksi Bima Sakti sendiri memiliki diameter sekitar 100.000 tahun cahaya, berisi ratusan miliar bintang, dan mungkin triliunan planet. 


Jadi meskipun ada satu juta peradaban alien sekalipun, itu hanya setara dengan 0,001 persen dari jumlah bintang di galaksi. Bahkan jika mereka sudah menjelajah jutaan dunia, kita tetap mungkin tidak akan pernah tahu mereka ada.


Kalaupun alien mencoba mengirim pesan, komunikasi antarbintang bukan perkara mudah. Sinyal radio memang berjalan secepat cahaya, tapi makin jauh jaraknya, makin lemah pula kekuatannya. 


Ditambah lagi, ruang antar bintang dipenuhi “kebisingan” kosmik—letupan bintang, radiasi partikel, dan awan gas yang juga memancarkan gelombang radio. 


Jadi, bahkan jika alien benar-benar mengirim pesan, kemungkinan besar sinyal itu sudah tenggelam dalam keributan galaksi sebelum sampai ke kita.


Bahkan sinyal manusia pun bernasib sama. Siaran radio dan televisi kita, meski kuat di Bumi, sudah terlalu lemah untuk dikenali hanya dalam jarak beberapa tahun cahaya. 


Bagi alien, pesan kita mungkin tak lebih dari bisikan yang hilang di lautan bintang.


Corbet berargumen, mungkin Fermi benar bahwa kita tidak sendirian, tapi juga benar bahwa semesta terlalu besar untuk memungkinkan pertemuan. 


Alam semesta berusia 14 miliar tahun, sementara Bumi baru beberapa miliar tahun. Bahkan jika peradaban maju bertahan sejuta tahun—angka yang luar biasa—itu tetap hanya kedipan mata dalam waktu kosmik. 


Kita bisa hidup berdampingan dalam waktu berbeda tanpa pernah saling menyadarinya.


Namun, Corbet juga menyebut sisi baiknya, semua bintang di langit—setiap cahaya kecil yang kita lihat di malam hari—masih kosong dan belum diklaim. 


Mungkin kita tidak akan pernah menemukan alien, tapi semesta tetap terbuka luas bagi manusia untuk menjelajahinya sendiri.


Disadur dari Popular Mechanics


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama