Kesadaran Tersembunyi: Pasien Koma pun Tahu yang Terjadi di Sekitarnya

Sebuah studi baru tentang aktivitas otak menunjukkan bahwa seperempat pasien yang tidak responsif mungkin menunjukkan 'kesadaran tersembunyi'.


Pasien koma sekalipun mungkin memiliki kesadaran. (Foto Ilustrasi: rawpixels.com/Freepik)Pasien koma sekalipun mungkin memiliki kesadaran. (Foto Ilustrasi: rawpixels.com/Freepik)


ngarahNyaho - Setelah cedera otak yang parah, seperti trauma atau stroke, pasien dapat memasuki kondisi berhenti merespons rangsangan di lingkungannya, seperti suara, cahaya, rasa sakit, dan instruksi. 


Ini bisa termasuk keadaan koma, seperti tidur nyenyak yang terus-menerus atau keadaan vegetatif, yakni pasien tampak terjaga dan bahkan membuka mata, namun tetap tidak merespons.


Bisa juga pasien dalam keadaan sadar minimal. Pasien bahkan masih dapat melacak gerakan dengan matanya tetapi tidak dapat merespons perintah.


Namun hal ini tidak berarti pasien tidak menyadari apa yang sedang terjadi. 


Selama beberapa dekade terakhir para ilmuwan telah mendeteksi tanda-tanda 'kesadaran tersembunyi' pada beberapa pasien yang tidak responsif. 


Dalam pengujian, pasien diberikan instruksi seperti “bayangkan membuka dan menutup tangan Anda”, sementara aktivitas otak mereka dipantau melalui pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI) atau electroencephalography (EEG).


Benar saja, dalam beberapa kasus, hal ini menunjukkan pengukuran bahwa reaksi cerdas sedang terjadi di otak, bahkan tanpa tanda fisik yang jelas, seperti pasien benar-benar membuka dan menutup tangannya. 


Hal ini menunjukkan bahwa pada beberapa pasien, masalahnya bukan pada kognisi namun pada keterampilan motorik mereka, sehingga menyebabkan kondisi yang disebut disosiasi motorik kognitif.


“Beberapa pasien dengan cedera otak parah tampaknya tidak memproses dunia luarnya,” kata Yelena Bodien, penulis utama studi, seperti dikutip dari New Atlas. 


“Namun, ketika mereka dinilai dengan teknik canggih seperti fMRI dan EEG, kami dapat mendeteksi aktivitas otak yang menunjukkan sebaliknya," lanjut dia. 


"Hasil-hasil ini memunculkan pertanyaan-pertanyaan kritis mengenai etika, klinis, dan ilmiah, seperti bagaimana kita dapat memanfaatkan kapasitas kognitif yang tidak terlihat untuk membangun sistem komunikasi dan mendorong pemulihan lebih lanjut?”


Studi baru ini mengamati 241 peserta dari enam fasilitas berbeda di Amerika, Inggris, dan Eropa, selama 15 tahun terakhir. 


Mereka semua tidak responsif baik dalam keadaan koma, vegetatif, atau sadar minimal, diuji dengan fMRI, EEG, atau keduanya, mulai dari beberapa hari hingga tahun setelah mengalami cedera.


Penelitian ini menemukan, sebanyak 25 persen pasien mampu mengikuti instruksi berulang kali selama beberapa menit. Angka itu lebih tinggi dari perkiraan dalam penelitian sebelumnya, sebesar 15 hingga 20 persen.


Namun studi ini mungkin terdapat variabilitas. Alasannya, data dikumpulkan oleh banyak tim berbeda dalam jangka waktu yang lama dan metode yang digunakan tidak terstandarisasi.


Lebih rumitnya lagi, penelitian ini juga menganalisis 112 peserta lainnya yang dapat merespons instruksi verbal. 


Namun, hanya 38 persen dari pasien ini yang menunjukkan aktivitas otak yang konsisten dengan kesadaran tersembunyi, hal ini menunjukkan bahwa aktivitas otak dan tes untuk menemukannya masih cukup rumit.


Menghasilkan pedoman tentang bagaimana menilai disosiasi motorik kognitif akan menjadi fokus pekerjaan di masa depan, kata tim peneliti tersebut. 


Pemahaman yang lebih baik tentang kesadaran ini dapat meningkatkan hasil bagi pasien, dengan beberapa hasil awal yang menjanjikan dalam memicu kesadaran menggunakan USG atau implan saraf yang tidak jelas.


Hasil penelitian para ilmuwan tersebut dipublikasikan di New England Journal of Medicine. |


Sumber: News Atlas

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama