Mencairnya es di Antartika bisa membuat efek domino dan kerugiannya tak terkira.
Es di Antartika terus mencair, sementara daratan di benua itu pun naik dengan cepat. (Foto Ilustrasi: Jameson/Pexels)ngarahNyaho - Antartika sedang mengalami penurunan 'berat badan'. Akibat mencairnya es, benua tersebut dapat terangkat dari lautan seperti spons yang tadinya terjepit, kini bebas untuk mengembang lagi.
Naiknya daratan itu disebut pengangkatan pasca-glasial, Penelitian terbaru menunjukkan, hal ini akan berdampak besar pada kenaikan permukaan laut global di masa depan.
Kontribusi Antartika bisa turun hingga 40 persen, atau bahkanb bisa jauh lebih buruk. Itu tergantung pada seberapa banyak bahan bakar fosil yang memerangkap panas dan mencairkan es yang kita lepaskan.
“Dengan hampir 700 juta orang tinggal di wilayah pesisir dan potensi kerugian akibat kenaikan permukaan laut mencapai triliunan dolar pada akhir abad ini.
"Memahami efek domino dari pencairan es Antartika sangatlah penting,” kata ahli glasiologi Universitas McGill, Natalya Gomez, seperti dikutip dari Science Alert.
Dalam beberapa tahun terakhir, es Antartika tetap rendah.
Gomez dan rekannya memeriksa mantel bumi di bawah lapisan es Antartika dan menemukan lapisan es tersebut sangat licin di beberapa area utama.
Data seismik mengungkapkan bahwa tingkat kekentalan yang tinggi ini menyebabkan kenaikan permukaan tanah secara cepat dan tidak terduga.
“Pengukuran kami menunjukkan bahwa tanah padat yang membentuk dasar lapisan es Antartika berubah bentuk dengan sangat cepat,” kata ahli geologi Ohio State University, Terry Wilson.
“Pengangkatan tanah akibat berkurangnya es di permukaan terjadi dalam beberapa dekade, bukan ribuan tahun.”
Tim kemudian menggunakan pemodelan 3D untuk mensimulasikan kenaikan permukaan laut akibat perubahan daratan Antartika dalam berbagai skenario.
Jika tingkat pemanasan dijaga tetap rendah, naiknya permukaan air laut hingga 1,7 meter pada tahun 2500, namun kenaikan ini akan mencapai 19,5 meter jika pemanasan global terus meningkat.
Hal ini karena ketika lapisan es menyusut melebihi pengangkatannya, lebih banyak air yang dibuang ke lautan.
Namun jika kita berhasil memperlambat pencairan ini, naiknya daratan akan mengangkat sebagian es dari perairan laut yang lebih hangat, sehingga memungkinkannya bertahan lebih lama.
“Hasil kami semakin mendukung temuan baru-baru ini bahwa pulau-pulau dengan garis lintang rendah dan lokasi pesisir yang sudah terkena dampak kenaikan permukaan laut," kata Gomez.
Ia menjelaskan, daerah-daerah itu mengalami kenaikan permukaan laut yang lebih tinggi dari rata-rata terkait dengan hilangnya es Antartika, terlepas dari skenario hilangnya es tersebut.
“Temuan ini menyoroti ketidakadilan iklim terhadap negara-negara yang emisinya rendah, sementara paparan dan kerentanan mereka terhadap kenaikan permukaan laut tinggi.”
Naiknya permukaan air laut sudah berdampak pada pulau-pulau dataran rendah seperti di Kiribati. Sebagian besar Tarawa Selatan memiliki ketinggian kurang dari 3 meter di atas permukaan laut.
Penduduk telah berusaha menahan air laut dengan karung pasir, namun karung pasir tersebut hanyut awal tahun ini, membanjiri rumah-rumah, dan mencemari tanah tanaman dan sumur air dengan air garam.
Sementara itu, lahan basah terjebak di antara naiknya air dan infrastruktur manusia seperti jalan raya.
Hilangnya ekosistem yang berfungsi menyaring air dan mengendalikan erosi ini berarti kenaikan permukaan air laut yang lebih besar akan berdampak lebih buruk pada wilayah tersebut.
“Mengurangi emisi gas rumah kaca akan memungkinkan kembalinya lapisan es Bumi yang padat untuk memainkan peran yang lebih besar dalam menjaga lebih banyak lapisan es Antartika," kata Gomez.
"(Itu juga) menghindari dampak terburuk dan paling tidak adil dari perubahan iklim di masa depan terhadap garis pantai global,” dia menandaskan.
Hasil penelitian Gomez dan rekan-rekannya itu dipublikasikan di Science Advances. |
Sumber: Science Alert
Posting Komentar